Innalillahi wa inna ilaihi roji’un..

Telah berpulang Pakde Hadi Santoso ke Rahmatullah, hari Sabtu kemarin tanggal 4 Juni 2011 jam 7.10 WIB di RS Telogo Rejo Semarang karena sakit, di usianya 66 tahun.

 

foto ini di ambil waktu mengantar mama berangkat ibadah haji 2010, balai kota Solo

 

Pakde Hadi kakak mamaku yang nomor 2 memang sudah kurleb 2 tahun belakangan ini di vonis sakit kanker, kalau tidak salah kanker sumsum tulang belakang. Pengobatan memang dilakukan di RS Telogorejo Semarang, sementara Pakde tinggal di Solo dengan Bude. Beliau mempunyai 3 orang anak dan 4 cucu, yang semuanya kebetulan tinggal di luar kota.

Di mata ku Pakde adalah seorang pribadi yang baik hati, seorang ayah yang perhatian dan penuh kasih sayang, suami yang bertanggung jawab, dan segala sifat baik lainnya. Yang selalu ku ingat ttg pakde adalah beliau suka sekali menghibur orang yang susah, membantu baik materi maupun moril, humoris, dan sayang sesama.

Hobinya sama seperti Eyang Kakung yang menurun ke mamaku juga, berkebun dan bercocok tanam. Telaten banget mengurus tanaman di rumahnya, juga dulu melihara banyak burung.

Sebagai seorang paman, Pakde sayang ke semua ponakannya, aku juga merasakan. Perhatian beliau begitu besar, semua ponakan di anggap anaknya sendiri juga. Tiap aku ke solo, pasti pakde dan bude selalu ngajak aku atau sepupu yang lain utk main atau nginap di rumahnya.

Kenangan terakhir pertemuan dengan Pakde di bulan Desember 2010. Waktu itu aku, papah Dicky &  Laras pergi ke Solo untuk menghadiri pernikahan sepupuku anak dari bulik Is, adik bungsu mama. Waktu itu Pakde masih segar, walaupun gak boleh capek. Kami juga rekreasi sekeluarga besar ke Tawangmangu. Waktu itu Pakde sempet meminjam jaket jeansku karena beliau kedinginan. Ternyata karena penyakitnya itu, Pakde gak boleh kedinginan atau kepanasan.

Alhamdulillah banget, di saat terakhirnya kemarin sabtu, aku masih bisa melihat Pakde untuk terakhir kalinya dan menyolatkan beliau :(. Doaku, smoga Pakde diberikan tempat terindah di sisi Allah SWT, di terima seluruh amal ibadahnya, diampuni dosa-dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan & ketabahan. Aamiin.

Mamaku sangat kehilangan Pakde, karena Pakde banyak sekali membantu dan menemani mama. Mudah-mudahan mama juga sabar.

Pakde Hadi dimakamkan di TPU Bonoloyo Solo, berdekatan dengan makam Eyang Putri & Eyang Kakung bahkan pas dibawahnya. Senangnya ya mereka bisa berkumpul kembali :).

Selamat jalan Pakde, selamat istirahat panjang…

gambar diambil dari sini

Kalau yang dibayangkan dari istilah Breastfeeding Father itu kyk gambar di atas, serem juga ya bok ;)). Breastfeeding father sebenernya cuman istilah aja buat para ayah/bapak/papa/papi yang sangat mendukung program menyusui si ibu untuk bayinya. Dukungan di sini bukan cuman moral semata, tapi juga berupa dukungan secara konkrit berupa perhatian dan perbuatan.

Di keluarga kecil kami, papah Dicky (suamiku) bisalah di sebut sebagai Breastfeeding Father, kalau menurutku ya *GeEr tingkat tinggi*. Bagi kami, aku dan Laras, papah Dicky sangat membantu sekali dalam program menyusui Laras selama hampir 3 tahun, bahkan lebih. Karena dukungannya sudah ada sejak aku hamil Laras.

Awalnya sama seperti aku, dia juga tidak mengenal ASIX, MPasi, ASI hingga 2 tahun dan sebagainya, ya mungkin hanya tahu kalau nanti Laras lahir ya disusui, tapi hanya itu tok. Setelah aku mengenal lebih dulu dan berniat untuk ASIX, aku mulai mengenalkan juga ke suamiku. Biasanya aku akan mem-forward artikel atau email yang berhubungan dengan program ASIX dan akan membahas bareng. Mulai dari apa sih itu ASIX, cara memerah/memompa, menyimpan ASIP, relaktasi, nipple crack dll. Waktu itu sih tanggapannya cuman iya-iya aja atau komentar “ooowwww” dan kesannya cuek *emang aslinya gitu, cuek bebek tapi perhatian kok :D*. Tapi pada prakteknya setelah Laras lahir, sangat mengejutkan dan mengharukan sekali, papah Dicky sangat mau membantu dan mendukung 100% istrinya ini.

