Saya pernah membaca sebuah artikel di Mommiesdaily, yang berjudul Breastfeeding is Worth Fighting For. Dari baca judulnya aja, hati saya udah bergetar. Begitu saya baca isi artikelnya, saya sangat sependapat dan mulai ikut sedikit banyak berkampanye sehat, dalam menyukseskan ASIX ke temen-temen/orang-orang terdekat, yang akan atau sedang berjuang dengan program ASIX-nya.

Saya sendiri sudah selesai bertugas memberikan ASI ke Laras, saat membaca artikel tersebut. Laras resmi disapih dan berhenti menyusu, pada tanggal 3 Februari 2011, di usianya yang menjelang 3 tahun. Dan, memang benar, saat kita udah gak menyusui lagi, kita akan kangen banget masa-masa itu, begitulah yang saya rasakan sekarang.

Perjalanan dan proses menyusui Laras, bisa dibilang susah-susah gampang. Sama aja dengan kisah ibu-ibu menyusui yang lain, saya mengalami kesulitan dalam menyusui di awal-awal kelahiran Laras. Sebut aja, ASI keluar sedikit di awal, puting lecet, payudara bengkak sampai saya demam, Larasnya yang “ngamuk” karena belum pintar menyusu, proses memerah ASI yang salah, belum lagi kadang-kadang orangtua/saudara/orang lain yang manas-manasin dengan mitos, yang sukses bikin saya tambah down, dan lain sebagainya.

Untung aja, suami sangat mendukung saya dalam memberikan ASI. Jadi, tiap saya merasa “capek” dengan masalah yang ada, suami akan membangkitkan lagi semangat saya, dan bersama-sama kami akan mencari solusinya. Setuju banget, agar suami menjadi ayah asi, kita sebagai istri harus mulai duluan meng-edukasi suami tentang ASI. Dulu, saat saya hamil, saya selalu berbagi cerita dan artikel tentang ASI ke suami. Awalnya sih, tanggapan suami hanya “ogitu..” atau “ok”, agak sebel, kesannya kayak gak tertarik sama sekali. Tapi, saat dibutuhkan, ternyata suami jadi orang nomor 1 yang mendukung saya :).

Setelah, masalah-masalah awal terlewati, saya mulai menikmati masa menyusui, apalagi saya mendapat cuti tambahan selama 3 bulan, lebih tepatnya saya ambil cuti di luar tanggungan kantor, sehingga saya dapat total cuti jadi 6 bulan. Di masa cuti itu juga, saya mulai memompa dan belajar manajemen penyimpanan ASIP. Kebetulan saya gak bisa memerah ASI secara manual, jadi cari jalan praktisnya aja dengan memompa menggunakan medela mini electric yang tersohor di kalangan busui :D.

Alhamdulillah, saat saya kembali lagi untuk bekerja, stok ASIP buat Laras mencukupi. Tapi, tetep aja, saya pernah mengalami yang namanya kejar tayang ama persediaan ASIP. Pernah juga ngerasa bosen dengan rutinitas mompa-memompa ASI, apalagi saya waktu itu bisa 3x sehari mompa di kantor, belum lagi mesti mompa di rumah. Yang bikin males itu, saya juga mesti mompa ASI di waktu wiken, padahal kan lebih enak itu kalo anak menyusu langsung kan ya? Kalo udah begitu, saya cari dukungan dari busui-busui senasib atau melihat foto dan video Laras, biar keluar lagi semangatnya, sekaligus munculin LDR-nya.

Setelah sukses ASIX 6 bulan, dilanjutkan dengan MPASI, Laras tetep menyusui sampai umur setahun. Saya coba memberikan susu UHT, tapi Laras menolak, baru di umur 15-16 bulan, akhirnya Laras mau konsumsi ASI + susu UHT. Saya terus memompa ASI di kantor sampai umur Laras 22 bulan, setelah Laras mau minum susu UHT di siang hari saat saya bekerja. Dia baru menyusu langsung, setelah saya pulang kantor dan saat wiken.

Niat menyapih di usia 2 tahun pas, gagal terlaksana karena ternyata saya dan Laras belum siap lahir batin :). Setelah 2 tahun, kegiatan menyusui hanya seperti pengantar tidur aja buat Laras. Akhirnya, saya membulatkan tekad, untuk menyapih Laras, beberapa hari sebelum Laras ulang tahun yang ke 3. Alhamdulillah, proses menyapih berjalan lancar tanpa terlalu banyak air mata.

Semua perjuangan yang saya dan Laras lakukan selama hampir 3 tahun, sangat bermanfaat dan sepadan dengan hasilnya sekarang. Semua cerita dan teori yang saya baca/dengar tentang manfaat menyusui dan ASI, dirasakan juga oleh saya dan Laras. Saya tidak pernah menyesal dan dengan senang hati bersedia melakukannya lagi untuk adiknya Laras kelak. Semoga, nanti saat saya harus menyusui lagi, saya juga diberikan banyak kemudahan dalam melakukannya. Amiiiin ;)

 

gambar diambil dari sini

Kalau yang dibayangkan dari istilah Breastfeeding Father itu kyk gambar di atas, serem juga ya bok ;)). Breastfeeding father sebenernya cuman istilah aja buat para ayah/bapak/papa/papi yang sangat mendukung program menyusui si ibu untuk bayinya. Dukungan di sini bukan cuman moral semata, tapi juga berupa dukungan secara konkrit berupa perhatian dan perbuatan.

Di keluarga kecil kami, papah Dicky (suamiku) bisalah di sebut sebagai Breastfeeding Father, kalau menurutku ya *GeEr tingkat tinggi*. Bagi kami, aku dan Laras, papah Dicky sangat membantu sekali dalam program menyusui Laras selama hampir 3 tahun, bahkan lebih. Karena dukungannya sudah ada sejak aku hamil Laras.

