Hal yang paling saya ingat tentang masa kecil saya, adalah saat betapa asiknya saya bermain dengan teman-teman. Seperti kebanyakan anak-anak jaman dulu, terutama yang menghabiskan masa kecilnya di tahun 80-an *ya…saya sudah setua itu, hiks*, kami sangat puas sekali bermain.

Selain puas main di sekolah, saya juga puas main di rumah dengan anak-anak tetangga seumuran. Kami bisa main di lapangan, atau di jalan depan rumah. Sebut aja deh, permainan galasin/gobak sodor, petak umpet, petak jongkok, bentengan, main karet dan permainan tradisional lainnya. Selain permainan tersebut, saya suka juga role play bareng teman-teman, seperti main boneka, main masak-masakan yang bener-bener pake bahan yang tersedia di sekitar rumah, kayak daun, biji-bijian, buah bahkan tanah.

Belum lagi, memanjat pohon, biarpun teman-teman pasti naik ke dahan yang lebih tinggi, dan saya tertinggal karena takut ketinggian :D. Main sepeda, main hujan sepulang sekolah, main kasti, bulutangkis dan banyak kegiatan fisik lainnya. Pokoknya, waktu kecil dulu, lebih banyak bergerak aktif sampai keringetan, mainnya juga jorok alias kotor-kotoran sampai nyebur ke got segala.

Jaman dulu, anak-anak memang lebih banyak bermain di luar rumah. Hiburan dan gadget masih sedikit sekali jumlahnya dan faktor keamanan masih kondusif. Ya ada sih, permainan seperti game watch, nintendo, atari dan sebagainya, tapi kan anak-anak yang bisa menikmati permainan itu juga terbatas. Siaran TV aja hanya ada TVRI, kalau mau nonton RCTI yang dulu siarannya lebih bermutu dibanding sekarang, saya harus ke tempat teman yang langganan decoder. Jadi, dulu kalo mau nonton RCTI emang harus langganan decoder, kayak sekarang kita berlangganan TV berbayar, udah gitu biaya bulanannya mahal, at least buat orangtua saya.

Beda banget dengan kehidupan anak-anak sekarang, ya. Sedih deh, kayaknya anak-anak sekarang gak ada yang kenal dengan permainan tradisional. Bahkan, melihat anak-anak yang bermain di luar rumah adalah pemandangan yang jarang sekali terlihat.

Untuk itu, saya senang sekali saat diundang Mommiesdaily, untuk hadir di acara Rinso Blogger Gathering tanggal 12 April 2014, di Cafe Yeyo Senopati. Acara talkshow tersebut membahas tentang pentingnya bermain dan belajar bagi perkembangan anak, serta partisipasi dukungan Rinso yang meluncurkan kampanye #KidsToday Project. Acara tersebut dimulai jam 10 pagi, dipandu oleh Della Sabrina sebagai MC, serta pembicaranya, Psikolog Roslina Verauli dan Mas Satir dari Rinso.

Rinso sangat menyadari bahwa bermain dan belajar itu sangat penting bagi perkembangan anak, dan ini dijadikan sebagai tema project #KidsToday, setelah sebelumnya Rinso meluncurkan kampanye “Berani kotor itu baik” di tahun 2004. Lewat kampanye ini, Rinso mengajak orangtua melihat dunia dari cara pandang terbaru anak-anak.  Untuk mendukung kampanye tersebut, Rinso membuat 4 film pendek yang memperlihatkan kehidupan anak-anak di seluruh dunia saat ini dan peserta yang hadir kemarin, diajak untuk melihat keempat film tersebut. Oiya, filmnya juga sudah ada di Youtube, kok.

Film pertama, memperlihatkan bagaimana anak-anak yang tinggal di perkotaan menjalani keseharian mereka. Anak-anak  yang tinggal di perkotaan di beberapa belahan dunia, mengeluhkan soal macet, kurangnya keamanan, kebisingan dan kurangnya dukungan lingkungan bagi mereka. Mereka sangat menginginkan taman yang banyak di kota tempat mereka tinggal, agar mereka bisa bertemu teman-temannya dan bisa bebas bermain.

Film kedua, bercerita tentang anak-anak yang “sibuk”. Terlihat banget, bagaimana jadwal anak-anak sekarang ini padat sekali, mulai dari pagi sampai malam dan kebanyakan hanya belajar. Setelah sibuk di sekolah, dengan waktu bermain hanya minimal 10 menit, pulang sekolah mereka harus buru-buru sampai di rumah dan kemudian lanjut dengan berbagai les, dan kebanyakan juga les pelajaran. Malamnya mereka masih harus mengulang pelajaran dan mengerjakan PR. Wow, ternyata mereka lebih sibuk dari orangtuanya, ya.