Dukungan pertama kali yang sangat berarti buatku adalah saat dia bilang “setuju” akan niatku memberikan ASI utk Laras, dengan begitu rasanya sudah terbuka jalan walaupun aku belum tahu kesulitan apa yang akan aku hadapi nantinya. Malah dia juga ikut membantu menyampaikan niatku ke orangtuaku dan ke mertua, ya kalau ke mertua emang lebih baik dia sendiri yang lebih aktif, karena biasa ya..udah bukan rahasia umum lagi soal konflik kecil antara menantu-mertua. Bukan berarti ada masalah dengan mertuaku, tapi untuk menjaga kondisi aja, mungkin kalau anaknya sendiri yang menyampaikan lebih enak jadinya. Hal itu seterusnya berlaku saat di tengah misi ASIku ada hal-hal yang mertua kurang setuju atau beliau tidak begitu tahu, contohnya aja mertua tidak tahu kalau ternyata ASI itu bisa disimpan dan sebenarnya gak ada istilah ASI basi. Mamaku sendiri juga gak tahu lho, jadi aku juga punya PeEr untuk menjelaskannya. Alhamdulillah, orangtua dan mertua yang tadinya ragu dan gak yakin Laras bakal bisa ASI 2 tahun atau yang tadinya merasa Laras kurang susunya kalau ASI tok, kelamaan mereka jadi mendukung dan malah menyayangkan kalau terlalu cepat disapih :D.

Dukungan lainnya, suamiku kadang nemenin begadang di bulan-bulan pertama setelah Laras lahir, tapi itu juga kadang suka ketiduran sih ;)). Yang paling mengharukan buatku adalah saat aku merasa patah semangat karena aku dan Laras masih belajar menyusui, jadi sering sekali kegiatan menyusui terasa sangat menyiksa buatku dan Laras sendiri. Posisi yang gak bener dan gak enak, sementara Larasnya nangis karena dah kelaperan, suamiku akan tetap menyemangati dan membantu bikin posisiku enak atau menenangkan Laras.

Sempat suatu malam, aku sudah merasa sangat-sangat capek kepengen tidur, sementara Laras rewel minta disusui. Sambil menyusui Laras, suamiku membantu memompa ASI di payudara satunya, waktu itu dia bilang, “di pompa aja ASInya, ntar disimpen, jadi nanti kalau Laras bangun, mas yang ngasi ASIPnya dr botol, mamah bisa bobok” ..kalau sekarang inget rasanya nyeeess banget :(. Terus berhasil gak ide dia berjalan? Gak sama sekali. Waktu itu karena aku beli pompa elektrik yang salah, jadinya bikin payudara sakit dan ASI yang keluar dikit banget :(. Dan suamiku terlihat sedih dan cemas banget, karena maksud dia untuk membantuku kok gak bikin hasil berarti. Jadinya ya malam itu begadang lagi.

Saat yang paling genting sih ya waktu nipple ku luka parah akibat menyusui, bener-bener luka sampe kroak bentuknya amburadul dan berdarah terus, untungnya gak sampe bernanah. Nah, waktu itu kegiatan menyusui rasanya bener2 perjuangan dan aku membutuhkan nipple shield untuk mengurangi rasa sakitnya saat menyusui. Dan yang membelikan nipple shield susah payah ke ITC kuningan, ya si Papah. Sampai ada salah satu toko baby di sana J****e, udah apal sama suamiku, karena selama cuti melahirkan aku gak sempet keluar beli-beli peralatan bayi yang kurang. Aku minta tolong si Papah untuk membelikan saat pulang kantor, beli breatpump minel Medela, nipple shield dan peralatan lainnya yang baru berasa dibutuhkan setelah Laras lahir. Waktu nippleku luka itu, aku menyusui sambil nangis, nahan sakit, gigit anduk karena pengen banget teriak kesakitan *cengeng yak :D*. Suamiku dengan wajahnya yang melas, ngipasin dan ngelap keringetku, karena emang waktu nahan sakit itu, keringet bercucuran. Udahan menyusui, aku bakal nangis meluk si Papah karena ga tahan sakitnya, pelukan dan belaiannya sangat menghiburku *ceileeeee*

Program ASIX sukses dijalani dengan mengucap syukur Alhamdulillah, selanjutnya meneruskan dengan MPasi dan ASInya. Papah Dicky juga tetap mendukung Laras menyusui sampai kapanpun, masih dengan dukungan moral dan bantuannya. Mau menyuapi Laras makan, membantu menghangatkan ASIP, bahkan menyusui Laras pake softcup saat aku menikmati “Me Time” ke salon atau sekedar keluar rumah sebentar.

Ketika Laras hampir 2 tahun, aku mulai menyiapkan Laras untuk di sapih. Waktu itu, aku suka ngajak ngobrol Laras dan memberikan pengertian kalau Laras sebaiknya sudah tidak nenen lagi. Suamiku juga ikut nimbrung ngasi pengertian Laras. Tapi kenyataannya aku masih belum bisa menyapih Laras, dia juga tidak komplen, masih mendukung saja apa yang aku lakukan pada program ASI untuk Laras ini. Sampai Laras menjelang 3 tahun, dan aku benar-benar menguatkan niat dan menjalankan Weaning with Love ke Laras, si Papah juga mendukung, membantu menenangkan Laras yang rewel minta nenen. Untungnya rewelnya Laras cuman sebentar, dan dia memang sudah siap di sapih. Suamiku juga selalu bilang kalau mama tetap sayang Laras walaupun Laras gak nenen lagi.

Alhamdulillah sekali banyak orang yang sangat mendukung aku dalam kegiatan menyusui di sekitarku, terutama sekali suami. Memang benar apa yang sering dibilang kalau peran suami dalam mendukung istri menjalankan program menyusui itu penting banget, dan aku sangat merasakannya. Tidak semua suami/ayah bisa seperti itu, dan ini memang kejadian nyata, karena ada temanku yang bilang, kegagalan dia dalam memberikan ASIX untuk anaknya ya salah satunya karena suaminya tidak aktif mendukung, bahkan seperti mematahkan semangat sang istri untuk ASIX :(. Dan suamiku sekarang tidak hanya berhenti dalam mendukung pemberian ASI hanya karena Laras udah gak nenen lagi, dia suka mempromokan ASI ke teman-temannya yang baru punya newborn atau yang sedang hamil. Ilmu-ilmu ASI yang dia punya dan dia tahu, dibagi ke teman-temannya itu. Mudah-mudahan sih kalau man to man gitu lebih masuk ya ngobrolnya, jadi diharapkan makin banyak suami/ayah yang mengerti dan mendukung istrinya 100% dalam memberikan ASI ke anaknya. Ya, istilahnya kan lebih baik memulai dari lingkungan sendiri dan terdekat kita.

