Pernah gak kebayang gimana perasaan dan isi kepala orang yang bekerja sebagai konsultan. Konsultan disini lebih kepada konsultan yang selalu dicurhatin masalah-masalah hidup. Bisa konsultan pernikahan, konsultan keluarga, konsultan jiwa *macam psikolog atau psikiater kali ya? termasuk gak ya?*, sampe ke konsultan percintaan.

Mungkin mirip dengan perkerjaan seorang Customer Service, Technical Support, atau Call Center yang sebagian besar lebih sering dapetin berbagai komplen dari pelanggan dibanding pujian. Pekerjaan mereka lebih bersifat ke menjual jasa dan mementingkan kemampuan berkomunikasi. Dan sepertinya butuh punya sumbu sabar yang panjang, secara mungkin hampir tiap hari bisa ngadepin pelanggan yang tidak puas atau marah-marah.

Bedanya, mungkin kalau CS/TS punya panduan teori tentang produk yang dijualnya, jadi dia akan selalu bisa “mencontek” buku manual untuk memberikan solusi, tinggal tergantung kemampuan komunikasinya yang harus baik. Tapi gimana dengan para konsultan untuk segala permasalahan hidup yang gak ada teori mutlaknya dalam memberikan solusi. Untuk psikolog/psikiater memang mungkin ada ilmu tentang cara berdialog dengan pasien/orang yang bermasalah, dan bagaimana mendiagnosa serta menyembuhkan masalah tersebut. Tapi untuk konsultan yang lain gimana ya? Apa mungkin mereka harus punya latar belakang ilmu psikologi atau ilmu tertentu ya?

Kenapa sih kok aku penasaran soal ini, kebetulan aja pernah menggunakan jasa seorang konsultan yang melayani konsultasi permasalahan keluarga. Kebetulan juga, konsultasi yang aku gunakan lebih bersifat memandang, menghadapi dan menyelesaikan masalah dari sudut agama. Kenapa aku gak ngambil jasa konsultasi yang lebih bersifat umum? Sebenarnya sih bisa aja, tapi aku lebih concern ke hukum syariah yang terkandung di dalamnya, dan lebih mencari “kedamaian”. Pasti kita kalau sedang tertimpa masalah, kita jadi lebih ingin dekat dan memohon pertolongan Sang Khalik pencipta kita kan?

Dari beliau, aku tau bagaimana setiap hari banyak orang yang datang, mengadukan masalah yang sedang dihadapi, berharap dapat di dengar dan diberikan solusi. Gak kebayang juga gimana dia harus dengerin banyak orang curhat tiap hari dengan berbagai macam masalah yang rumit dan harus memberikan solusi yang bisa diterima. Padahal pasti hidup beliau sendiri udah penuh masalah kan. Iya sih, itu resiko pekerjaan dan mungkin juga bisa jadi ladang amal untuk beliau, karena dengan mendengarkan saja udah bikin orang yang curhat itu lega apalagi kalau bisa membantu.

Denger cerita beliau, aku jadi sadar ternyata memang hidup manusia itu penuh dengan masalah dan cobaan. Masing-masing di uji dengan masalah yang berbeda, dan dengan tingkat yang sesuai dengan level keimanan tiap orang. Jadi kita tidak perlu berkecil hati dengan segala ujian yang kita dapatkan.

Nasihat yang beliau berikan sangat membuat perasaan ini menjadi lega. Beliau bilang, setiap masalah yang kita hadapi dan yang kita rasakan sangat berat, sesungguhnya hanya berupa goresan yang dikasih Allah SWT. Janganlah kita berburuk sangka/su’udzon dengan menganggap Allah SWT tidak sayang kepada kita, hamba-Nya. Justru kita harus tetap berbaik sangka dengan terus berharap semoga masalah yang kita hadapi akan cepet selesai dalam waktu dekat.

Segala ikhtiar dan doa kita panjatkan hanya kepada Allah SWT, mohon kemudahan dan kekuatan dalam menghadapi masalah tersebut. Karena setiap ikhtiar akan dicatat dan setiap doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh akan dihijabah oleh Allah SWT. Hanya sabar lah yang akan jadi penolong kita. Beliau juga bilang, kalau nanti di depan pintu surga, malaikat akan mengucapkan salam untuk menyambut hamba Allah SWT yang banyak bersabar selama di dunia.

