Berawal dari niat kepengen punya tabungan untuk beli rumah, dana pendidikan, dana kesehatan, pensiun, liburan, foya-foya, endebre-endebre, tapi untuk memenuhi itu semua punya keterbatasan (baca : pengeluaran lebih banyak dibanding pemasukan), aku mulai melirik info yang berbau financial. Sebelumnya aku cuma tau nabung itu ya pergi ke bank, buka tabungan konvensional atau deposito dan berharap tuh duit gak berkurang malah kalo bisa nambah. Trus utk dana pendidikannya, buka tabungan/asuransi pendidikan yang dijual oleh bank atau asuransi tertentu. Ya segitulah ilmu yang ku punya.

Suatu hari aku nonton acaranya Ligwina Hananto di salah satu channel tipi berbayar *gaya* yang membahas soal financial, terutama untuk keluarga. Aku mulai tertarik karena info yang aku pengen tau, ada semua di situ. Ligwina dengan jargon terkenalnya “Tujuan Lo apa?” mulai membuka minatku untuk lebih peduli sama perencanaan keuangan keluarga yg baik. Emang sih kalo dah mulai ngomongin ini, kyknya bikin stres banget, beban, dan asli bikin mules, tapi drpd kedepannya aku dan si papah mesti kelimpungan tiap bayar sekolah Laras, malah lebih stres kan?

Dari wina, aku tau websitenya qmfinancial.com dan dari situ aku mulai belajar pelan2, mulai dari simulasi menghitung berapa dana yang mesti kita siapkan utk pendidikan, pensiun, darurat dll. Coba aja deh, dan pasti dijamin langsung pucet, keringet dingin, mata berkunang-kunang dan sesak nafas :)). Dari simulasi dan mencatat setiap pengeluaran tiap bulan, aku baru sadar kalau banyak sekali uang yang dikeluarkan untuk memenuhi keinginan, yang jumlahnya sama banyak dengan kebutuhan yang sebenernya dah over. Ternyata aku dan si papah masih belum bisa ngerem keinginan yang sebenernya gak perlu itu *sigh*

Selain buka website qmfinancial, aku juga follow twitternya, dari twitter pula aku ketemu para  finplanner terkenal macam Safir Senduk, Aidil Akbar dengan website FinCheckUp-nya, Prita Ghozie, dsbnya. Mereka sangat memberikan pencerahan tentang ilmu financial dan cara merencanakan keuangan keluarga yang baik. Di twitter pun aku kenalan dengan mak @Lunar_D yang selalu mau dirempongin dengan pertanyaan “bodoh”ku dan memberikan nasehat2 yang sangat ciamik, tengs ya mak :*

Yuk sekarang mari kita coba beberkan satu-persatu poin penting dalam perencanaan keuangan yang sehat, tapi mohon maaf sebelumnya kalau masih banyak kekurangan, karena emang ilmu masih cetek dan perlu banyak belajar. Di sini aku coba tulis apa yang aku tangkap dari hasil membaca dan bertanya, dan yang saat ini jadi hal penting dalam merencanakan keuangan keluargaku. Tiap keluarga bisa beda-beda, tergantung dari target yang ingin di capai yang kalo kata wina, “Tujuan Lo apa?”. Semoga bisa jadi bahan sharing dan silahkan ditambah kalo emang masih kurang :D

 

Dana Darurat

Para finplanner/adviser selalu mewajibkan kita untuk punya Dana Darurat (DD), gunanya adalah untuk digunakan pada saat darurat. Kondisi darurat itu bisa bermacam-macam, kalo aku mengartikannya adalah dana yg akan dipakai untuk melengkapi/nambahin dana yg sudah kita siapkan. Misal : Untuk bayar uang pangkal sekolah, kita dah nyiapin dana 20jeti tp ternyata saat kita mo bayar, uang pangkal naek jd 25jeti. Naah fungsi DD itu utk nutupin kekurangan 5jetinya, tanpa kita susah payah nyari tambahan lagi, ato ganggu pos dana yg lain ato amit2 sampe ngutang *ketokmeja*. Bisa juga kalau kita dalam keadaan darurat, kita punya dana untuk menalanginya.

Dalam menyiapkan DD ternyata ada rumusnya lho, yaitu :

  • 3x pengeluaran bulanan –> single
  • 6x pengeluaran bulanan –> pasangan menikah belum ada anak
  • 9x pengeluaran bulanan –> pasangan menikah dengan anak 1
  • 12x pengeluaran bulanan –> pasangan menikah dengan anak 2
  • dstnya

Jadi, untuk keluargaku yang baru punya Laras, kalo tiap bulan keluar 5jeti, berarti aku harus punya DD 45jeti dalam bentuk dana likuid. Syok gak seh??? *ntar dulu ini baru DD aja*. Trs gimana ya cara ngumpulin dana sebyk itu, jangan sediiihh, ternyata bisa dicicil kok. Ada saran dari para ahli yg bisa kita ikuti, kita dianjurkan nabung tiap bulan 10%-30% dari penghasilan tiap bulan dan mesti disiplin didahulukan sebelum mengeluarkan utk kebutuhan lain. Tapi zakatnya jg mesti duluan ya :) dan kalo ada hutang juga mesti didahulukan utk melunasinya.