Salam ASI !! :)

Berawal dari niat kepengen punya tabungan untuk beli rumah, dana pendidikan, dana kesehatan, pensiun, liburan, foya-foya, endebre-endebre, tapi untuk memenuhi itu semua punya keterbatasan (baca : pengeluaran lebih banyak dibanding pemasukan), aku mulai melirik info yang berbau financial. Sebelumnya aku cuma tau nabung itu ya pergi ke bank, buka tabungan konvensional atau deposito dan berharap tuh duit gak berkurang malah kalo bisa nambah. Trus utk dana pendidikannya, buka tabungan/asuransi pendidikan yang dijual oleh bank atau asuransi tertentu. Ya segitulah ilmu yang ku punya.

Suatu hari aku nonton acaranya Ligwina Hananto di salah satu channel tipi berbayar *gaya* yang membahas soal financial, terutama untuk keluarga. Aku mulai tertarik karena info yang aku pengen tau, ada semua di situ. Ligwina dengan jargon terkenalnya “Tujuan Lo apa?” mulai membuka minatku untuk lebih peduli sama perencanaan keuangan keluarga yg baik. Emang sih kalo dah mulai ngomongin ini, kyknya bikin stres banget, beban, dan asli bikin mules, tapi drpd kedepannya aku dan si papah mesti kelimpungan tiap bayar sekolah Laras, malah lebih stres kan?

Dari wina, aku tau websitenya qmfinancial.com dan dari situ aku mulai belajar pelan2, mulai dari simulasi menghitung berapa dana yang mesti kita siapkan utk pendidikan, pensiun, darurat dll. Coba aja deh, dan pasti dijamin langsung pucet, keringet dingin, mata berkunang-kunang dan sesak nafas :)). Dari simulasi dan mencatat setiap pengeluaran tiap bulan, aku baru sadar kalau banyak sekali uang yang dikeluarkan untuk memenuhi keinginan, yang jumlahnya sama banyak dengan kebutuhan yang sebenernya dah over. Ternyata aku dan si papah masih belum bisa ngerem keinginan yang sebenernya gak perlu itu *sigh*

Selain buka website qmfinancial, aku juga follow twitternya, dari twitter pula aku ketemu para  finplanner terkenal macam Safir Senduk, Aidil Akbar dengan website FinCheckUp-nya, Prita Ghozie, dsbnya. Mereka sangat memberikan pencerahan tentang ilmu financial dan cara merencanakan keuangan keluarga yang baik. Di twitter pun aku kenalan dengan mak @Lunar_D yang selalu mau dirempongin dengan pertanyaan “bodoh”ku dan memberikan nasehat2 yang sangat ciamik, tengs ya mak :*

Yuk sekarang mari kita coba beberkan satu-persatu poin penting dalam perencanaan keuangan yang sehat, tapi mohon maaf sebelumnya kalau masih banyak kekurangan, karena emang ilmu masih cetek dan perlu banyak belajar. Di sini aku coba tulis apa yang aku tangkap dari hasil membaca dan bertanya, dan yang saat ini jadi hal penting dalam merencanakan keuangan keluargaku. Tiap keluarga bisa beda-beda, tergantung dari target yang ingin di capai yang kalo kata wina, “Tujuan Lo apa?”. Semoga bisa jadi bahan sharing dan silahkan ditambah kalo emang masih kurang :D

 

Dana Darurat

Para finplanner/adviser selalu mewajibkan kita untuk punya Dana Darurat (DD), gunanya adalah untuk digunakan pada saat darurat. Kondisi darurat itu bisa bermacam-macam, kalo aku mengartikannya adalah dana yg akan dipakai untuk melengkapi/nambahin dana yg sudah kita siapkan. Misal : Untuk bayar uang pangkal sekolah, kita dah nyiapin dana 20jeti tp ternyata saat kita mo bayar, uang pangkal naek jd 25jeti. Naah fungsi DD itu utk nutupin kekurangan 5jetinya, tanpa kita susah payah nyari tambahan lagi, ato ganggu pos dana yg lain ato amit2 sampe ngutang *ketokmeja*. Bisa juga kalau kita dalam keadaan darurat, kita punya dana untuk menalanginya.

Dalam menyiapkan DD ternyata ada rumusnya lho, yaitu :

  • 3x pengeluaran bulanan –> single
  • 6x pengeluaran bulanan –> pasangan menikah belum ada anak
  • 9x pengeluaran bulanan –> pasangan menikah dengan anak 1
  • 12x pengeluaran bulanan –> pasangan menikah dengan anak 2
  • dstnya

Jadi, untuk keluargaku yang baru punya Laras, kalo tiap bulan keluar 5jeti, berarti aku harus punya DD 45jeti dalam bentuk dana likuid. Syok gak seh??? *ntar dulu ini baru DD aja*. Trs gimana ya cara ngumpulin dana sebyk itu, jangan sediiihh, ternyata bisa dicicil kok. Ada saran dari para ahli yg bisa kita ikuti, kita dianjurkan nabung tiap bulan 10%-30% dari penghasilan tiap bulan dan mesti disiplin didahulukan sebelum mengeluarkan utk kebutuhan lain. Tapi zakatnya jg mesti duluan ya :) dan kalo ada hutang juga mesti didahulukan utk melunasinya.