Awalnya sama seperti aku, dia juga tidak mengenal ASIX, MPasi, ASI hingga 2 tahun dan sebagainya, ya mungkin hanya tahu kalau nanti Laras lahir ya disusui, tapi hanya itu tok. Setelah aku mengenal lebih dulu dan berniat untuk ASIX, aku mulai mengenalkan juga ke suamiku. Biasanya aku akan mem-forward artikel atau email yang berhubungan dengan program ASIX dan akan membahas bareng. Mulai dari apa sih itu ASIX, cara memerah/memompa, menyimpan ASIP, relaktasi, nipple crack dll. Waktu itu sih tanggapannya cuman iya-iya aja atau komentar “ooowwww” dan kesannya cuek *emang aslinya gitu, cuek bebek tapi perhatian kok :D*. Tapi pada prakteknya setelah Laras lahir, sangat mengejutkan dan mengharukan sekali, papah Dicky sangat mau membantu dan mendukung 100% istrinya ini.

Dukungan pertama kali yang sangat berarti buatku adalah saat dia bilang “setuju” akan niatku memberikan ASI utk Laras, dengan begitu rasanya sudah terbuka jalan walaupun aku belum tahu kesulitan apa yang akan aku hadapi nantinya. Malah dia juga ikut membantu menyampaikan niatku ke orangtuaku dan ke mertua, ya kalau ke mertua emang lebih baik dia sendiri yang lebih aktif, karena biasa ya..udah bukan rahasia umum lagi soal konflik kecil antara menantu-mertua. Bukan berarti ada masalah dengan mertuaku, tapi untuk menjaga kondisi aja, mungkin kalau anaknya sendiri yang menyampaikan lebih enak jadinya. Hal itu seterusnya berlaku saat di tengah misi ASIku ada hal-hal yang mertua kurang setuju atau beliau tidak begitu tahu, contohnya aja mertua tidak tahu kalau ternyata ASI itu bisa disimpan dan sebenarnya gak ada istilah ASI basi. Mamaku sendiri juga gak tahu lho, jadi aku juga punya PeEr untuk menjelaskannya. Alhamdulillah, orangtua dan mertua yang tadinya ragu dan gak yakin Laras bakal bisa ASI 2 tahun atau yang tadinya merasa Laras kurang susunya kalau ASI tok, kelamaan mereka jadi mendukung dan malah menyayangkan kalau terlalu cepat disapih :D.

Dukungan lainnya, suamiku kadang nemenin begadang di bulan-bulan pertama setelah Laras lahir, tapi itu juga kadang suka ketiduran sih ;)). Yang paling mengharukan buatku adalah saat aku merasa patah semangat karena aku dan Laras masih belajar menyusui, jadi sering sekali kegiatan menyusui terasa sangat menyiksa buatku dan Laras sendiri. Posisi yang gak bener dan gak enak, sementara Larasnya nangis karena dah kelaperan, suamiku akan tetap menyemangati dan membantu bikin posisiku enak atau menenangkan Laras.

Sempat suatu malam, aku sudah merasa sangat-sangat capek kepengen tidur, sementara Laras rewel minta disusui. Sambil menyusui Laras, suamiku membantu memompa ASI di payudara satunya, waktu itu dia bilang, “di pompa aja ASInya, ntar disimpen, jadi nanti kalau Laras bangun, mas yang ngasi ASIPnya dr botol, mamah bisa bobok” ..kalau sekarang inget rasanya nyeeess banget :(. Terus berhasil gak ide dia berjalan? Gak sama sekali. Waktu itu karena aku beli pompa elektrik yang salah, jadinya bikin payudara sakit dan ASI yang keluar dikit banget :(. Dan suamiku terlihat sedih dan cemas banget, karena maksud dia untuk membantuku kok gak bikin hasil berarti. Jadinya ya malam itu begadang lagi.

Saat yang paling genting sih ya waktu nipple ku luka parah akibat menyusui, bener-bener luka sampe kroak bentuknya amburadul dan berdarah terus, untungnya gak sampe bernanah. Nah, waktu itu kegiatan menyusui rasanya bener2 perjuangan dan aku membutuhkan nipple shield untuk mengurangi rasa sakitnya saat menyusui. Dan yang membelikan nipple shield susah payah ke ITC kuningan, ya si Papah. Sampai ada salah satu toko baby di sana J****e, udah apal sama suamiku, karena selama cuti melahirkan aku gak sempet keluar beli-beli peralatan bayi yang kurang. Aku minta tolong si Papah untuk membelikan saat pulang kantor, beli breatpump minel Medela, nipple shield dan peralatan lainnya yang baru berasa dibutuhkan setelah Laras lahir. Waktu nippleku luka itu, aku menyusui sambil nangis, nahan sakit, gigit anduk karena pengen banget teriak kesakitan *cengeng yak :D*. Suamiku dengan wajahnya yang melas, ngipasin dan ngelap keringetku, karena emang waktu nahan sakit itu, keringet bercucuran. Udahan menyusui, aku bakal nangis meluk si Papah karena ga tahan sakitnya, pelukan dan belaiannya sangat menghiburku *ceileeeee*

Program ASIX sukses dijalani dengan mengucap syukur Alhamdulillah, selanjutnya meneruskan dengan MPasi dan ASInya. Papah Dicky juga tetap mendukung Laras menyusui sampai kapanpun, masih dengan dukungan moral dan bantuannya. Mau menyuapi Laras makan, membantu menghangatkan ASIP, bahkan menyusui Laras pake softcup saat aku menikmati “Me Time” ke salon atau sekedar keluar rumah sebentar.