Mak Dina ngasih keringanan nih, minimal kita punya 6x pengeluaran aja udah bagus kok. Alhamdulillaaaaah, agak lega nafas ini dapet pencerahan dari beliau ;).Trs kalo penghasilan kita pas2an banget gimana nih, boro2 buat nabung, untuk pengeluaran aja dah mepet, apalagi gaji masih di bawah UMR. Pernah aku tanyakan ini ke mak Dina, sarannya cari kerjaan lain, atau cari tambahan penghasilan, Wina jg pernah bilang gitu. Kalau utk kebutuhan  sepertinya dah gak bisa diganggu gugat lagi, jadi ya begitulah solusinya. Pahit seh ya, tapi kenyataan emang lebih kejam Jendral !! *eh*

DD sebaiknya dalam bentuk likuid, artinya bisa langsung diambil dan digunakan. Dalam mengumpulkan DD, dianjurkan tidak menaruh dalam 1 mangkok saja. Maksudnya, coba di diversifikasi ke berbagai bentuk, contoh : tabungan, deposito dan Logam Mulia (LM), gunanya utk mengurangi resiko berkurangnya jumlah DD, karena tau sendiri kalo cuman ngendon aja di tabungan, biasanya akan habis ama uang admin dan tergerus inflasi negara kita yg 10% itu pertahun *CMIIW*. Sayang kan? Kalo LM walopun ada resiko turun tapi utk naik nilainya cenderung lebih baik dibanding berharap dari bunga bank/deposito.

 

Dana Pendidikan

Sejak hamil Laras, aku dan si papah dah mulai mikirin tentang dana kesehatan dan yang paling utama adalah dana pendidikannya. Kebetulan waktu itu cover kesehatan di kantor ku cmn bisa di klaim buat aku aja, begitu juga kantor si papah. Jadi kita pengen banget cari asuransi yang bisa cover Laras, muncul lah agen UnitLink dr sebuah perusahaan asuransi yg terkenal itu. Kita waktu itu tertarik karena selain bisa klaim kesehatan juga ada investasinya, *ya waktu itu mikir, bisalah utk sambil nyiapin dana pendidikan Laras*. Ternyata setelah dapet pencerahan dr para FP, produk UL itu tidak tepat digunakan utk kita yang punya dana terbatas, karena hasil/return yang di dapat gak sebanding atau tidak bisa meng-cover tujuan atau target kita. Dueeeeng..salah deh :(. Tapi masih untung, ternyata masih mending punya asuransi salah daripada gak punya samsek *menghibur diri*.

Terus gimana ya, cara kita bisa ngumpulin dana pendidikan itu, jalannnya adalah dengan ber-investasi. Selama ini investasi yang aku tau itu cuma main saham, tapi aku gak berani lah untuk nyemplung di dunia itu. Selain gak punya ilmunya, aku gak punya mental kuat utk mantengin trs harga pasar dan harus siap dengan keuntungan yang menggunung dan juga kerugian yang bisa bikin orang jd “sakit jiwa”, ini beneran terjadi tahun lalu *kalo gak salah*. Waktu itu harga saham jeblok akibat gonjang-ganjingnya kondisi ekonomi Amrik dan banyak orang yg merugi karena berinvestasi di saham.

Investasi yang paling common itu setauku ya pake emas, ini ajaran dari orang tua jaman dulu khususnya Mamaku. Dari dulu pertama aku kerja dan dapet gaji pertama, Mamaku selalu menganjurkan aku beli emas khususnya perhiasan. Tapi ya karena waktu itu belum punya pikiran yang maju kayak sekarang *toyor kepala sendiri*, aku gak jalanin tuh titah dari orang tua. Nyesel?? banget…

Berikut macam-macam investasi di mulai dari tingkat resiko kecil dengan return yang kecil, sampai ke tingkat resiko besar dengan return yang besar pula :

  • Deposito
  • Logam Mulia / Emas Batangan (LM)
  • Reksadana
  • Saham

Setiap jenis investasi punya resiko, bahkan tabungan konvensional aja punya resiko dan yg paling jelas adalah tergerus nilainya oleh inflasi. Dalam memilih jenis investasi yang cocok dengan kita jg tidak bisa disamaratakan, tergantung dari target kita. Jadi kalau ada temen yang suka tanya ke aku, investasi mana seh yg bagus dan aman, aku bakal copas kata para FP juga, tergantung tujuannya apa dulu *ceileee macam FP terkenal aja aku ini*.

Aku ambil contoh dari hasil tanya jawab dengan mak Dina aja untuk tujuanku, target investasi untuk dana pendidikan Laras masuk SD. Umur Laras sekarang 3 tahun, untuk masuk SD kira2 butuh waktu 3,5 th lagi, berarti aku hanya punya waktu investasi 2,5th (baru tau juga kl waktu investasi itu mesti dikurangin setaun dr target waktu dibutuhin dananya). Di bawah 3th untuk jenis investasi yang cocok disarankan deposito dan LM. Jadi mulai giatlah aku mengumpulkan LM dan bikin deposito.