Mak Dina ngasih keringanan nih, minimal kita punya 6x pengeluaran aja udah bagus kok. Alhamdulillaaaaah, agak lega nafas ini dapet pencerahan dari beliau ;).Trs kalo penghasilan kita pas2an banget gimana nih, boro2 buat nabung, untuk pengeluaran aja dah mepet, apalagi gaji masih di bawah UMR. Pernah aku tanyakan ini ke mak Dina, sarannya cari kerjaan lain, atau cari tambahan penghasilan, Wina jg pernah bilang gitu. Kalau utk kebutuhan  sepertinya dah gak bisa diganggu gugat lagi, jadi ya begitulah solusinya. Pahit seh ya, tapi kenyataan emang lebih kejam Jendral !! *eh*

DD sebaiknya dalam bentuk likuid, artinya bisa langsung diambil dan digunakan. Dalam mengumpulkan DD, dianjurkan tidak menaruh dalam 1 mangkok saja. Maksudnya, coba di diversifikasi ke berbagai bentuk, contoh : tabungan, deposito dan Logam Mulia (LM), gunanya utk mengurangi resiko berkurangnya jumlah DD, karena tau sendiri kalo cuman ngendon aja di tabungan, biasanya akan habis ama uang admin dan tergerus inflasi negara kita yg 10% itu pertahun *CMIIW*. Sayang kan? Kalo LM walopun ada resiko turun tapi utk naik nilainya cenderung lebih baik dibanding berharap dari bunga bank/deposito.

 

Dana Pendidikan

Sejak hamil Laras, aku dan si papah dah mulai mikirin tentang dana kesehatan dan yang paling utama adalah dana pendidikannya. Kebetulan waktu itu cover kesehatan di kantor ku cmn bisa di klaim buat aku aja, begitu juga kantor si papah. Jadi kita pengen banget cari asuransi yang bisa cover Laras, muncul lah agen UnitLink dr sebuah perusahaan asuransi yg terkenal itu. Kita waktu itu tertarik karena selain bisa klaim kesehatan juga ada investasinya, *ya waktu itu mikir, bisalah utk sambil nyiapin dana pendidikan Laras*. Ternyata setelah dapet pencerahan dr para FP, produk UL itu tidak tepat digunakan utk kita yang punya dana terbatas, karena hasil/return yang di dapat gak sebanding atau tidak bisa meng-cover tujuan atau target kita. Dueeeeng..salah deh :(. Tapi masih untung, ternyata masih mending punya asuransi salah daripada gak punya samsek *menghibur diri*.

Terus gimana ya, cara kita bisa ngumpulin dana pendidikan itu, jalannnya adalah dengan ber-investasi. Selama ini investasi yang aku tau itu cuma main saham, tapi aku gak berani lah untuk nyemplung di dunia itu. Selain gak punya ilmunya, aku gak punya mental kuat utk mantengin trs harga pasar dan harus siap dengan keuntungan yang menggunung dan juga kerugian yang bisa bikin orang jd “sakit jiwa”, ini beneran terjadi tahun lalu *kalo gak salah*. Waktu itu harga saham jeblok akibat gonjang-ganjingnya kondisi ekonomi Amrik dan banyak orang yg merugi karena berinvestasi di saham.

Investasi yang paling common itu setauku ya pake emas, ini ajaran dari orang tua jaman dulu khususnya Mamaku. Dari dulu pertama aku kerja dan dapet gaji pertama, Mamaku selalu menganjurkan aku beli emas khususnya perhiasan. Tapi ya karena waktu itu belum punya pikiran yang maju kayak sekarang *toyor kepala sendiri*, aku gak jalanin tuh titah dari orang tua. Nyesel?? banget…

Berikut macam-macam investasi di mulai dari tingkat resiko kecil dengan return yang kecil, sampai ke tingkat resiko besar dengan return yang besar pula :

  • Deposito
  • Logam Mulia / Emas Batangan (LM)
  • Reksadana
  • Saham

Setiap jenis investasi punya resiko, bahkan tabungan konvensional aja punya resiko dan yg paling jelas adalah tergerus nilainya oleh inflasi. Dalam memilih jenis investasi yang cocok dengan kita jg tidak bisa disamaratakan, tergantung dari target kita. Jadi kalau ada temen yang suka tanya ke aku, investasi mana seh yg bagus dan aman, aku bakal copas kata para FP juga, tergantung tujuannya apa dulu *ceileee macam FP terkenal aja aku ini*.

Aku ambil contoh dari hasil tanya jawab dengan mak Dina aja untuk tujuanku, target investasi untuk dana pendidikan Laras masuk SD. Umur Laras sekarang 3 tahun, untuk masuk SD kira2 butuh waktu 3,5 th lagi, berarti aku hanya punya waktu investasi 2,5th (baru tau juga kl waktu investasi itu mesti dikurangin setaun dr target waktu dibutuhin dananya). Di bawah 3th untuk jenis investasi yang cocok disarankan deposito dan LM. Jadi mulai giatlah aku mengumpulkan LM dan bikin deposito.

Sempat mikir, untuk DD aja mesti nyicil, trs investasi buat dapendnya kapan? *garuk2tanah* Padahal DD pun aku mesti pecah jd bentuk tabungan dan LM. Ternyata diberi keringanan lagi, kalau jumlah DD sudah punya min 30% dari jumlah yang diharuskan, silahkan mulai disambi berinvestasi..Alhamdulillaaaah :).