Ketika Laras hampir 2 tahun, aku mulai menyiapkan Laras untuk di sapih. Waktu itu, aku suka ngajak ngobrol Laras dan memberikan pengertian kalau Laras sebaiknya sudah tidak nenen lagi. Suamiku juga ikut nimbrung ngasi pengertian Laras. Tapi kenyataannya aku masih belum bisa menyapih Laras, dia juga tidak komplen, masih mendukung saja apa yang aku lakukan pada program ASI untuk Laras ini. Sampai Laras menjelang 3 tahun, dan aku benar-benar menguatkan niat dan menjalankan Weaning with Love ke Laras, si Papah juga mendukung, membantu menenangkan Laras yang rewel minta nenen. Untungnya rewelnya Laras cuman sebentar, dan dia memang sudah siap di sapih. Suamiku juga selalu bilang kalau mama tetap sayang Laras walaupun Laras gak nenen lagi.

Alhamdulillah sekali banyak orang yang sangat mendukung aku dalam kegiatan menyusui di sekitarku, terutama sekali suami. Memang benar apa yang sering dibilang kalau peran suami dalam mendukung istri menjalankan program menyusui itu penting banget, dan aku sangat merasakannya. Tidak semua suami/ayah bisa seperti itu, dan ini memang kejadian nyata, karena ada temanku yang bilang, kegagalan dia dalam memberikan ASIX untuk anaknya ya salah satunya karena suaminya tidak aktif mendukung, bahkan seperti mematahkan semangat sang istri untuk ASIX :(. Dan suamiku sekarang tidak hanya berhenti dalam mendukung pemberian ASI hanya karena Laras udah gak nenen lagi, dia suka mempromokan ASI ke teman-temannya yang baru punya newborn atau yang sedang hamil. Ilmu-ilmu ASI yang dia punya dan dia tahu, dibagi ke teman-temannya itu. Mudah-mudahan sih kalau man to man gitu lebih masuk ya ngobrolnya, jadi diharapkan makin banyak suami/ayah yang mengerti dan mendukung istrinya 100% dalam memberikan ASI ke anaknya. Ya, istilahnya kan lebih baik memulai dari lingkungan sendiri dan terdekat kita.

Salam ASI !! :)

Sudah hampir 3 minggu sejak tanggal 3 Februari 2011 lalu, Laras bebas nenen dan berhasil di sapih..yaayy *jijingkrakan*. Akhirnya menjelang ulang tahun yang ke 3, berhasil juga aku menguatkan tekad dan niat untuk mulai menyapih Laras. Sebelumnya udah kepikiran untuk menyapihnya sejak lama, bahkan sejak Laras ultah ke 2. Tp entah kenapa rasanya belum tega dan masih menikmati masa-masa indah menyusui. Sebenernya ada rasa egois juga di hati, kepikiran kalau menyapih Laras pasti bakal mengurangi waktu tidurku karena pasti Laras jadi susah bobok :D.

Setelah berkonsultasi dengan teman-teman yang sudah punya pengalaman menyapih, khususnya pengalaman mak Ira yang sudah duluan berhasil menyapih Nadira, aku mulai berani untuk mencoba. Mak Ira juga menyarankan mulai menyapih di waktu aku libur kerja atau ambil cuti sekalian, jadi kalaupun terganggu jam tidurnya, aku gak bakalan ngantuk atau kecapekan. Makasi banget ya mak Iraaaaa :*. Akhirnya, aku mulai melaksanakan misi itu tanggal 3 Februari tepat di hari libur Imlek.

Sebenarnya, Laras sejak umur 2 tahun lebih sudah berkurang frekuensi menyusunya. Laras menyusu hanya waktu mau bobok saja, bobok siang saat aku tidak bekerja dan malam. Selain itu sudah bisa minum susu UHT di gelas atau susu kotak UHT yang kecil. Sebelum ulang tahun ke 2, Laras sudah aku “doktrin”, aku selalu bilang kalau Laras sudah besar, bukan bayi lagi, seharusnya Laras gak nenen lagi. Tapi doktrin itu selalu di “bantah” Laras dan dia selalu bilang kalau Laras masih bayi :)). Dikarenakan anak dan mamahnya belum siap lahir bathin, jadinya gatot deh misi menyapih sejak tahun lalu hehehe.

Dengan berkurangnya frekuensi menyusu Laras, aku jadi berpikir sebenarnya mungkin Laras sudah siap, dia hanya ingin lama bermanja-manja saja ke mamahnya, merasakan didekap dan dibelai rambutnya. Jadi tinggal akunya yang harus menyiapkan mental, karena memang proses menyapih dengan cinta atau weaning with love itu butuh kesiapan dari si ibu dan si anak. Aku ingin masa menyusui itu jadi kenangan indah buat aku dan Laras, bukan masa yang menimbulkan trauma di memori Laras.

Proses menyapih dimulai saat Laras mau bobok siang, waktu itu dia sudah siap-siap posisi dan minta nenen ke aku. Aku sudah bilang sejak pagi kalau siang dan nanti malamnya, Laras bobok gak pakai nenen. Dianya sih menanggapi dengan ketawa-tawa, dikiranya aku bercanda jadi dianya juga iya-iya aja. Laras bisa melewati bobok siang hari itu tanpa nenen walaupun butuh waktu lama, dia gak banyak protes, mungkin karena sudah terbiasa bobok siang sendiri saat aku tinggal kerja. Tapi malam harinya itu yang lumayan bikin aku juga ikutan nahan diri buat mewek. Waktu aku bilang Laras gak nenen, Laras langsung protes, merayu aku sekuat tenaga, narikin bajuku, gelisah, dan nangis sampai ngambek. Aku berusaha tetap tenang, sabar dan memberi pengertian. Aku juga menawarkan membelai rambutnya, memeluk dan menepuk pantatnya, istilahku pok-pok pantat. Laras masih saja gak mau dan terus nangis sampai akhirnya menyerah minta di pok-pok, lama kelamaan dia tertidur juga. Begitu Laras bobok, aku langsung merasa sedih mau nangis, rasanya kasihan sekali gak tega bener ke Laras.

