gambar di ambil dari sini

Setiap orang tua pasti kenal dengan istilah disiplin dan menerapkan untuk anak-anaknya di setiap kesempatan. Harapannya adalah agar anak-anak dapat menjadi anak yang baik, pintar, tepat waktu, mandiri dan jadi “orang”. Tapi apakah cara kita mendisiplinkan anak itu sudah tepat atau sesuai bagi si anak sendiri.

Seperti yang telah sering di dengar, jadi orang tua itu gak ada sekolahnya. Kita bisa belajar sendiri dari pengalaman melihat orang tua kita, saudara, teman, film, majalah atau buku tentang parenting. Menjadi orang tua itu proses belajar, learning by doing, kita belajar justru dari anak kita, mereka lah sumber inspirasi dan menjadi bahan praktek. Aku pernah nonton Kick Andy yang membahas soal seks bebas di kalangan remaja, dengan narasumber ibu Elly Risman, beliau mengatakan tidak ada salahnya kita rajin ikut seminar tentang parenting, bahkan kalau perlu perbanyaklah. Sepertinya sepele ya, masak jadi orang tua aja perlu ikut seminar seh. Tapi justru dengan mengikutinya, banyak ilmu yang bisa kita dapatkan.

Nah, tanggal 9 April 2011 kemarin, Supermoms Indonesia mengadakan acara seminar dengan tema “Disiplin Dengan Kasih Sayang” dan sebagai pembicaranya adalah ibu Elly Risman. Di sini, aku merangkum twitternya emakayska yang telah berbaik hati berbagi ilmu dan hasil dari seminar tersebut..makasih ya mak :). Yuk mari kita simak dengan baik, hasil copy paste tersebut :

————————————————————–

Mengapa disiplin tidak mudah?

1. Karena disiplin adalah masalah terumit didunia.

2. Karena ortu itu 2 nahkoda.

3. Kepribadian anak & ortu berbeda

4. Ortu tidak tau bagaimana cara yg tepat & benar.

5. Ayah & Ibu cenderung instan.

6. Pengalaman masa kecil mempengaruhi GAYA DISIPLIN sekarang

Anak itu titipan, selalu ingat dalam mendidik (apalagi memarahi) anak! Ingat Tuhan bisa kapan saja memanggil anak kita, jadi jaga baik² titipan-Nya.

Mengapa disiplin tidak mudah?

  • Menyeimbangkan fleksibilitas,
  • pengertian ttg anak dgn BATASAN yg tegas merupakan tantangan yg tdk mudah.
  • Sejauh mana kewenangan kita terhadap anak?
  • Hasil pendisiplinan tidak tampak segera
  • Apa yang kita petik sekarang?

Mengapa disiplin sulit dilaksanakan, sebab ortu kurang :

  • sepakat
  • model
  • sabar
  • tahu akar masalah
  • ilmu
  • terampil

Bila anak tidak disiplin hadapi dengan senyuman. Senyum memberikan Seretonin (senyawa protein yg dihasilkan batang otak yang menghentikan agresivitas). Seretonin >< kortisol (hormon stress). Bila hati senang, otak menyerap lebih banyak

Hukuman dan hadiah kurang tepat/efektif, karena:

  • datang dari luar, tidak mengajarkan kontrol internal agar perilaku itu tidak terulang
  • tidak mengajarkan bagaimana menangani emosi
  • membuat anak berpikir : yang mengendalikan, yang tanggungjawab adalah ortu
  • dan hal ini tidak efektif untuk anak dibawah 7th

Tujuan Hukuman dan Hadiah..

  • Hukuman bertujuan untuk menyakiti anak atau membuat anak menyesal telah berkelakukan tidak baik/pantas dengan harapan anak tidak akan mengulangi perbuatannya lagi
  • Agar efektif hukuman harus sangat keras sehingga anak tidak mengulang kelakuannya.
  • Hukuman dapat merusak harga diri karena menyakitkan secara fisik & perasaan anak.
  • Tidak efektif jika terlalu sering digunakan
  • Hadiah membuat anak mengharapkan ‘pembayaran’ bagi kerjasamanya yaitu UPAH.

