Saya sering dengar atau baca tentang keistimewaan yang diberikan Alloh SWT kepada hamba-Nya yang bergembira menyambut bulan Ramadan.

“Barang siapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadan, maka Alloh SWT akan memasukkan sang hamba ke dalam surga-Nya”

Wow, cuman dengan punya perasaan happy dan semangat menyambut bulan Ramadan, kita dapat priviledge buat masuk surga. Kenapa? Disebutkan, dengan bergembira menyambut Ramadan, bisa mencerminkan keimanan kita. Secara, bulan Ramadan adalah bulan yang suci dimana setiap ibadah kita dibalas pahala berlipat-lipat dan banyak nikmat yang bisa kita dapat.

Mudah-mudahan kita semua termasuk hamba yang bergembira menyambut Ramadan, ya…

Tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, kepengen banget bisa berpuasa full, inshaa Allah. Ibadah sekeluarga lancar, sehat dan level keimanan makin meningkat setelah melewati bulan Ramadan. Aamiin. Niatnya, bisa lebih mengenalkan puasa ke Laras, en Laras bisa berpuasa dengan lebih baik di tahun ini. Tahun kemarin, Laras masih bolong-bolong puasanya dan lebih banyak absennya hehehe.

Alhamdulillah, di acara Berlian bulan Juni 2015, bisa ketemu lagi sama bu Elly Risman. Bulan ini temanya sesuai banget, bertepatan dengan akan datangnya bulan Ramadan. Temanya : Menyiapkan diri ibadah Ramadan yang berkualitas untuk keluarga.

Kemarin, saya & mas Dicky datang agak terlambat karena sholat Subuh dulu di rumah. Sempet muter-muter lewat jalan tikus karena jalan utama ditutup akibat renovasi jembatan di depan komplek IKIP Jatibening. Untungnya gak telat-telat amat sih, jadi masih dapat bahasan utamanya.

Saya mencoba merangkum slide dan penjelasan bu Elly sesuai daya tangkap plus isi memory otak, yang mulai agak suka dong-dong, seperti dibawah ini.

Ibu Elly menerangkan, saat ini kebanyakan kondisi orangtua :

  • Kurang memahami kapan sebaiknya anak diperkenalkan dan diajarkan untuk berpuasa
  • Sering memaksakan kehendak dan menuntut anak bisa puasa, tanpa persiapan yang memadai atau
  • Tidak tega membiarkan anak berpuasa

 

Ini bener banget, ngaku banget kalo saya & suami termasuk golongan orangtua di atas.

Kenapa sih sebenarnya anak diajarkan untuk berpuasa ?


Baca selanjutnya »

Sekolah Laras tahun ini punya program Berlian, singkatan dari Bersama Elly Risman Live in AlMarjan. Sebuah program yang bertujuan untuk sharing ilmu Parenting ke orangtua, baik wali murid AlMarjan ataupun umum. Acara Berlian ini diadakan di Ahad pertama setiap bulan, ba’da Subuh. Peserta dianjurkan sholat Subuh berjamaah dulu, bareng ibu Elly juga tentunya. Asiknya lagi, acara ini free alias gretong.

Karena gretong, saya seneng en semangat banget buat ikutan. Biar kata udah beberapa kali ikut seminar parenting yang diisi sama bu Elly, karena fee-nya lumayan, biasanya ikut sendirian aja. Hasilnya baru di-share ke mas Dicky. Kali ini, saya ajak mas Dicky juga buat sama-sama belajar. Alhamdulillah, beliau mau, next Berlian, mau nyoba ajak Mama juga, ah.

Berlian perdana diadakan tanggal 11 Januari kemarin, kebayang donk udah berapa lama draftnya ngendon, hihihi. Ternyata pesertanya lumayan juga, yang non AlMarjan juga banyak. Cuman, waktunya aja kemarin kelamaan karena ada formalitas pembukaan acara dari walkot Bekasi dan dari yayasan.

Untuk tema perdananya adalah tentang “Membangun komunikasi baik, benar, dan menyenangkan dalam pengasuhan anak”.

Ini jleb banget buat kami, apalagi saya. Ngaku banget deh, masih sering salah cara saya berkomunikasi ke Laras, dan itu gak dipikirin efek kedepannya, huhuhu. Sumbu sabar saya emang pendek banget, mesti banyak belajar menahan diri.

Biar gak lupa sama apa yang udah disampaikan bu Elly, saya coba posting aja poin-poinnya di sini.

Jadi, yang namanya kekerasan terhadap anak itu, gak cuman fisik aja, yang lebih parah adalah kekerasan verbal dan emotional. Ini bisa termasuk cara orangtua yang suka bentak-bentak, nyinyir ke anak, nyepelein dan sebagainya. Efeknya nanti adalah anak bakal suka iri dan akan melakukan hal yang sama ke orang lain.

Orangtua seringkali  banyak keliru dalam berkomunikasi dengan anak, antara lain :

  • Bicara buru-buru. Nah, ini bener banget, apalagi kalau pagi hari. Kemrungsung mesti nyiapin anak berangkat sekolah dan persiapan kita sendiri yang harus bekerja.
  • Tidak kenal diri sendiri
  • Lupa : masing-masing anak itu unik. Banyak orangtua yang suka bandingin anak dengan sibling-nya atau dengan temannya.
  • Perbedaan : needs & wants. Banyak hal yang tidak sempat dan terabaikan.
  • Tidak baca bahasa tubuh. Ini juga sering dilakukan oleh orangtua. Misalnya anak udah pasang muka bete atau sedih, habis disetrap di kelas karena lupa bawa PR, ortu langsung menyalahkan, dan bilang “makanya…” atau “tuh, kaaan”
  • Tidak dengar perasaan.
  • Kurang mendengar aktif
  • Menggunakan 12 gaya populer : memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, mencap, mengancam, menasehati, membohongi, menghibur, mengkritik, menyindir, menganalisa


Baca selanjutnya »