Malam penuh rengekan, rayuan, ambekan berlangsung sampai 5 hari. Untungnya gak terlalu pengaruh ke porsi tidurku dan Laras. Kalau Laras malam-malam ngelilir minta nen juga gak terlalu susah untuk dia bobok lagi. Semakin hari Laras sudah mulai terbiasa, jadi mulai ada kebiasaan baru sebelum bobok selain berdoa, Laras biasanya minta dibacain buku cerita, dinyanyiin lagu anak yang dia sesuai list dari dia,  sampai minta dipeluk, dibelai rambutnya dan di pok-pok pantatnya. Oiya satu lagi kebiasaanya sekarang adalah pegang nen ;)). Dalam seminggu pertama memang masih butuh waktu untuk bisa bobok, biasanya kalo mulutnya nempel nen, gak sampai 15 menit langsung nyenyak boboknya. Tanpa nen butuh waktu setengah jam sampai satu jam baru bisa bobok, mungkin karena masih masa transisi jadi Laras agak gelisah. Masuk minggu ke 2 sampai sekarang sudah mulai agak cepet boboknya, tapi kadang itupun mesti dibilangin untuk cepet bobok, kemajuannya Laras sudah gak minta nenen lagi. Kalau memang sudah ngantuk sekali, hanya dengan dipeluk atau elus-elus, Laras langsung bisa bobok.

Alhamdulillah banget, sekarang sudah lega rasanya. Ternyata tidak seseram atau sesulit yang aku bayangkan. Kerja sama yang baik sudah ditunjukan oleh Laras selama hampir 3 minggu ini. Kadang Laras masih mencoba merayu atau gak sadar pas ngelilir, dia minta nen. Tapi gak pake nangis lagi dan cepet bisa diberi pengertian. Agar Laras tidak merasa sedih, sesuai dengan saran dari teman atau artikel yang pernah aku baca, sekarang aku makin sering memeluk, membelai, menciumnya. Hal itu menunjukan bahwa biarpun Laras sudah tidak menyusu lagi, tapi Laras masih bisa bermanja-manja dan mamahnya tetap sayang ke Laras. Jujur aku jadi berasa kehilangan juga moment indah itu.

Tinggal masalah yang harus aku hadapi sekarang adalah payudara yang agak nyeri dan berasa bengkak setelah proses menyapih ini. Untuk mengatasinya, aku coba rajin kompres dengan menggunakan air hangat dan air dingin sambil di massage, rasanya agak mendingan setelah di kompres.

Selesai sudah tugasku menyusui Laras, sekarang tinggal menyusui papahnya ilmu yang aku punya tentang breasfeeding tinggal aku terapkan untuk adiknya Laras nanti juga ke teman-teman yang membutuhkan. Semoga “modal” yang aku berikan untuk Laras di hampir 3 tahun kehidupannya, bisa jadi investasi jangka panjang untuk Laras. Amin

Note : Idem dengan tulisan sebelumnya..tulisan ini jg tulisan yg sudah diposting tahun lalu..

Tulisan ini aku buat dalam rangka ulang tahun Laras yang ke 2, tanggal 16 Februari 2010 yang lalu. Di ulang tahunnya yang ke 2 ini, banyak syukur yang aku ucapkan..mendapatkan putri yang sehat, pintar, cantik dan lucu adalah anugerah yang tidak terkira. Alhamdulillah kuucapkan juga karena di ulang tahun yang ke 2 pula, Laras masih minum ASI. Sepele dan gampang kedengarannya, tp sangat sulit pada prakteknya. Aku sendiri gak sangka bisa sejauh ini bisa memberikan ASI buat Laras..dengan perjuangan yang begitu banyak tantanganya.

Ah apa seh istimewanya seh ?

Buat apa seh capek2 ngasih ASI ?

Emang ASI mu cukup buat anak?

Kalau nanti sudah masuk kantor, kamu gak akan bisa kasih ASI terus deh..

Nyusuin itu sakit lho..

Ngapain seh rajin banget mompa ASI di kantor ?

Anaknya kan dah gede, kok masih nenen aja seh?

Kok gak dikasih susu formula aja ?

Susu formula A, B, C kan lebih bagus daripada ASI..

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang sering aku *dan ibu2 menyusui lainnya* dapatkan pada saat kami ngotot untuk terus memberikan ASI buat anak2. Memang, pada saat aku hamil..aku sendiri belum mengerti ilmu soal itu dan selalu berpikir..”oke..abis lahiran, kasih ASI..kalo gak bisa, ya kasih sufor aja”. Semudah itulah, sampai suatu ketika aku sharing dengan temen sesama ibu hamil soal perASIan. Juga berkat hobi blogwalking-ku, aku sampai ke blog tmn kuliah yg saat itu jg sedang hamil, dia sering menulis bagaimana persiapan beliau ingin memberikan ASI eksklusif buat anaknya. Dari blognya juga, aku menemukan milis Asiforbaby, milis yg berisi kumpulan ibu2 yang aware ttg pentingnya ASI buat bayi dan balita. Sejak saat itulah mataku melek soal ASI dan makin besar niatku untuk memberikan ASIX buat Laras selama 6 bulan, dan meneruskannya sampai 2 tahun.