Bagaimana dengan pukulan? ooo.. pukulan itu..

  • Anak yang dipukul akan cenderung: berperilaku menyimpang, menuntut pemenuhan/kepuasan segera dari semua keinginan & kebutuhannya, mudah frustasi,  temper tantrums, lash out physically against others.
  • Pukulan menanamkan lebih banyak ketakutan dibandingkan pengertian.

Sedangkan hukuman melatih anak:

  • takut pada ortu
  • untuk melawan ortu
  • untuk berbohong
  • untuk melakukan sesuatu tanpa ketahuan/tertangkap basah

Terus, mengapa tidak dipaksa saja untuk patuh? Jika dipaksa..

  • anak tidak akan pernah belajar berpikir apa yang baik untuk dirinya sendiri.
  • kemampuan berpikir anak menjadi kurang berkembang.
  • Anak jadi tidak punya kesempatan untuk & mengambil keputusannya sendiri
  • anak jadi mudah menjadi pengikut bukan pemimpin

Fungsi disiplin

Disiplin memberitahukan kepada anak:

  1. Hal apa yang ortu ingin dilakukaan oleh anak, mengapa ortu menginginkannya
  2. Hal yang ortu tidak ingin dilakukan anak,mengapa tidak boleh? Hal ini kemudian akan membentuk kebiasaan & meninggalkan kenangan

Apa bedanya disiplin dengan hukuman?

Disiplin:

  • membantu anak membangun kontrol dalam dirinya.
  • membantu ia merasa OK.
  • beri kesempatan untuk memperbaiki diri.
  • buat ia bertanggung jawab terhadap perbuatannya.

Kalau hukuman?

  • menunjukkan pada anak bahwa ia: nakal/jelek.
  • tidak menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan.
  • sering tidak masuk akal
  • kadang hukuman tidak berhubungan dengan kelakuan anak.

Disiplin sendiri berasal dari kata DISCIPLINA & DISCIPULUS yang artinya instruction & student : petunjuk & murid. Disiplin tidak sama dengan hukuman, latihan & kepatuhan. Disiplin itu mendidik ‘to educate’ terutama perilaku

INGAT: disiplin bukan peraturan, tapi pengasuhan yang mengajarkan kelakuan

Tujuan disiplin:

  • membangun kontrol dlm diri.
  • bertanggung jawab pada dirinya & ke Tuhan.
  • bisa bekerjasama.
  • memahami perasaan diri + orang lain
  • membuat anak kita menjadi pribadi yang menyenangkan & BAHAGIA.

 

Pendekatan disiplin dengan kasih sayang (DKS)

Bagaimana DKS digunakan ortu dalam mengambil keputusan:

  1. Mencegah/berespon thd kenakalan anak atau tingkah lakunya yang tidak patut
  2. Mempertimbangkan perasaan dibalik perilaku, membantu anak memiliki kesadaran diri & perlahan menggunakan pikirannya, baru mengambil tindakan yang akan menguatkan baik harga diri maupun rasa tanggung jawab anak
  3. Menekankan pada proses belajar, sehingga mencapai makna sebenarnya dari kata DISIPLIN

Keunikan pendekatan disiplin dengan kasih sayang:

  1. DKS: pikirkan perasaan anak.
  2. DKS: mengajukan pertanyaan untuk mengubah tingkah laku
  3. DKS: ajarkan keterampilan untuk tidak mengulangi tingkah laku negatif.
  4. DKS: gunakan kalimat² singkat & aturan 2 kalimat
  5. DKS: fokus pada hal yang positif

Manfaat menggunakan 5 langkah DKS:

  • memahami cara berpikir anak untuk bisa mendisiplinkannya
  • beralih dari model hukuman yang menyakitkan ke model pendisiplinan yang efektif & tidak merusak harga serta kepercayaan diri anak
  • memahami mengapa anak menjadi ‘nakal kronis!’ & menghindarinya

 

PENDEKATAN I DKS : PIKIRKAN PERASAAN ANAK

Anggapan yang keliru tentang tingkah laku:

  • segala tingkah laku berkaitan dengan pemikiran
  • kita percaya semua orang selalu memikirkan apa yang mereka lakukan: SEBELUM, SELAMA & SETELAH mereka melakukan sesuatu

Sehingga:

  • Sebagian besar tingkah laku didorong oleh PERASAAN/EMOSI drpd hasil PEMIKIRAN. –> Lalu, anak-anak harus dihukum karena kesalahan mereka?

