gambar diambil dari sini

Kalau yang dibayangkan dari istilah Breastfeeding Father itu kyk gambar di atas, serem juga ya bok ;)). Breastfeeding father sebenernya cuman istilah aja buat para ayah/bapak/papa/papi yang sangat mendukung program menyusui si ibu untuk bayinya. Dukungan di sini bukan cuman moral semata, tapi juga berupa dukungan secara konkrit berupa perhatian dan perbuatan.

Di keluarga kecil kami, papah Dicky (suamiku) bisalah di sebut sebagai Breastfeeding Father, kalau menurutku ya *GeEr tingkat tinggi*. Bagi kami, aku dan Laras, papah Dicky sangat membantu sekali dalam program menyusui Laras selama hampir 3 tahun, bahkan lebih. Karena dukungannya sudah ada sejak aku hamil Laras.

Awalnya sama seperti aku, dia juga tidak mengenal ASIX, MPasi, ASI hingga 2 tahun dan sebagainya, ya mungkin hanya tahu kalau nanti Laras lahir ya disusui, tapi hanya itu tok. Setelah aku mengenal lebih dulu dan berniat untuk ASIX, aku mulai mengenalkan juga ke suamiku. Biasanya aku akan mem-forward artikel atau email yang berhubungan dengan program ASIX dan akan membahas bareng. Mulai dari apa sih itu ASIX, cara memerah/memompa, menyimpan ASIP, relaktasi, nipple crack dll. Waktu itu sih tanggapannya cuman iya-iya aja atau komentar “ooowwww” dan kesannya cuek *emang aslinya gitu, cuek bebek tapi perhatian kok :D*. Tapi pada prakteknya setelah Laras lahir, sangat mengejutkan dan mengharukan sekali, papah Dicky sangat mau membantu dan mendukung 100% istrinya ini.

Dukungan pertama kali yang sangat berarti buatku adalah saat dia bilang “setuju” akan niatku memberikan ASI utk Laras, dengan begitu rasanya sudah terbuka jalan walaupun aku belum tahu kesulitan apa yang akan aku hadapi nantinya. Malah dia juga ikut membantu menyampaikan niatku ke orangtuaku dan ke mertua, ya kalau ke mertua emang lebih baik dia sendiri yang lebih aktif, karena biasa ya..udah bukan rahasia umum lagi soal konflik kecil antara menantu-mertua. Bukan berarti ada masalah dengan mertuaku, tapi untuk menjaga kondisi aja, mungkin kalau anaknya sendiri yang menyampaikan lebih enak jadinya. Hal itu seterusnya berlaku saat di tengah misi ASIku ada hal-hal yang mertua kurang setuju atau beliau tidak begitu tahu, contohnya aja mertua tidak tahu kalau ternyata ASI itu bisa disimpan dan sebenarnya gak ada istilah ASI basi. Mamaku sendiri juga gak tahu lho, jadi aku juga punya PeEr untuk menjelaskannya. Alhamdulillah, orangtua dan mertua yang tadinya ragu dan gak yakin Laras bakal bisa ASI 2 tahun atau yang tadinya merasa Laras kurang susunya kalau ASI tok, kelamaan mereka jadi mendukung dan malah menyayangkan kalau terlalu cepat disapih :D.

Dukungan lainnya, suamiku kadang nemenin begadang di bulan-bulan pertama setelah Laras lahir, tapi itu juga kadang suka ketiduran sih ;)). Yang paling mengharukan buatku adalah saat aku merasa patah semangat karena aku dan Laras masih belajar menyusui, jadi sering sekali kegiatan menyusui terasa sangat menyiksa buatku dan Laras sendiri. Posisi yang gak bener dan gak enak, sementara Larasnya nangis karena dah kelaperan, suamiku akan tetap menyemangati dan membantu bikin posisiku enak atau menenangkan Laras.

Sempat suatu malam, aku sudah merasa sangat-sangat capek kepengen tidur, sementara Laras rewel minta disusui. Sambil menyusui Laras, suamiku membantu memompa ASI di payudara satunya, waktu itu dia bilang, “di pompa aja ASInya, ntar disimpen, jadi nanti kalau Laras bangun, mas yang ngasi ASIPnya dr botol, mamah bisa bobok” ..kalau sekarang inget rasanya nyeeess banget :(. Terus berhasil gak ide dia berjalan? Gak sama sekali. Waktu itu karena aku beli pompa elektrik yang salah, jadinya bikin payudara sakit dan ASI yang keluar dikit banget :(. Dan suamiku terlihat sedih dan cemas banget, karena maksud dia untuk membantuku kok gak bikin hasil berarti. Jadinya ya malam itu begadang lagi.