Kenapa seh aku mau memberikan ASI buat Laras, dari ilmu yang aku dapatkan dari hobi baca2 tersebut, ternyata kandungan yang terdapat di dalam ASI itu, Subhanallah..begitu bermanfaatnya buat bayi kita. Tidak ada satupun susu formula di dunia ini yang bisa menandingi kehebatan ASI. Di dalam Islam pun, telah dianjurkan dan tertulis di Al-Quran untuk menyusui bayi selama 2 tahun penuh..hal ini yang membuat aku makin yakin tentang ASI.

Lalu apakah aku pernah ragu atau menemui kesulitan pada saat mempraktekkan teori2 yang aku dapatkan. Pastinya !!! Tidaklah mudah menerapkan semua teori2 tersebut. Sejak hamil, semua teori dan ilmu yang aku dapatkan tidak aku telan sendiri. Aku berbagi dan berdiskusi dengan teman, lingkungan, keluarga dan suami tentang niatku tersebut.

Sharing dengan suami adalah yang lebih penting menurutku, karena suami yang akan mendampingi kita dalam membesarkan dan merawat setelah anak kita lahir. Waktu itu, setiap artikel2 tentang ASI, aku forward atau print dan berikan kepada suami, kemudian kita akan obrolin bareng2. Alhamdulillah, suamiku org yang sangat terbuka dan mendukung apapun yang aku lakukan. Itulah yang jadi modalku saat ada pertentangan dengan keluarga atau orang tua, suami pun ikut menjelaskan dan memberikan pengertian kepada mereka.

Setelah Laras lahir, barulah terasa betapa tidak mudahnya menyusui, semua ibu baru pasti merasakan itu. Mulai dari bingung cara menyusui, gelisah kenapa air susu belum keluar juga, puting lecet, bayi yang menangis terus seakan gak kenyang2, direcokin semua orang, atau godaan menggunakan sufor. ASIku sendiri baru keluar di hari ke-2 setelah melahirkan, dan itu bikin aku panik juga. Terus terang Laras pun pernah kena sufor, waktu itu karena di hari ke 2, aku demam tinggi dan diare parah.

Tiap waktu aku dan Laras sama2 belajar bagaimana cara menyusui yang benar, kita ber-2 makin pintar. Suami pun juga belajar, gimana jadi breastfeeding father yang baik. Mulai dari ciri2 Laras lapar pengen menyusu, bagaimana cara memijat dan mengompres payudaraku *bukan bermaksud porno, tp treatment dari suami, bener2 manjur utk menangani payudara bengkak/lecet lho :p*, membantu menyendawakan Laras tiap abis menyusu, membantu merubah posisiku atau Laras biar enak saat menyusu, menemani begadang, bahkan membantu memompa ASI saat aku udah capek..dia yang memegangi pompanya dan pasang tampang harap2 cemas, mengharap ASI yang keluar banyak *terharu juga kl inget saat2 itu*.

Bukan berarti kami ber-2 gak tergoda untuk menggunakan sufor, suamiku suka membujuk supaya Laras minum susu pake dot aja tiap aku mengeluh atau terlihat capek. Kadang aku juga suka tergoda, tapi kembali ke niat awal, kami ingin Laras ASIX 6 bulan, itu tujuan jangka pendek kami. Alhamdulillah tujuan itu tercapai, agak terbantukan juga dengan keputusanku untuk mengambil cuti di luar tanggungan selama 3 bulan yang disetujui juga oleh bosku.

Tapi bukan berarti aku tidak menyiapkan Laras untuk aku tinggal ngantor lagi, selama cuti itu, aku rajin mompa ASI dan menyimpannya di freezer, saat itu aku bisa mengumpulkan 30 botol kaca @100-120ml. Aku juga mengajarkan Laras minum ASIP dengan sendok atau dari softfeeder, dan hal itu juga bukanlah hal mudah. Aku memutuskan tidak memakai botol dot untuk Laras karena aku tidak berani ngambil resiko Laras kena bingung puting yang akhirnya dia akan gak mau lagi menyusu langsung karena sudah keenakan nge-dot.

Pada saat habis masa cutiku dan harus kembali ke kantor kesulitan lain muncul, masa kejar tayang/kejar2an stock ASIP, merasakan malasnya mompa, belum lagi kalo sibuk dengan kerjaan jd frekuensi memompa berkurang, atau jumlah ASIP yang menyusut pernah aku alami. Alhamdulillah..sekali lagi aku punya orang2 disekitar yang sangat support memberikan dan mengembalikan semangatku. Di kantor, aku dan juga teman2 sesama ibu menyusui memompa di toilet, di kantor tidak ada ruangan khusus untuk memompa. Untung toiletnya toilet kering, dan aku biasanya bersih2 dulu sebelum mompa.

Masa setahun menyusui dilewati dengan baik, masa MPASI juga aku coba jalankan dengan menerapkan MPASI homemade yang pasti bersih dan sehat. Laras umur setahun, aku coba memberikan susu UHT tapi ternyata Laras gak suka. Ya sudahlah, aku stop UHTnya dah tetap memberikan ASInya walaupun kadang kembali mesti kejar tayang. Umur 15 bulan akhirnya aku coba lagi kasih susu UHT, kali ini caranya coba dicampur dengan ASIP, dimulai dengan perbandingan susu UHTnya lebih sedikit dari ASIP, 50:50, sampai akhirnya Laras mau full UHT. Akhirnya sejak itu, saat siang hari bila aku ngantor, Laras di rumah minum UHT dan ASIP selang-seling.