Yang perlu diINGAT:

  • sambungan otak anak belum sempurna
  • harusnya EPA (emosi pikir aksi), tapi yang berlangsung EAP (emosi aksi pikir)
  • emosi berkaitan dengan kebutuhan sehingga pikiran dikesampingkan! Mis:kebutuhan u/ menang, membuktikan anda yg terbaik, benar, dsb
  • Anak belum mempelajari keterampilan beralih dari E ke P.
  • Jadi mengapa mereka harus dihukum?
  • Pikirkan Perasaannya!

2 aspek perasaan yang diperhatikan:

  1. Perasaan apa yang mendorong kelakuan/perbuatan anak?
  2. Bagaimana perasaan anak setelah pendisiplinan terjadi, jangan sampai anak merasa terhina, bodoh & takut

3 hal agar disiplin merubah tingkah laku.

Pertama: orang tersebut harus menyadari PERASAAN yang mendorong mereka melanggar peraturan.

Kedua: mereka harus mampu MEMIKIRKAN apa yang mereka lakukan & yg mungkin terjadi dari perbuatannya, apa akibatnya untuk orang lain.

Ketiga: harus mampu memperhitungkan bagaimana caranya tidak semata² karena dorongan perasaan.
Bila anak bertingkah laku tidak sesuai dengan harapan:

STOP,

LIHAT & DENGAR,

PIKIRKAN : apa perasaan yang mendorong perbuatannya?,

BERTINDAK.

Untuk mendisiplinkan anak: PIKIRKAN PERASAANNYA! Kemudian pelan² alihkan ke pikiran (sehingga membuat anak menghargai proses BERPIKIR)
Mengapa perlu memperhatikan perasaan?

  • Kasih sayang & kepercayaan : alat yg sgt efektif untuk kedisiplinan krn anak akan mengembangkan keyakinan ttg kepercayaan kita thdnya tersebut baik untuk diri mereka maupun orang lain
  • kasih sayang & pengakuan thd perasaan anak membantu mereka memperhatikan perasaannya sendiri & menyadari perbedaan pikiran & perasaan
  • perasaan & pikiran penting & perlu u/ proses pengambilan keputusan yang baik: emosi menandai awal & akhir rangkaian peristiwa
  • Perasaan adalah indikator yg sangat penting ttg apa yg terjadi ~disebut INTUISI (yg berkembang diusia 4-6th)
  • Kita suka abaikan perasaan karena ‘tidak nyaman’ dengan bahasa perasaan – bahasa respek
  • Kemampuan u/ menyelaraskan emosi dengan orang lain adalah keterampilan yg hrs dipelajari & dimulai dgn kesadaran akan emosi kita sendiri setelah itu baru belajar sadar akan perasaan orang lain

Yang membuat anak bandel : anak tidak pernah didengar & diterima perasaannya » membuatnya selalu marah, merasa tidak dimengerti » kemudian terjadi pertengkaran lisan dengan ortu/guru

Yang membuat remaja bandel:

  • remaja kebal terhadap hukuman
  • menyesuaikan diri dengan kehidupan tanpa hak istimewa
  • jadi tdk peduli dgn semua situasi
  • lebih suka dihukum
  • hukuman tdk lagi punya pengaruh yg diinginkan
  • Double Standard!

Yang dibutuhkan remaja: keS-A-B-A-Ran ortu, ketekunan,teladan » anak akan belajar menjauhkan dirinya dari emosi yang meledak ² » Masuk ke pikiran yang sehat & efektif » perilaku yang terkendali

 

Pendekatan II DKS: Mengajukan Pertanyaan untuk mengubah tingkah laku

Tapi sebelumnya, INGAT dulu 2 hal ini: Kesadaran diri adalah dasar disiplin. Pertanyaan tidak dilakukan dengan sinisme.
Mengapa anak sulit mengendalikan tingkah laku?