Lalu, untuk dapend Laras masuk SMP, SMA, Kuliah gimana? *ngos2an*. Untuk target waktu di atas 5th, jenis investasi agresif yg dianjurkan adalah Reksadana Saham. Concern ku selanjutnya adalah biaya utk SMP dulu aja, butuh waktu kira-kira 9th lagi, berarti waktu investasi ku 8th aja. Mulai tertariklah aku beli Reksadana. Berdasarkan saran2 dari para ahli dan senior yang sudah duluan beli RD, aku buka akun di bank Biasa Kaya utk bisa beli RD dengan mudah via I-bankingnya.

Sebelumnya aku juga banyak belajar RD dari hasil gugling dan dari forum FD ini. Baca forum itu jadi tau dikit2 apa yang harus disiapkan dan RD mana yang bagus dibeli. Untuk tau infonya bisa baca di infovesta.com atau di qmfinancial.com

RD sendiri ada beberapa jenis :

  • Reksadana Pasar Uang
  • Reksadana Pendapatan Tetap
  • Reksadana Campuran, untuk target 3-5 th
  • Reksadana Saham, untuk target di atas 5-10th

 

Dana Pensiun

Nah untuk karyawan swasta macam aku dan si papah, jelas gak punya tunjangan pensiun. Kalopun ada itu dari jamsostek, dan jumlahnya pun sedikit. Mau tau berapa seh dana yang mesti disiapkan untuk kita pensiun nanti. Simulasinya ada di sini, untuk aku sendiri kira2 butuh dana Rp. 19,380,585,914.29 *syok lemes*. Nulis ini sambil megap2 dan keliyengan..lebay ya?? tp beneran kok. Jumlah segitu itu sudah dihitung tanpa merubah gaya hidup sekarang, kalopun iya 80% berubah aja :((.

Ini jg dah aku dan si papah pikirin, kita kepengen banget nanti saat tua dan pensiun, gak mau ngerecokin Laras dan adik (insyaAllah) nya nanti. Pengen tetep mandiri, tapi sepertinya untuk mulai ngumpulin dananya jg agak berat sekarang, karena dana yang terbatas dan prioritas kita masih ke dana pendidikan. Mungkin nanti kalo dananya ada, aku coba beli-beli produk RD yang returnnya tinggi dan rutin beli tiap bulan. Untuk sekarang udah coba beli tapi ga mgkn untuk beli tiap bulan deh huhuhuhu.

 

Dana Kesehatan & Asuransi Jiwa

Satu lagi yang jadi concern keluarga ku dan yang dianjurkan oleh FP adalah punya dana kesehatan dan AsJi. Papah sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama harus dilindungi AsJi. Aku kepengen nih mulai cari2 info soal AsJi Term life, karena AsJi ini preminya gak mahal tapi Uang Pertanggungannya (UP) besar, gak kyk UL. Mak Dina dah ngasi beberapa referensi, tp emang aku belum mulai2 juga untuk gerak tanya2 *toyor lagi pala sendiri* Abis nulis ini, aku tekatin ah untuk mulai tanya2 dan mulai itung2 dan harus apply, biar cepet bisa nutup tuh UL.

Untuk Dankes, kata mak Dina ada produk AsJi yang bisa cover kesehatan sekaligus kok. Emang sih, aku masih bisa klaim di kantor untuk reiumburs, dan si papah jg di cover di kantornya. Tapi kalo jumlahnya gak cukup aku pengen buka lagi.

Okay, segini dulu aja aku cuap2 hasil belajar, membaca, dan bertanya masalah financial. Nanti kalo sudah selesai hunting AsJi, aku coba tulis lagi disini.

 


gambar di ambil dari sini

Ada yang ngikutin serial CSI kah? Aku termasuk yang ngikutin serial itu, walaupun sekarang dah jarang sekali nonton. Kalau dulu setiap rabu malam pasti nonton CSI Vegas, selasa malam CSI New York nya. Tapi berhubung sekarang rebutan tipi ama Laras dan selalu kalah, jadi nonton CSI nya dah gak serajin dulu lagi. Dan itu berlaku juga untuk acara yang lain, sekarang yang berkuasa adalah channel Playhouse, Disney atau Cbeebes. Tiap kita ganti ke channel lain pasti ada yang teriak “gak mau iniiiii…film Lalas ajaaa..film anak-anak” *tepokjidat*.

Back to CSI, serial film ini lumayan bagus dan booming. Kalau yang suka cerita tentang penyelidikan, pembunuhan, polisi-polisi atau yang generasi jadul dulu ngikutin serial Hunter, Remington Steele dsb, pasti suka deh. CSI bercerita tentang penyidik/investigator tapi bukan detektif macam si Hunter, team ini lebih ke penyidik forensik. Jadi mereka yang mengumpulkan barang bukti, menyelidiki satu-persatu, mencari sidik jari, menjalankan tes DNA dll. Berarti lebih di belakang layar dan setiap hasil penyelidikan akan menghasilkan bukti yang membantu detektif/polisi untuk menangkap si pelaku kejahatan.

Untuk serial CSI ini sendiri sudah menjadi franchise, yang tadinya pertama kali hanya muncul versi CSI yang berasal dari Las Vegas, kemudian ada versi CSI Miami dan New York. Kalau aku cuman ngikutin versi Vegas dan New York. Aku gak suka yang versi Miami, selain kasusnya suka lebay, si supervisor yang namanya Horatio juga sama lebaynya. Gambarnya juga lebih gak enak dilihat, warnanya merah gimana gitu, kalau yang ngikutin pasti tau deh yang aku maksud. Favorit seh tetap yang versi Vegas, ceritanya lebih asik bahkan suka ada kasus yang bersambung.