Sempat mikir, untuk DD aja mesti nyicil, trs investasi buat dapendnya kapan? *garuk2tanah* Padahal DD pun aku mesti pecah jd bentuk tabungan dan LM. Ternyata diberi keringanan lagi, kalau jumlah DD sudah punya min 30% dari jumlah yang diharuskan, silahkan mulai disambi berinvestasi..Alhamdulillaaaah :).

Lalu, untuk dapend Laras masuk SMP, SMA, Kuliah gimana? *ngos2an*. Untuk target waktu di atas 5th, jenis investasi agresif yg dianjurkan adalah Reksadana Saham. Concern ku selanjutnya adalah biaya utk SMP dulu aja, butuh waktu kira-kira 9th lagi, berarti waktu investasi ku 8th aja. Mulai tertariklah aku beli Reksadana. Berdasarkan saran2 dari para ahli dan senior yang sudah duluan beli RD, aku buka akun di bank Biasa Kaya utk bisa beli RD dengan mudah via I-bankingnya.

Sebelumnya aku juga banyak belajar RD dari hasil gugling dan dari forum FD ini. Baca forum itu jadi tau dikit2 apa yang harus disiapkan dan RD mana yang bagus dibeli. Untuk tau infonya bisa baca di infovesta.com atau di qmfinancial.com

RD sendiri ada beberapa jenis :

  • Reksadana Pasar Uang
  • Reksadana Pendapatan Tetap
  • Reksadana Campuran, untuk target 3-5 th
  • Reksadana Saham, untuk target di atas 5-10th

 

Dana Pensiun

Nah untuk karyawan swasta macam aku dan si papah, jelas gak punya tunjangan pensiun. Kalopun ada itu dari jamsostek, dan jumlahnya pun sedikit. Mau tau berapa seh dana yang mesti disiapkan untuk kita pensiun nanti. Simulasinya ada di sini, untuk aku sendiri kira2 butuh dana Rp. 19,380,585,914.29 *syok lemes*. Nulis ini sambil megap2 dan keliyengan..lebay ya?? tp beneran kok. Jumlah segitu itu sudah dihitung tanpa merubah gaya hidup sekarang, kalopun iya 80% berubah aja :((.

Ini jg dah aku dan si papah pikirin, kita kepengen banget nanti saat tua dan pensiun, gak mau ngerecokin Laras dan adik (insyaAllah) nya nanti. Pengen tetep mandiri, tapi sepertinya untuk mulai ngumpulin dananya jg agak berat sekarang, karena dana yang terbatas dan prioritas kita masih ke dana pendidikan. Mungkin nanti kalo dananya ada, aku coba beli-beli produk RD yang returnnya tinggi dan rutin beli tiap bulan. Untuk sekarang udah coba beli tapi ga mgkn untuk beli tiap bulan deh huhuhuhu.

 

Dana Kesehatan & Asuransi Jiwa

Satu lagi yang jadi concern keluarga ku dan yang dianjurkan oleh FP adalah punya dana kesehatan dan AsJi. Papah sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama harus dilindungi AsJi. Aku kepengen nih mulai cari2 info soal AsJi Term life, karena AsJi ini preminya gak mahal tapi Uang Pertanggungannya (UP) besar, gak kyk UL. Mak Dina dah ngasi beberapa referensi, tp emang aku belum mulai2 juga untuk gerak tanya2 *toyor lagi pala sendiri* Abis nulis ini, aku tekatin ah untuk mulai tanya2 dan mulai itung2 dan harus apply, biar cepet bisa nutup tuh UL.

Untuk Dankes, kata mak Dina ada produk AsJi yang bisa cover kesehatan sekaligus kok. Emang sih, aku masih bisa klaim di kantor untuk reiumburs, dan si papah jg di cover di kantornya. Tapi kalo jumlahnya gak cukup aku pengen buka lagi.

Okay, segini dulu aja aku cuap2 hasil belajar, membaca, dan bertanya masalah financial. Nanti kalo sudah selesai hunting AsJi, aku coba tulis lagi disini.

 


    4 Responses

  • DINA says...

    mak, nambahin dikit ya..
    kalo referensi yg aku punya DD untuk keluarga dgn 1 anak minimal 6bln pengeluaran bulanan, agak beda sama referensi sebelah hehehe..

    tapi ya balik lagi k kalimat sakti gw: teori hanya teori, semua kembali kepada tingkat kenyamanan masing-masing hahaha

  • DINA says...

    semangatttttttttttttttt :D pasti bisa.. *bawa pom pom*

  • R33n3e says...

    Doakan semoga lancar dan sukses ya mak, bimbinglah kami selalu :p

  • R33n3e says...

    Bener mak, cari yg paling nyaman buat kita aja. Ibaratnya kl gw kadang jg suka cari gampang dalam melihat ilmu agama. Dari referensi macam-macam ustadz, ya bisa dipilih yang kira2 lebih nyaman, tapi msh sesuai dgn ilmunya sendiri hehehehe *dasar yak*

Leave a Reply









Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.