Rutinitas mompa ASI di kantor mulai aku kurangi, dari pertama kali 3-4 kali sehari, mulai dikurangi jadi 2 kali sehari dan akhirnya cuma sekali sehari. Di usia Laras yang ke 22 bulan tepat di bulan Desember, sebelum liburan akhir tahun, aku juga mengakhiri kegiatan mompa-memompa di kantor. Laras di rumah hanya minum susu UHT saja, dan tetap nenen di malam hari dan pada saat aku libur. Hingga tiba saatnya Laras ulang tahun ke 2, lulus lah Laras S3 ASI dengan hasil yang memuaskan. Perjuangan selama 2 tahun telah terbayar, Laras kini jadi anak yang sehat walaupun langsing badannya, tapi Laras anak yang cukup aktif dan pintar. Laras jarang sekali sakit, jarang demam *2 tahun ini baru 3x demam*, hanya penyakit umum seperti batpil yang kadang suka menyerang, itupun sembuh sendiri tanpa obat-obatan apapun apalagi antibiotik. Kalau Laras mulai gak enak badan, biasanya ASInya langsung aku genjot, dan hasilnay Laras cepet baik kembali.

Sampai saat ini, Laras masih suka minta menyusu walaupun ASInya sudah mulai berkurang :D. Tapi mungkin Laras cuma pengen manja-manjaan sama mamanya. Aku tidak keberatan, karena kegiatan ini yang akan aku rindukan saat nanti Laras dewasa. Aku selalu kasih pengertian bahwa Laras sekarang sudah besar, udah gak nenen lagi, nenen itu cuman buat adek bayi. Kalau udah dikasih tau begitu pasti Laras langsung senyum2 malu ;)). Tujuanku ke depan, Laras bisa menyapih dirinya sendiri kalau dia sudah siap, begitupun aku. Menyapih dengan cinta, tanpa paksaan, tanpa cara2 kejam seperti mencekokinya dengan yg pahit2..Amin. Mudah2an tujuan kami yang ini juga tercapai dengan lancar dan sukses :).

Begitulah pengalamanku menyusui Laras selama 2 tahun ini, bukan berarti ibu yang tidak menyusui anaknya tidak sayang kepada anaknya. Tapi harapanku, semakin banyak ibu2 yang sadar dan berkemauan keras untuk menyusui anak2nya demi masa depan anak2 sendiri. Begitu banyak keuntungan dari menyusui baik dari sisi kesehatan si anak maupun si ibu sendiri. Dari sisi ekonomi pun, kita bisa berhemat banyak karena tidak perlu membeli sufor dan peralatannya. Dan dengan modal ASI, anak kita bisa sehat terus sehingga kita tidak perlu sering ke dokter karena si anak sakit. Itupun kita mesti cari ilmu tentang menangani anak sakit dan ilmu RUM. Bukan berarti kita orang tua yang pelit atau tidak mampu, tapi percayalah bahwa diatas semua itu ASI is the Best !!! :D

Salam ASI !!!

-Rini mamanya Laras-

Note : Tulisan ini sebenarnya sudah lama, tapi hilang bersama postingan yg lain. Ini hasil copas dari notes FB ku..

Boleh gak seh kita ga puasa saat kita hamil atau menyusui ??

ASI saya bakal berkurang gak ya kl saya puasa ??

Pertanyaan yg sering didengar dan menghiasi berbagai milis di bulan Ramadhan ini. Pertanyaan yg juga dilontarkan ke saya. Dulu saya pernah posting artikel tentang puasa di saat hamil, silahkan di klik untuk membacanya. Waktu itu saya jg sedang hamil, kalo gak salah 4-5 bulan, dan bertepatan pula dengan bulan Ramadhan.

Kalo dari segi agama sudah sangat jelas sekali, bahwa puasa Ramadhan itu hukumnya wajib, hukum tersebut juga ditujukan untuk ibu hamil dan menyusui. Namun, ada keringanan bagi ibu hamil dan menyusui yaitu diperbolehkan untuk tidak puasa dengan berpuasa di lain waktu atau membayar fidyah. Itupun ada tergantung lagi dari niatnya, mungkin bisa dibaca di http://eramuslim.com/konsultasi/sehat/puasa-dan-menyusui.htm atau http://www.pesantrenvirtual.com/tanya/230.shtml.

Berpuasa dikala hamil dan menyusui sudah pernah saya alami, cerita pengalaman tersebut akan saya share disini. Sama seperti ibu2 hamil dan menyusui lainnya, waktu itu pun saya sempat ragu…bisa gak ya saya puasa saat saya hamil, kuat gak ya saya atau gimana dengan bayi saya kalo saya puasa. Saat menyusui pun juga begitu…ASI saya keluar gak ya kl saya puasa, gimana dengan kualitas ASI saya atau cukup gak ya hasil pompa/ASIP saya buat anak di rumah?

Semua pertanyaan itu saya konsultasikan dengan suami, kl dari sisi suami..suami saya mendukung apapun keputusan yang akan saya ambil, baik puasa atau tidak. Cuman dia jg menyarankan untuk mencoba saja dulu, kalo memang saya tidak kuat atau ada efek gak baik buat bayi saya, ya puasanya gak usah diteruskan, kan bisa diganti di hari lain. Bijaksana banget ya papah Dicky..itu yg bikin saya makin cinta ama dia hihihihi :x :p

Saat saya hamil, saya jg berkonsultasi dengan DSOG yang memeriksa kehamilan saya. Beliau bilang, silahkan saja saya berpuasa, krn kehamilan saya jg sehat2 aja, tidak ada kendala apapun baik si bayi maupun ibunya. Tapi saya masih saja ragu, krn waktu itu saya abis melewati masa2 morning sick yang menyiksa banget. Berbagai artikel saya baca, baik dari sisi kesehatan maupun agama. Akhirnya saya putuskan saya berpuasa dgn mengucapkan Bismillah. Alhamdulillah 30 hari di bln Ramadhan saat itu, bisa saya lewati dengan baik dan lancar…puasa pun gak bolong2 :D. Memang berasa sekali lebih cepat laparnya, mgkn krn makanan yg saya makan di waktu sahur ada 2 org yang mengkonsumsinya. Tapi dengan niat dan saya selalu bilang ke bayi yg ada di perut saya, kita bisa menjalani ibadah puasa ini bersama2, kami bisa juga melewatinya..Laras kecil emang hebat :*.