1. Anak jarang memperhatikan situasi sekitarnya bahkan diri sendiri.

2. Anak tidak memahami apa yg terjadi dan,

3. Tidak sadar apa yang mungkin mereka lakukan

4. Mengetahui peraturan tidak sama dengan menyadari & menginsyafi yang dikatakan orang

5. Lupa (yang tidak sama dengan TIDAK PERDULI)

Begini prosesnya: Bertanya » harus menjawab » berfikir » memeriksa diri » Kesadaran diri
Bedanya Memerintah & Bertanya.

Memerintah:

1. Anak tidak memperhatikan tingkah laku

2. Anak tidak berpikir hanya patuh

3. Tidak membangun kesadaran diri/internal tentang tingkah laku

4. Selalu perlu dikendalikan

5. Tdk tahu apa yang akan dilakukan lain kali,

6.Tanggung jawab pada ortu,

7. Otoritas eksternal

Bertanya:

1. Anak memperhatikan yang dilakukannya,

2. Membuat anak berpikir sebelum berespons,

3. Menggugah kesadaran diri

4. Anak mengendali dirinya,

5. Tahu apa yang akan dilakukan lain kali,

6. Tanggung jawab pada anak,

7. Otoritas Internal

Otoritas internal VS otoritas Eksternal

  • Kalau anak hanya memperhatikan ortu/otoritas eksternal : anak akan bermasalah ketika harus mengembangkan kesadaran internal tentang apa yang harus dilakukan ketika ortu tidak ada
  • otoritas eksternal penting » keselamatan hidup (mis: jangan pegang colokan listrik! jangan nyebrang!!)
  • otoritas internal » sadar diri,menyadari apa yang sedang dilakukan, mengambil keputusan bagaimana respons tepat/atau yg terbaik tanpa harus diberitahu ortu.
  • Kesadaran diri adalah awal pengembangan otoritas internal

Syarat bertanya : Tidak dalam nada: menuduh, menyindir, menunjukkan bahwa anak bodoh & tidak paham » membuat anak membela diri » tidak mengundang perhatian anak terhadap tingkah laku mereka

INGAT: kadang membutuhkan waktu yang lama untuk remaja menyadari bahasa tubuhnya

Langkah ² disiplin:

  • Buat aturan
  • Sepakati bersama
  • Diterapkan
  • Konsekuensi-evaluasi

Dasar merumuskan aturan: katakan pada anak mengapa aturan perlu:

“ayah & ibu sayang & perduli sama kamu” ;

“Kami ingin kau terlindungi & aman” ;

“kami menginginkan budi bahasamu baik” ;

“kami ingin kamu mandiri & bertanggung jawab” ;

“kami ingin kamu tahu bagaimana belajar hidup bersama orang lain & menyenangkan”

Kunci membuat aturan:

  • aturan: seperangkat harapan thd anak berupa panduan & batasan;
  • didasari: kepedulian & cinta
  • yang penting dulu, satu² ;
  • batasan harus jelas alasannya;
  • masuk akal
  • libatkan anak;
  • jelas & positif;
  • konsisten;
  • konsekuensi

Penerapan aturan:

  • saling respek;
  • jelaskan aturan & pastikan anak mengerti;
  • minta anak mengulanginya;
  • pastikan aturan sangat perlu
  • Ceritakan: anak mengerti konsekuensi (konsekuensi ada 2: Logis & Alamiah)

Berikut contoh dialog Otoritas Internal :

Ibu: ‘kamu lagi apa nak?’

anak: ‘main games’

Ibu: ‘aturan apa yang pernah kita sepakati?’

anak: ‘main games 2 jam’

Ibu: ‘jadi adek sdh main berapa lama?’

anak: ‘Ya 2 jam’

Ibu: ‘apa yang perlu adek lakukan sekarang?’

anak: ‘mematikannya’

Ibu: ‘oke,tolong lakukan sekarang juga,nak!’

anak: ‘yaaa..tanggung neehh maaaaa!’