Yang terpenting, dalam setiap ujian masalah yang kita hadapi, kita hanya berharap dan bergantung pada pertolongan Allah SWT. Tidak masalah jika setiap kita meminta dan berdoa, banyak airmata yang bercucuran, semoga setiap tetes airmata yang keluar saat bermunajat kepada Allah, akan menggerus setiap dosa yang kita punya.

Beliau mencontohkan kisah nabi Ayyub yang diberikan ujian berat oleh Allah, seorang nabi yang kehilangan harta bendanya, anak-anaknya yang meninggal, ditinggal pergi istrinya dan diberikan penyakit parah yang sampai menimbulkan bau dan banyak belatung ditubuhnya, dan itu terjadi selama bertahun-tahun. Tapi nabi Ayyub tidak berkecil hati, beliau tidak goyah imannya kepada Allah, sangat bersabar dan hanya meminta pertolongan Allah SWT agar diberi kekuatan. Hal itu menunjukkan, bagaimana seorang nabi saja, orang yang sangat mulia diberikan ujian berat, dan itu bukan karena Allah tidak sayang kepadanya. Sepantasnya kita manusia biasa, harus bisa mencontoh nabi Ayyub dan nabi-nabi lainnya yang diberikan juga ujian berat oleh-Nya.

Malu rasanya, mendengar semua kisah itu. Sering rasanya kita, aku pribadi juga, berprasangka buruk kepada Allah kalau sedang ditimpa masalah. Banyak mengeluh, sering putus asa, merasa mentok kayak gak ada harapan lagi. Sementara, banyak orang yang punya masalah lebih berat daripada kita dan bisa bersikap sabar dan nerimo banget. Gak gampang emang untuk bisa selalu ikhlas, tapi pak ustad bilang memang manusia harus bisa menerima setiap ujian yang diberikan, karena dengan menerima itulah biasanya akan lebih terasa ringan dan bisa berikhtiar dengan benar.

Salah satu cara untuk bisa menerima adalah dengan bersyukur. Ujian yang diberikan oleh Allah SWT itu sebenernya hanya bagian kecil dari banyak anugerah dan rahmat yang diberikan. Jadi kalau kita sedang sedih, sebaiknya kita bersyukur karena masih banyak nikmat yang kita dapatkan, kita masih sehat, masih bisa bernafas, masih bisa makan, masih bisa beribadah, dan sebagainya. Dan pastinya, Allah masih menutupi aib kita, bagaimana kalau Allah juga membuka segala aib kita, pasti akan terasa lebih berat.

Nah, inilah alasanku untuk memilih berkonsultasi dengan orang yang lebih mengetahui ilmunya dari sisi agama. Karena aku ngerasa kalau sedang mendapat masalah, aku lebih ingin siraman rohani, rasanya jadi lebih gampang masuk dan nerima aja. Harapannya, semoga aku bisa jadi orang yang selalu bisa menerima dengan ikhlas setiap ujian yang diberikan Allah dan bisa bersabar dan berikhtiar hanya di jalan-Nya. Aamiiin.

    2 Responses

  • Indah Kurniawaty says...

    *lap kringet*
    Beraaat banget topik bahasan loe, Rin. Besok gw kalo ada masalah, curhat sama loe deh. Tolong sirami gw dengan kebutuhan rohani ya, Rin.
    Eh tapi sambil nyelurpee ye. *tetep labil*

  • R33n3e says...

    berat ya Ndah? seberat bodi gw yg bohay ini jiahahaha..

    “Tolong sirami gw dengan kebutuhan rohani ya, Rin.” >> kok kenapa kayak istri minta jatah ama lakinya ya..mesum bener ini otak gw hahaha

    ayuk atuh ngumpul2 lagi sambil nyotomi, nyelurpee ato apalah yg penting kebutuhan perut dan mulut terpenuhi :D

Leave a Reply









Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.