Tips saya waktu itu adalah banyak makan diwaktu sahur dan buka, kyknya kok rakus ya hihihi, tp ya saya mikir itu buat modal aja di siang hari. Makannya jg mesti yang bergizi, sayur, buah, protein, lemak, dan minum vitamin serta air putih yang banyak. Sempet susah juga, krn kita ga bisa mengkonsumsi dalam jumlah banyak, akhirnya makannya dicicil dikit2 tapi sering. Mgkn bisa tiap 1 jam saya makan dan minum.

Puasa di kala hamil sudah saya jalani dengan baik..insya Allah. Selanjutnya tahun berikutnya, Laras sudah lahir dan berumur 7 bulanan. Laras sudah mulai MPASI, tp kebutuhan ASI nya jg masih banyak, krn masih di bawah setahun. Lagi, saya ragu apakah saya akan berpuasa atau tidak, krn saya takut banget ASI saya gak cukup buat Laras. Modal membaca artikel2 tentang berpuasa sambil menyusui, bertanya pada ibu2 senasib di milis AFB. Akhirnya saya memutuskan juga untuk berpuasa.

Waktu itu, kalo Laras menyusui langsung memang tidak kelihatan ASI saya berkurang, tapi pada saat memompa di kntr, memang ada penurunan jumlah ASIP saya. Hal itu berlaku di 3 hari pertama puasa, saya sempat bingung dan kuatir juga. Tapi saya gak patah semangat, saya coba menambah frekuensi memompa dan menyusui sesuai anjuran dari artikel dan saran dari ibu2 di milis. Akhirnya..Alhamdulillah hari berikutnya jumlah ASIP saya kembali normal, dan oleh2 ASIP buat Laras di rumah pun gak berkurang.

Tips saya saat itu juga adalah, yg paling utama adalah meneguhkan niat dan mindset saya, krn produksi ASI juga bergantung dari mindset di otak kita. Saya harus yakin bahwa ASI saya cukup setiap hari buat Laras, hasil mompa saya di kantor tidak akan berkurang jumlahnya. Saya coba afirmasi terus diri saya, dan pastinya didukung juga dengan konsumsi makan saya saat sahur dan buka. Sama seperti saat saya hamil, saya pun “rakus” saat sahur dan buka dan mgkn lebih rakus dibanding saya hamil dulu, semua makanan saya embat, terutama yang bergizi dan banyak konsumsi air putih. Alhamdulillah kondisi badan saya di siang hari juga gak lemas dan berasa biasa aja.

Tahun ini, insya Allah saya berpuasa dan saya jg masih menyusui Laras yang skrg sudah berumur 18 bulan. Saya masih mau menyusui Laras sampai ASI saya berhenti atau Laras tidak mau lagi menyusu ke saya atau sampai Laras umur 2 th. Mgkn tahun ini saya sudah tidak terlalu harus memompa sesering tahun lalu, sekarang saya hanya memompa 2x di kantor. Kebutuhan Laras akan ASI sudah tidak sebanyak tahun lalu, itupun sudah terbantu dengan susu UHT. Walaupun demikian, saya masih mencoba memompa terus, memang ASI saya sudah mulai berkurang jumlahnya, tp saya syukuri berapapun hasil yang saya dapat. Saya juga mencoba melawan rasa jenuh memompa, demi Laras :D.

Jadi buat ibu2, teman2 dan sodara2 saya yang saat ini sedang hamil maupun menyusui, bukan masalah untuk tetap berpuasa di kala hamil dan menyusui. Semua tergantung niat kita dan saya sarankan juga untuk berkonsultasi dulu dengan DSOGnya. Apakah ada masalah di kehamilan, jika memang sehat, silahkan berpuasa. Memang kekuatan kita, kita sendiri yang tahu..tp kl menurut saya, apa salahnya dicoba dulu dan teguhkan niat. Kalo memang sudah niat tapi tidak kuat, kan kita diberi keringanan untuk tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain atau membayar fidyah.

Selamat berpuasa buat semua dan maafkan jika tulisan saya tidak berkenan :)

Postingan ini mungkin dah telat..tapi better late than never kan. Daku cmn pengen cerita pengalaman pertama menyusui Laras.

Pertama kali kenal proses menyusui adalah waktu sehabis melahirkan langsung mendapatkan proses IMD atau Inisiasi Menyusui Dini kalo bahasa inggrisnya seh Early Latch On (ELO). Alhamdulillah banget di RS Gandaria, IMD dah jadi prosedur penting setiap ibu habis melahirkan tanpa si ibu meminta. Soalnya kan masih banyak tuh rumah sakit yang gak sadar akan IMD ini, so..si calon ibu mesti request ke DSOG en DSA yang nanti akan membantu proses melahirkan.

Setelah Laras keluar dari perut, Laras cuman dibersihin seadanya terus langsung dibawa en ditaro di dadaku dan diliat apakah si bayi bisa nemuin puting susu ibunya. Proses ini seh sebenernya bisa makan waktu minimal 30 menit, karena si bayi juga butuh adaptasi. Sedangkan kalo pengalamanku seh sebenernya cuman sebentar, si DSA nya agak ga sabaran..jadi Laras langsung dideketin ke puting ku karena Laras malah berusaha mo ngemut jempolnya sendiri. Pdhl kalo proses yang bener seh, si bayi mestinya dibiarin mendekati puting ibunya dan berusaha mengisapnya. Tapi ya ga papa deh, mgkn krn dah malem banget, jd si ibu dokter dah capek hehehehe.