Eniwei buswaaay, ternyata CSI ini ada versi exhibitionnya dan sejak Desember 2010 kemarin ada di MOI kelapa gading. Kita bisa main jadi anggota team CSI kayak di film aslinya. Wah sebagai fansnya CSI terutama Gil Grissom, aku dan hubby tertarik banget nih utk ikut main. Setelah denger iklan di radio tentang harga HTMnya jd ragu juga secara mahal bok, wikdeis 100rb dan wiken 150rb. Sebagai emak irit binti pelit, langsung berasa sayang aja ngeluarin duit segitu apalagi buat berdua. Jadi radar banci kuis pun kita aktifkan, dan memang kebetulan juga di radio UFM diadakan kuis berhadiah tiket HTM main CSI utk 2 orang pula. Rajin lah kita, aku dan hubby ikut live kuisnya tiap hari, tp emang belum beruntung..kita kalah terus. Eh tapi jangan sedih, bukan banci kuis namanya kalau menyerah gitu aja. Di twitter ternyata ada juga kuis dari UFM, cuman follow doank dan kalau menang dapet 2 tiket juga. Alhamdulillah banget, akhirnya Allah SWT mengabulkan doa kami, dan terpilihlah aku jadi pemenangnya *lebay*.

Akhirnya wiken kemarin, aku dan hubby baru sempet untuk njajal main CSI. Sebenernya bulan lalu dah janjian ama kru UFM dan pemenang yang lain utk main bareng, tapi berhubung ada masalah teknis, Laras gak mau ditinggal di MoiLand dan udah kelaparan, jadi gatot.

Sampai di tempat permainan CSI, kita lapor ke bagian tiket krn kita dah punya undangannya. Setelah itu kita dibuatkan Agent ID, di booth awal, kita juga diberi alat tulis dan form penyidikan. Sebelumnya kita disuruh milih kasus dulu, kasus 1 itu kalau gak salah mobil yang nabrak rumah, kasus 2 pembunuhan seorang wanita, kasus 3 ditemukannya rangka tulang belulang. Aku dan hubby milih kasus 2 karena sepertinya lebih menantang dan seru.

Setelah memilih kasus kita masuk ke ruang briefing, yg ceritanya di brief oleh supervisor team siapa lagi kalau bukan Gil Grissom, nantinya kita jg diharuskan lapor ke dia setelah penyidikan selesai. Briefing selesai, kita masuk ke area TKP. Kalau di film, penyidik bawa kamera untuk mengambil foto semua bukti, kita cuman disuruh mengamati TKP dan menuliskannya di form dan diminta sedetail mungkin, karena dari setiap detail akan merujuk pada bukti..ceileee seru kan :D. Abis itu, kita masuk ke ruangan yang ada foto2nya, dan mencocokkan dengan yg tadi kita tulis, jadi kita bisa melengkapi yg ketinggalan.

Di kasus 2 ini, salah satu buktinya adalah ditemukannya ponsel si korban yang bernama Penny Golden. Naahh, di filmnya kan team CSI tuh hi-tek banget, peralatan semua canggih, mulai dari teknologi audio visual sampai lab crime-nya *jadi penasaran ama tim forensik sini nih*, tugas kita adalah melakukan penyelidikan terhadap ponsel si Penny ini, kpn terakhir telp, apa isi sms terakhir dll gitu deh. Abis nyelidikin HP, trs kita lanjut ke penyidikan sidik jari, dan bukti lainnya, dan pastinya tes DNA. Terakhir adalah otopsi korban, dari situ kita tau apa seh penyebab kematian sesungguhnya si korban dari sisi medis. Setelah semua bukti terkumpul kita bikin report dan lapor ke Gil Grissom. Sayang kita gak mengabadikan di kamera, di samping ga sempet, mungkin juga ga dibolehin.

Buat aku dan hubby, permainan CSI mayan asik walopun agak melenceng dari yang kita bayangkan. Di bilang seru ya gak terlalu, tp mayan lah buat sok2an ngerasain kayak yg kita liat di film. Di dalam bayangan, kita bener2 dihadapkan pada teka-teki dan puzzle yg mesti kita pecahkan. Tapi, kalau misal banyak teka-tekinya kapan selese ya maennya ;)). Untung juga seh gretongan :D. Over all, kesan kita cukup senang lah bermain CSI ini, tp kalau disuruh bayar mikir2 deh hehehe.

Untuk informasi jadwal eksibisinya diperpanjang sampai 15 Mei 2011, kemarin sempet nanya ke petugasnya. Tadinya cuman sampe 31 Maret 2011, tp berhubung dapat ijin lisencenya jadi diperpanjang. Oiya, untuk tiketnya kemarin sempet liat kalau ada diskon 20% deh.

Setiap kita selese main, kita juga dapet diploma dari Gil Grissom lhooo..ini penampakannya *narsis*

Di ulang tahun Laras kali ini, Laras banyak sekali dapat hadiah. Salah satunya dari MommiesDaily dan Purrel Salon. Kebetulan MD ngadain kuis twitter yang bertema MDkidsmakeover, untuk kiddos yang ulang tahun di bulan Februari 2011. Karena mamahnya Laras termasuk banci kuis sejati, maka dengan semangat membara Laras diikutsertakan dengan mengirim foto Laras yg paling heiitzz. Harapan supaya Laras menang sangat besar, soale selain biar dapet gretongan *makirit*..mamahnya Laras sempat sedih karena gak jadi pemenang di MDmakeover sebelumnya :(. Jadi waktu Laras diumumkan sebagai pemenang, aku sampai terharu biru dan gak menyangka sama sekali *lebay* :D.