Setelah 2 film ini diputar, kita disadarkan bahwa tuntutan anak-anak sekarang lebih banyak dibandingkan anak-anak jaman dulu. Anak-anak sekarang diharuskan banyak dan sering belajar, tanpa diberikan waktu bermain, dan harus jadi orang yang sukses.

Mbak Vera cerita tentang kasus yang pernah ditemuinya, ada anak yang sering mengeluh pusing dan sakit kepala setiap mau berangkat sekolah. Setelah dilakukan daily monitoring, ternyata si anak ini stress karena kesibukan dan punya jadwal sehari-hari yang penuh sehingga kekurangan waktu istirahat dan bermain. Saat jadwalnya di-review dan diubah dengan memasukkan waktu bermain, kemudian si anak ini berangsur membaik. Berarti, bermain sangat berpengaruh sekali buat anak-anak.

Emang sih, ya, jam sekolah untuk anak-anak di Indonesia itu sekarang dahsyat banget. Jam masuk sekolahnya aja ada yang jam 6.45, karena kebanyakan juga jarak sekolah dari rumah jauh, berangkatnya harus lebih pagi. Gak usah jauh-jauh, anak tetangga sebelah rumah, kelas 3 SD, setiap jam 5.30 sudah berangkat dengan jemputan sekolah, kebayang mesti bangun pagi jam berapa, donk? Belum lagi, mereka harus pulang sekolah jam 2 – 3 sore, dan biasanya dilanjutkan dengan kegiatan ektrakurikuler atau les.

Menurut saya, kalau kegiatan ekstrakurikuler dan lesnya adalah sesuatu yang diinginkan dan dipilih si anak karena hobi dan bakatnya, masih ok aja. Tapi, kalau kegiatan tersebut yang memang dipaksakan oleh orangtua dan si anak jadi merasa terpaksa, efeknya pasti jadi negatif buat si anak.

Mbak Vera juga bilang, kalau saat ini jam pelajaran lebih panjang dibandingkan 10 tahun yang lalu. Dan, banyak orangtua mengira bahwa banyak belajar akan membuat anak lebih berkonsentrasi ke pelajaran, tanpa menyadari bahwa kalau si anak capek justru akan mempengaruhi daya konsentrasinya. Sangat dianjurkan, anak diberikan waktu istirahat dan bermain yang cukup, minimal 15 menit tiap 2 jam.

Di film ketiga, kita ditunjukkan wajah “bermain” nya anak-anak. Apa sih wajah “bermain” itu? Wajah “bermain” adalah ekspresi yang ditunjukkan anak-anak saat bermain. Bagaimana mereka menikmatinya, memenuhi rasa ingin tahu, mencoba hal baru, mengambil resiko, dan dari situlah mereka mendapatkan pengalaman hidup. Ada pertanyaan yang saya bilang jleb banget, sering gak sih, kita melihat ekspresi wajah “bermain”nya anak-anak kita?

Film terakhir adalah film yang saya suka dan bikin saya terharu, mungkin juga dirasakan oleh peserta yang lain. Film ini bercerita tentang bagaimana menjadi anak kecil. Kata mereka, menjadi anak kecil itu tidak mudah, lho. Mereka dipenuhi oleh rasa ingin tahu yang tinggi dan hal itu bisa dipenuhi saat mereka bermain dan mereka sangat butuh bantuan serta dukungan orangtua. Sebagai contoh, saat mereka selesai bermain kotor, orangtua diharapkan bisa membantu mereka untuk bersih-bersih dan agar mereka bisa main lagi.

Kemudian, mbak Vera menunjukkan diagram kegiatan untuk anak-anak usia 2-6 tahun. Bagi anak-anak usia tersebut, mereka harus mempunyai porsi kegiatan tidur 11 – 12 jam, makan 2 jam dan bermain minimal 5 jam. Hmm, jadi mikir, Laras porsinya udah sesuai belum, ya..

5 jam waktu bermain ini, harus seimbang antara bermain aktif dan pasif. Bermain aktif adalah bermain di luar ruangan, dimana anak bisa bebas bergerak. Untuk anak usia sekolah, setidaknya punya waktu 1 jam kegiatan fisik. Sedangkan bermain pasif adalah kegiatan seperti baca buku, nonton TV, bermain gadget. Dan, waktu bermain di sekolah sudah termasuk dalam jatah 5 jam waktu bermain tersebut. Diingatkan oleh mbak Vera, saat bermain pun harus yang memenuhi syarat, Fun, Less Structure dan dipilih sendiri oleh si anak.

Banyak sekali manfaat dari bermain ini, anak bisa belajar tentang ketrampilan bersosialisasi dan bisa mengasah kemampuan eksekutif, yaitu kemampuan seseorang antara lain dalam mempertahankan konsentrasi, fokus di problem solving dan memberikan atensi. Untuk lebih tahu tentang kemampuan eksekutif ini, mbak Vera mengajak beberapa peserta untuk ikut bermain. Saya dan Laras ikut maju dengan sukarela karena penasaran dengan permainannya.