Saat yang paling genting sih ya waktu nipple ku luka parah akibat menyusui, bener-bener luka sampe kroak bentuknya amburadul dan berdarah terus, untungnya gak sampe bernanah. Nah, waktu itu kegiatan menyusui rasanya bener2 perjuangan dan aku membutuhkan nipple shield untuk mengurangi rasa sakitnya saat menyusui. Dan yang membelikan nipple shield susah payah ke ITC kuningan, ya si Papah. Sampai ada salah satu toko baby di sana J****e, udah apal sama suamiku, karena selama cuti melahirkan aku gak sempet keluar beli-beli peralatan bayi yang kurang. Aku minta tolong si Papah untuk membelikan saat pulang kantor, beli breatpump minel Medela, nipple shield dan peralatan lainnya yang baru berasa dibutuhkan setelah Laras lahir. Waktu nippleku luka itu, aku menyusui sambil nangis, nahan sakit, gigit anduk karena pengen banget teriak kesakitan *cengeng yak :D*. Suamiku dengan wajahnya yang melas, ngipasin dan ngelap keringetku, karena emang waktu nahan sakit itu, keringet bercucuran. Udahan menyusui, aku bakal nangis meluk si Papah karena ga tahan sakitnya, pelukan dan belaiannya sangat menghiburku *ceileeeee*

Program ASIX sukses dijalani dengan mengucap syukur Alhamdulillah, selanjutnya meneruskan dengan MPasi dan ASInya. Papah Dicky juga tetap mendukung Laras menyusui sampai kapanpun, masih dengan dukungan moral dan bantuannya. Mau menyuapi Laras makan, membantu menghangatkan ASIP, bahkan menyusui Laras pake softcup saat aku menikmati “Me Time” ke salon atau sekedar keluar rumah sebentar.

Ketika Laras hampir 2 tahun, aku mulai menyiapkan Laras untuk di sapih. Waktu itu, aku suka ngajak ngobrol Laras dan memberikan pengertian kalau Laras sebaiknya sudah tidak nenen lagi. Suamiku juga ikut nimbrung ngasi pengertian Laras. Tapi kenyataannya aku masih belum bisa menyapih Laras, dia juga tidak komplen, masih mendukung saja apa yang aku lakukan pada program ASI untuk Laras ini. Sampai Laras menjelang 3 tahun, dan aku benar-benar menguatkan niat dan menjalankan Weaning with Love ke Laras, si Papah juga mendukung, membantu menenangkan Laras yang rewel minta nenen. Untungnya rewelnya Laras cuman sebentar, dan dia memang sudah siap di sapih. Suamiku juga selalu bilang kalau mama tetap sayang Laras walaupun Laras gak nenen lagi.

Alhamdulillah sekali banyak orang yang sangat mendukung aku dalam kegiatan menyusui di sekitarku, terutama sekali suami. Memang benar apa yang sering dibilang kalau peran suami dalam mendukung istri menjalankan program menyusui itu penting banget, dan aku sangat merasakannya. Tidak semua suami/ayah bisa seperti itu, dan ini memang kejadian nyata, karena ada temanku yang bilang, kegagalan dia dalam memberikan ASIX untuk anaknya ya salah satunya karena suaminya tidak aktif mendukung, bahkan seperti mematahkan semangat sang istri untuk ASIX :(. Dan suamiku sekarang tidak hanya berhenti dalam mendukung pemberian ASI hanya karena Laras udah gak nenen lagi, dia suka mempromokan ASI ke teman-temannya yang baru punya newborn atau yang sedang hamil. Ilmu-ilmu ASI yang dia punya dan dia tahu, dibagi ke teman-temannya itu. Mudah-mudahan sih kalau man to man gitu lebih masuk ya ngobrolnya, jadi diharapkan makin banyak suami/ayah yang mengerti dan mendukung istrinya 100% dalam memberikan ASI ke anaknya. Ya, istilahnya kan lebih baik memulai dari lingkungan sendiri dan terdekat kita.

Salam ASI !! :)

    One Response

  • rubiyanto19 says...

    betul, memulai dari lingkungan sendiri dan terdekat kita

Leave a Reply









Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.