Setelah diminta data diri, MD memberikan jadwal dari tanggal 19-25 Februari 2011 untuk Laras di make over. Karena tanggal 19-20 Feb yang kebetulan wiken itu kita semua pergi ke bandung, maka baru kemarin tanggal 23 Feb, Laras memenuhi jadwal make overnya. Tadinya sempet minta tukar jadwal, soalnya takut gak bisa pas sama jadwal yang diberikan. Secara aku ngantor sampai jam 6 sore, papahnya Laras sekarang pun sibuk berat, kadang harus nginep di kantor. Paling skenario nekatnya, aku cabut dari kantor sebentar di siang/sore hari untuk anter Laras.

Alhamdulillah banget, hari rabu tanggal 23 kemarin, papahnya Laras bisa ke kantor malam karena hari sebelumnya sudah nginep di kantor, jadi sorenya bisa anter Laras dulu. Aku juga telpon ke Purrel untuk memastikan jam bukanya, ternyata Purrel buka sampai jam 7 malam. Untungnya pula, lokasi Purrel gak jauh dari kantorku di Tendean, jadi aku ijin jam 1/2 6 sore untuk pulang duluan biar Laras bisa cepat sampai di Purrel.

Sampai di Purrel, setelah menunjukkan bukti diri dan twitter dari MD, kita diminta naik ke lantai 2. Purrel memang terdiri dari 2 lantai, lantai pertama tempat penjualan mainan bayi dan anak-anak, sementara lantai 2 adalah salonnya. Suasana lantai 2 langsung bikin Laras berbinar-binar, mungkin karena banyak mainan dan tempat duduknya juga berbentuk mobil-mobilan. Duduklah Laras di mobil warna pink sambil nonton Mr. Bean versi kartun.

Sebelum di potong rambutnya, si masnya tanya model untuk Laras. Aku bilang terserah saja, asal gak bikin lehernya Laras ketutupan. Soalnya kemarin itu mungkin karena sudah panjang melebihi leher, tiap keringetan jadi bikin leher Laras biang keringat dan gatal-gatal. Akhirnya si mas menawarkan model pendek oval, aku langsung setuju. Model rambut Laras sebelumnya bob nungging, waktu itu juga bob yang pendek.

Proses pemotongan rambut di mulai. Laras termasuk anak yang anteng sebenarnya, tapi yang namanya anak-anak pasti gak betah untuk diam terus apalagi disekitarnya banyak mainan. Jadilah sesekali Laras tengak-tengok tergoda untuk loncat dari kursinya, tapi Laras gampang di kasih tahu kalau dia harus menunduk sedikit atau diam sebentar. Si mas nya juga cukup sabar, dia akan menyesuaikan posisinya sesuai posisi Laras bergerak. Jadi gak maksain banget, kecuali kalau memang diperlukan.

 

 

 

Selesai di potong, proses selanjutnya adalah nge-blow rambut Laras. Karena rambutnya udah pendek, nge-blownya juga cuman sebentar aja. Setelah di blow, baru keliatan deh modelnya, lucuuu kayak dora the explorer tapi lebih pendek rambut Laras.

 

 

Laras sempat gak mau pulang, ngadat di tangga gak mau turun. Tadinya sih gak bilang apa-apa cuman diam aja di tangga, eh ternyata pengen main :)). Berhubung papahnya Laras mesti ke kantor dulu, dan Purrelnya juga dah mau tutup, kita bujuk deh Laras biar mau turun. Biar gak terlalu kecewa dan gak nangis, di kasih kesempatan dulu untuk naik mobil-mobilan di bawah. Sebentar gak apa-apa deh daripada penasaran hihihi.

 

Keseluruhan, aku puas dengan pelayanan dan hasil potong rambutnya Laras. Dengan fasilitas yang sebagian besar sama dengan salon anak terkenal di mal-mal itu, hasilnya sama. Bahkan harga Purrel lebih murah dari salon itu. Patut dicoba lagi lain kali deh. Makasih ya MD dan Purrel Salon buat kesempatan make over gratisnya untuk Laras :)

 

Sudah hampir 3 minggu sejak tanggal 3 Februari 2011 lalu, Laras bebas nenen dan berhasil di sapih..yaayy *jijingkrakan*. Akhirnya menjelang ulang tahun yang ke 3, berhasil juga aku menguatkan tekad dan niat untuk mulai menyapih Laras. Sebelumnya udah kepikiran untuk menyapihnya sejak lama, bahkan sejak Laras ultah ke 2. Tp entah kenapa rasanya belum tega dan masih menikmati masa-masa indah menyusui. Sebenernya ada rasa egois juga di hati, kepikiran kalau menyapih Laras pasti bakal mengurangi waktu tidurku karena pasti Laras jadi susah bobok :D.

Setelah berkonsultasi dengan teman-teman yang sudah punya pengalaman menyapih, khususnya pengalaman mak Ira yang sudah duluan berhasil menyapih Nadira, aku mulai berani untuk mencoba. Mak Ira juga menyarankan mulai menyapih di waktu aku libur kerja atau ambil cuti sekalian, jadi kalaupun terganggu jam tidurnya, aku gak bakalan ngantuk atau kecapekan. Makasi banget ya mak Iraaaaa :*. Akhirnya, aku mulai melaksanakan misi itu tanggal 3 Februari tepat di hari libur Imlek.