Di permainan tersebut, 3 peserta diberikan masing-masing 1 amplop yang isinya adalah kartu dengan bentuk yang berbeda. Ada yang bentuk lingkaran, segi empat dan saya mendapat yang bentuk persegi panjang. Kami diberikan waktu 2 menit, untuk menemukan benda-benda di sekitar tempat acara berlangsung, yang sama bentuknya dengan kartu yang didapatkan, dan di foto. Yang paling banyak, dialah yang menang. Alhamdulillah, saya dan Laras juara 2 dengan mengumpulkan sebanyak 6 foto benda. Permainannya cukup seru dan kita berdua happy banget. Nah, saat kita happy itulah, kemampuan eksekutif itu akan bekerja secara optimal.

Setelah permainan selesai, mbak Vera kembali menegaskan bahwa tugas kita sebagai orangtua adalah wajib memberikan fasilitas, sarana dan prasarana bagi anak agar bisa bermain. Fasilitas tersebut termasuk waktu orangtua untuk bermain bersama anak, biarpun kita adalah orangtua yang sibuk. Stop jadikan anak sebagai obyek afeksi, dan jadikan mereka sebagai subyek.

Bermain dan belajar bisa berjalan bersamaan dan diarahkan dengan baik. Karena dengan bermain, efek positif yang didapatkan adalah raut wajah anak selalu happy, cerdas dan perkembangannya juga optimal. Sedangkan, kalau anak tidak mendapat waktu bermain yang cukup, efek negatifnya, si anak akan stress, anti sosial dan perkembangannya terganggu. Jadikan ini sebagai slogan, “learn to play, play to learn”.

Satu lagi, jangan halangi anak untuk bermain kotor dengan alasan takut sakit, luka, kotor, jorok. Justru banyak bermain kotor itu banyak belajar, lagipula kalau bajunya kotor kan bisa dicuci pakai Rinso, ya, ibu-ibu :D.

Acara gathering kemarin itu seru banget, dapat hadiah, dapat makan siang gratis dan enak, serta mata saya jadi lebih terbuka dan jadi lebih punya keinginan untuk mengajak Laras lebih banyak bermain terutama main di luar rumah. Effort-nya pasti lebih besar, karena saya sebagai ibunya juga harus melawan rasa malas. Jujur, saya dan ayahnya Laras hanya punya waktu untuk bermain di luar saat weekend atau libur. Sedangkan, untuk orangtua bekerja seperti kami, saat liburan adalah saat yang ditunggu untuk beristirahat atau punya acara lain selain bekerja. Tapi, demi anak memang harus berkorban, donk, ya. Setidaknya kalau tidak pergi ke taman tertentu, kami akan coba ajak Laras untuk lebih rajin jalan pagi di saat libur.

Pas banget, tanggal 16 April kemarin, saya mendampingi Laras ikut jalan-jalan sekolah ke Taman Wisata Matahari Bogor. Di sana Laras happy banget karena dapat pengalaman main air, mandiin kerbau, membajak sawah, main lumpur, dan berlarian sambil menangkap ikan di empang. Kotor dan basah? Pastinya. Tapi, kalau gak begitu, kapan lagi Laras bisa mandiin dan foto bareng kerbau, dan berani pegang ikan hidup. Semua pengalaman itu kan susah dicari di rumah, apalagi di Jakarta yang sudah terlalu banyak molnya dan belum tentu dapat kesempatan itu lagi. Jadi, habis kotor-kotoran, mandi di pancuran, pake baju bersih, dan main lagi deh bareng temen-temen. Ngasih makan ikan, ngasih wortel ke kelinci, main sepeda air, kotor dan keringetan lagi deh :)). Yah, namanya juga anak-anak, ya.

Oiya, Rinso juga membuka Blog Competition dimana para blogger dapat me-review dan menulis tentang ke 4 film pendek #KidsToday Project. Hadiahnya ok, loh. Keterangan lebih lanjut bisa dibaca di forum Femaly Daily, ya. Yuk, ikutan…

 

 Ini dia, salah satu film Kids Today project yang saya suka

 

IMG-20140419-WA0013

Laras lagi ikutan game edukasi yang diadain oleh Mbak Vera, kita cari benda yang bentuknya persegi panjang

 

20140412_162254

Alhamdulillah, hasilnya dapat juara 2 dan dapat hadiah gudibek ini. Gak usah beli Rinso selama 2 bulan kali ya :D

 

With Indah

Foto bareng peserta blogger gathering, Rinso & Mommiesdaily. Picture courtesy of Indah Kurniawaty

Leave a Reply









Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.