Ibu: ‘Maaf nak..sesuai dengan kesepakatan, SEKARANG JUGA’

Pendekatan III DKS:

Ajarkan keterampilann untuk mengulang tingkah laku negatif

Pentingnya mengajarkan ketrampilan mengatasi emosi/kendali diri & keterampilan sosial:

  • komponen ‘mengajarkan’ sering diabaikan dalam ‘pendisiplinan’ anak
  • orang dewasa harus membantu anak & remaja mengembangkan kemampuan yang mereka perlukan untuk mencegah mereka mengulang tingkah laku negatif
  • mereka harus DIAJARI: TIDAK bereaksi atas dasar emosi,memikirkan konsekuensi dan & bagaimana membantu diri sendiri melakukan apa yang mereka tidak suka

Tujuan mengajarkan keterampilan untuk mengatasi emosi :

  • untuk tetap di jalur yang benar dan hidup sehat secara produktif
  • untuk menenangkan diri saat mereka sangat marah/sedih
  • untuk menggunakan kata-kata dan bukan aksi
  • untuk menaati aturan yang tidak mereka setujui/tidak mereka suka
  • untuk memperhatikan perasaan orang lain
  • untuk tetap focus
  • untuk berhenti saat mereka merasa tdk ingin berhenti
  • untuk membuat mereka mau mengerjakan sesuatu,bahkan ketika mereka tdk ingin bekerja
  • untuk menangani frustasi/kecewa
  • untuk menangani kesuksesan
  • untuk memperhatikan ruang orang lain

Tujuan mengajarkan:

Keterampilan kendali diri/sosial

  • untuk merespon orang yang berwenang
  • untuk bekerjasama dengan orang lain
  • untuk mengambil gilirannya
  • untuk bersikap sopan dan penuh hormat
  • untuk tetap hormat bahkan ketika orang lain bersikap kasar
  • untuk berkata ‘tidak’ kepada teman sebayanya
  • untuk meminta bantuan saat mereka membutuhkannya

Cara-cara mengajarkan keterampilan mengatasi emosi/kendali diri dan keterampilan sosial:
1. bertanyalah terlebih dahulu

2. anak belajar melalui permainan

3. berikan contoh yang baik

4. memberikan pengertian tentang cara kerja otak EPA

5. mengkaji ulang tingkah laku yang dapat diterima bersama anak

6. temukan keterampilan yang hilang

7. bagaimana mengajarkan keterampilan tersebut

 

Pendekatan IV DKS : Gunakan kalimat² singkat & aturan 2 kalimat

2 cara mengatasi situasi frustasi anak & marah sendiri:

  1. menggunakan kalimat² singkat berulang², daripada ceramah panjang
  2. Berpegang pada ‘aturan 2 kalimat’.

Berhenti bicara stlh mengatakan 2 kalimat. Semakin panjang semakin DIABAIKAN anak (Sandra Malperin Ph.D)

Alasan mengulangi kalimat² singkat:

  • Lebih baik menggunakan kalimat pendek u/ menyuruh anak melakukan sesuatu yg benar drpd melarang mereka melakukan yg salah. Misalnya: ‘Ayska,kunyah!’ Daripada: ‘Ayskaaaa jangan diemuttt makanannyaaaaaa,nanti giginya rusaakkkk!!’
  • Lebih efektif mengatakan ‘makan yg sehat’ atau ‘ingat langsing’ daripada ‘jangan makan coklat itu’
  • Pesan rutin ‘jangan‘ sangat mudah diabaikan,jadi jangan dipakai
  • pesan ‘lakukan‘ akan membuat mereka melakukan apa yang kita suruhkan daripada yang tidak boleh dilakukan
  • segera stlh mendengar pesan positif berkali²,mereka akan mengulang bagi dirinya sendiri. Tidak membutuhkan dorongan dari luar dan tidak membutuhkan banyak tenaga dari ortu
  • kalimat pendek harus: direktif, positif, fokus pada tingkah laku khusus yang perlu dipelajari anak
  • kalimat tsb hanya terdiri dr 2-3 kata,bisa 1 kata, sebaiknya mengingatkan anak untuk mengendalikan diri

KIAT²nya:

  • kata² singkat menjadi ‘rambu²lisan’ bagi anak
  • ulangi kata² mantap & positif krn bila beralih kenada marah & tajam,menimbulkan reaksi emosional anak bukan proses berpikir
  • tujuannya adalah supaya anak terbiasa berpikir
  • jangan menggunakan kalimat direktif yg dikaitkan dengan potensi pribadi anak
  • hindari untuk mengomentari ketidakmampuan anak untuk bertindak tepat atas inisiatif sendiri. ‘Kog adek gak bisa sih?’
  • kalimat pendek-ya pendek! tidak dilekatkan pada kata/komentar lain, krn akan kehilangan kekuatan & tidak efektif sebagai alat disiplin

Jelaskan & buat kesepakatan terlebih dahulu

  • agar penggunaan kalimat pendek berhasil,anak hrs terlatih u/ mengerti apa yg diharapkan untuk dilakukan saat ia mendengarnya
  • Jadi jelaskan pada anak & buat kesepakatannya
  • mulai saat ini & seterusnya kalau mama bilang ‘tetap kerjain‘ itu berarti kamu harus kerjakan sampe selesai. Kamu bisa bilang sama dirimu sendiri:’tetap kerjain tugas‘, jadi kita tdk harus berdiskusi setiap saat perhatianmu beralih,bisa kan?

Contoh dialog khas ortu:
Ortu : ‘Nadia!, kerjakan PRnya.kamu tdk boleh keluar untukbermain sampe PRnya selesai. Kalo kamu mau pasti kamu bisa menyelesaikannya. kamu selalu saja menjadikan yang gampang jadi lebih sulit. Kerjain terus ya, jangan beranjak sebelum selesai’
Sebaiknya:

ORTU: ‘nadia,terus kerjakan!’ Atau ‘Nadia,fokus!’
Pilih kalimat dgn hati-hati.

  • Putuskan kalimat apa yg plg berhasil u/ suatu situasi.
  • Ingat apa yang perlu dipelajari anak
  • Tujuannya adalah membantu anak membangun keterampilan manajemen tingkah laku yg terinternalisasi
  • ingat..pelatih sikap sama dengan pelatih atletik

Manfaatnya

  • tidak terlibat dlm perdebatan yg panjang & melelahkan.
  • Hal ini bagus untuk semua pihak
  • mengurangi banyak tekanan & masing² tidak dicurangi.
  • Anak² belajar menerima keputusan yang lebih cepat

 

Pendekatan DKS 5:Fokuslah pada hal yang positif

Mengapa perlu?

  • Anak suka mengetes kemampuan ortu & guru untuk memelihara caara pandangg yg positif secara sungguh²
  • Kita penting mengetahui kekuatan watak personal & tingkah laku baik dari anak
  • Hal ini membantu bagaimana menolong anak menggunakan kekuatan positif mereka sendiri u/ mengatasi & menghentikan tingkah laku negatif
  • Pendekatan ini juga menolong anak untuk tidak merasa selalu salah & jelek & itu diketahui semua orang
  • Juga membantu menunjukkan kepercayaan & pengenalan bahwa anak memiliki bakat, pembawaan atau watak positif
  • Semakin awal semua hal yang positif pada anak dikenali & DIAKUI, semakin cepat kelebihan tersebut berkembang

Hal yang perlu diperhatikan :

  • Anak-anak peka terhadap harapan orang dewasa. Berilah harapan positif pada anak kita
  • Seringlah memuji.
  • Pujilah perbuatannya & bukan orangnya
  • Pujian sederhana juga berhasil
  • Bantu anak kita melihat masa depan.
  • Gambarkan masa depan dengan istilah yang emosional

Mabukkan jiwa anak dengan kasih sayang,lindungi OTAKnya. Karena anak kita memasuki era BRAIN to BRAIN COMPETITION

———————————————-

Demikianlah uraian yang lumayan cukup panjang, tapi amat banyak sekali ilmu yang bisa kita ambil dan kita terapkan untuk anak-anak kita. Semoga kita bisa menjadi orang tua yang “pintar” dan semoga bermanfaat :)

 

 

Leave a Reply









Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.