Sebenarnya, Laras sejak umur 2 tahun lebih sudah berkurang frekuensi menyusunya. Laras menyusu hanya waktu mau bobok saja, bobok siang saat aku tidak bekerja dan malam. Selain itu sudah bisa minum susu UHT di gelas atau susu kotak UHT yang kecil. Sebelum ulang tahun ke 2, Laras sudah aku “doktrin”, aku selalu bilang kalau Laras sudah besar, bukan bayi lagi, seharusnya Laras gak nenen lagi. Tapi doktrin itu selalu di “bantah” Laras dan dia selalu bilang kalau Laras masih bayi :)). Dikarenakan anak dan mamahnya belum siap lahir bathin, jadinya gatot deh misi menyapih sejak tahun lalu hehehe.

Dengan berkurangnya frekuensi menyusu Laras, aku jadi berpikir sebenarnya mungkin Laras sudah siap, dia hanya ingin lama bermanja-manja saja ke mamahnya, merasakan didekap dan dibelai rambutnya. Jadi tinggal akunya yang harus menyiapkan mental, karena memang proses menyapih dengan cinta atau weaning with love itu butuh kesiapan dari si ibu dan si anak. Aku ingin masa menyusui itu jadi kenangan indah buat aku dan Laras, bukan masa yang menimbulkan trauma di memori Laras.

Proses menyapih dimulai saat Laras mau bobok siang, waktu itu dia sudah siap-siap posisi dan minta nenen ke aku. Aku sudah bilang sejak pagi kalau siang dan nanti malamnya, Laras bobok gak pakai nenen. Dianya sih menanggapi dengan ketawa-tawa, dikiranya aku bercanda jadi dianya juga iya-iya aja. Laras bisa melewati bobok siang hari itu tanpa nenen walaupun butuh waktu lama, dia gak banyak protes, mungkin karena sudah terbiasa bobok siang sendiri saat aku tinggal kerja. Tapi malam harinya itu yang lumayan bikin aku juga ikutan nahan diri buat mewek. Waktu aku bilang Laras gak nenen, Laras langsung protes, merayu aku sekuat tenaga, narikin bajuku, gelisah, dan nangis sampai ngambek. Aku berusaha tetap tenang, sabar dan memberi pengertian. Aku juga menawarkan membelai rambutnya, memeluk dan menepuk pantatnya, istilahku pok-pok pantat. Laras masih saja gak mau dan terus nangis sampai akhirnya menyerah minta di pok-pok, lama kelamaan dia tertidur juga. Begitu Laras bobok, aku langsung merasa sedih mau nangis, rasanya kasihan sekali gak tega bener ke Laras.

Malam penuh rengekan, rayuan, ambekan berlangsung sampai 5 hari. Untungnya gak terlalu pengaruh ke porsi tidurku dan Laras. Kalau Laras malam-malam ngelilir minta nen juga gak terlalu susah untuk dia bobok lagi. Semakin hari Laras sudah mulai terbiasa, jadi mulai ada kebiasaan baru sebelum bobok selain berdoa, Laras biasanya minta dibacain buku cerita, dinyanyiin lagu anak yang dia sesuai list dari dia,  sampai minta dipeluk, dibelai rambutnya dan di pok-pok pantatnya. Oiya satu lagi kebiasaanya sekarang adalah pegang nen ;)). Dalam seminggu pertama memang masih butuh waktu untuk bisa bobok, biasanya kalo mulutnya nempel nen, gak sampai 15 menit langsung nyenyak boboknya. Tanpa nen butuh waktu setengah jam sampai satu jam baru bisa bobok, mungkin karena masih masa transisi jadi Laras agak gelisah. Masuk minggu ke 2 sampai sekarang sudah mulai agak cepet boboknya, tapi kadang itupun mesti dibilangin untuk cepet bobok, kemajuannya Laras sudah gak minta nenen lagi. Kalau memang sudah ngantuk sekali, hanya dengan dipeluk atau elus-elus, Laras langsung bisa bobok.

Alhamdulillah banget, sekarang sudah lega rasanya. Ternyata tidak seseram atau sesulit yang aku bayangkan. Kerja sama yang baik sudah ditunjukan oleh Laras selama hampir 3 minggu ini. Kadang Laras masih mencoba merayu atau gak sadar pas ngelilir, dia minta nen. Tapi gak pake nangis lagi dan cepet bisa diberi pengertian. Agar Laras tidak merasa sedih, sesuai dengan saran dari teman atau artikel yang pernah aku baca, sekarang aku makin sering memeluk, membelai, menciumnya. Hal itu menunjukan bahwa biarpun Laras sudah tidak menyusu lagi, tapi Laras masih bisa bermanja-manja dan mamahnya tetap sayang ke Laras. Jujur aku jadi berasa kehilangan juga moment indah itu.

Tinggal masalah yang harus aku hadapi sekarang adalah payudara yang agak nyeri dan berasa bengkak setelah proses menyapih ini. Untuk mengatasinya, aku coba rajin kompres dengan menggunakan air hangat dan air dingin sambil di massage, rasanya agak mendingan setelah di kompres.

Selesai sudah tugasku menyusui Laras, sekarang tinggal menyusui papahnya ilmu yang aku punya tentang breasfeeding tinggal aku terapkan untuk adiknya Laras nanti juga ke teman-teman yang membutuhkan. Semoga “modal” yang aku berikan untuk Laras di hampir 3 tahun kehidupannya, bisa jadi investasi jangka panjang untuk Laras. Amin