1-2 jam setelah melahirkan itu, Laras langsung dibawa ke kamar ku, karena dia nangis trs. Sesuai dengan request aku bakal ASIX, maka perawat jg ga berani ngasi susu formula tanpa ijin ku dan bakal nganterin Laras ke kamar ku tiap dia nangis karena lapar.

Jadinya walopun badan masih lemes en tuh bekas jaitan masih berasa senut2, aku coba menyusui Laras. Karena belom bisa bangun ato duduk, maka perawat juga ngajarin aku buat nyusuin sambil tiduran. Alhamdulillah banget dokter, perawat dan rumah sakit jg sayang bayi…jadi ndukung banget aku buat ASIX. Perjuangan buat menyusui Laras dimulailah…pertama kali menyusui jelas2 aku masih kesulitan…Laras jg belum pinter..ya kami masih sama2 belajar deh. ASI ku jg belum keluar, tapi aku tetep paksain buat menyusui, jadinya Laras ya cuman ngisep2 gitu aja tanpa hasil. Namanya juga belajar, tapi Laras hebat juga..refleks mengisapnya kenceng banget.

Meskipun ASI ku belum keluar..tapi aku tetep gak ngasih Laras susu formula, soalnya berdasarkan artikel yang ku baca, bayi baru lahir masih bisa tahan gak makan / minum selama 2 x 24 jam. Akhirnya pas hari ke 2 kalo gak salah..air susu ku keluar juga..Alhamdulillah. Itu juga karena di pencet ama perawat hihihi..abis aku penasaran dah keluar blm sih nih ASI, pas perawat mencet putingku..eh ASInya dah keluar…tambah semangat lah aku buat rajin menyusui Laras sampe dibela2in gak tidur karena Laras di taro di kamar ku terus.

Cuman Laras sempet kena sufor juga karena aku sempet meriang en ampir kejang karena menggigil..ya terpaksa aku relakan dulu deh biar aku bisa istirahat trs besoknya aku seger bugar en bisa nyusuin Laras lagi.

Sebenernya ASI ku seh gak melimpah ruah, soalnya ASI ku ga pernah banjir sampe muncrat2 en basahin baju. Aku suka baca di milis, ada ibu2 yang ngalamin gitu..jadi aku ngambil kesimpulan ASI ku gak melimpah tapi cukup buat Laras. Pernah seh sampe basahin baju tapi itu jg waktu di RS yang aku sempet absen nyusuin itu. Kenapa aku bilang cukup buat Laras, soale Laras pipisnya banyak..berdasarkan artikel juga..ciri2 ASI cukup buat bayi itu jika BAK si bayi minimal 6-8 x sehari dan BB bayi naek setiap bulannya secara signifikan. Dan Laras juga Alhamdulillah BBnya naek banyak..sebulan kemaren itu naeknya 1,7kg. Menurut dokter, bayi umur 1-3 bulan BBnya mesti naek min 700gr – 1 kg setiap bulannya. Ya mudah2an seh ASI ku cukup terus buat Laras..mesti Pede kalo kata ibu2 di milis AFB.

Oiya, aku juga sempet ngalamin puting lecet en payudara bengkak. Kira2 seminggu setelah lahiran..ya mungkin karena masih sama2 belajar..jadi posisi menyusunya jg blm tepat..istilahnya tuh Latch on – nya belum sempurna..akibatnya puting ku lecet sampe berdarah2..wah rasanya asik banget deh hehehe. Nah akibat si puting lecet aku jadi takut kalo Laras menyusu di payudara yang putingnya lecet en absen lah si Laras menyusu di situ. Timbul masalah baru, karena si payudara gak dikosongin alias gak disusuin ke Laras, si payudara penuh en jadi bengkak. Wah makin asik lagi nih rasanya..tapi untung aku ga sampe demam en meriang lagi.

Waktu kontrol ke dr Achmad, aku ceritain masalahku ini..untuk lecetnya dikasih salep Kamilosan en untuk mengatasi bengkaknya..ya jalan satu2nya si payudara mesti kosong jadi mesti dikasih ke Laras biar dihisap susunya. Trs dalam satu kali periode menyusui, 2 payudara mesti kosong buat menghindari bengkak dan biar ASInya di produksi terus.

Dengan menahan rasa sakit sampe gigit2 saputangan, aku kasih juga payudara yg bengkak bin lecet ke Laras. Nah buat ngurangin rasa sakitnya, aku bantu pake nipple shield dari pigeon. Lumayan biar lecetnya ga kena gusi Laras langsung, walopun masih kerasa juga seh. Hasil guggling, untuk ngurangin rasa bengkak, aku kompres aja pake air anget en dingin secara bergantian..hasilnya enak banget. Akhirnya masalah payudara bengkak dah selesai, tinggal nyembuhin lecetnya. Lecetnya baru sembuh setelah 2 mingguan…oiya disamping diolesin salep pemberian dokter, aku juga ngikutin anjuran orang2 yang katanya kalo biar lukanya cepet kering..tiap abis nyusuin si luka diolesin ASI trs diangin2in alias jangan langsung di tutup. Bener lho..hasilnya cepet kering..selesai juga masalah lecet plus bengkak..en aku bisa menyusui Laras dengan suksesnya dari sebelah kanan en kiri. Jadi kalo punya masalah puting lecet ato bengkak, kita justru jangan berhenti buat menyusui, malah kita tetep harus menyusui biar gak makin parah bengkaknya..biarpun lukanya keluar darah kasih aja terus ke si bayi..karena darahnya gak bahaya kok. Yang gak boleh tuh kalo dah terjadi abses pada payudara.

Ya mudah2an aku bisa terus ngasi ASI buat Laras selama 6 bulan full en dilanjutin sampe Laras umur 2 thn..Amin. Doain yaaaaa…