gambar diambil dari sini

Emak2 manapun pasti pusing banget kalau anaknya lagi GTM, jadi stress, senewen, hopeless, atau bahkan kadang merasa bukan ibu yang baik karena anaknya gak mau makan. Kalau sudah begitu, akhirnya kita curhat di jaringan sosial macam FB dan twitter atau bahkan ke milis, berharap dapat pencerahan atau sekedar cari temen senasib trs nangis bareng..lebay ya kl itu seh hehehe.

Sebenernya apa seh GTM itu? GTM adalah singkatan dari Gerakan Tutup Mulut yang biasanya terjadi pada anak yang sudah mulai makan. Si anak menolak utk makan atau tutup mulut saat disodori makanan. Masalah kesulitan makan yang dihadapi orangtua khususnya ibu-ibu gak cuman GTM aja seh, ada yang anaknya jadi anak yang picky eater, ada juga yang suka mengemut atau melepeh makanan.

gambar diambil dari sini

 

Kebetulan hari sabtu kemarin tanggal 2 April 2011, aku mengikuti seminar yang diadakan oleh Mamakokihandal dalam rangka ulang tahun milis mpasirumahan ke 3 di Kemang Village. Seminar tersebut bertema “Cara Andal Mengatasi Gerakan Tutup Mulut Anak” dengan pembicara dr. Yossi Arioseno, salah satu moderator milis mpasirumahan dan Mbak Alzena Masykouri M.Psi, salah satu advisor untuk majalah Parents Indonesia. Banyak sekali hal yang aku dapatkan dari mengikuti seminar tersebut yang bisa aku praktekan ke Laras, karena selama ini memang Laras agak susah makannya. Beberapa hal membuat aku merasa tertohok karena cara yang selama ini aku terapkan ke Laras salah tidak tepat. Apa aja seh itu, yuk mari kita beberkan disini.

Sebelum membahas lebih detil soal GTM, dibahaslah hal dasar dulu yaitu tentang MPASI atau Menu Pendamping ASI. Disebutkan bahwa usia anak yang siap untuk mendapatkan makanan pertama/Mpasi dan direkomendasi oleh WHO adalah 6 bulan. Pada usia tersebut anak sudah mampu mencerna makanan hampir menyerupai orang dewasa. Alhamdulillah Laras juga memulai Mpasi-nya di umur segitu setelah ASIX 6 bulan. Kita juga bisa melihat tanda-tanda kapan si anak sudah siap untuk mendapatkan makanan pertama, tandanya adalah si anak sudah bisa duduk, bisa mengontrol kepalanya, bereaksi terhadap sendok, koordinasi tangan dan mulut sudah baik dan tidak melepeh/memuntahkan jika diberikan makanan.

Di milis mpasirumahan selalu diajarkan prinsip tersebut di atas, dan saat mengenalkan makanan pada anak dianjurkan untuk memberikan 1 jenis makanan yang sama selama 4 hari berturut-turut, untuk mengetahui apakah si anak alergi terhadap jenis makanan tersebut. Makanan harus mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh seperti zat besi, zinc untuk imunitas tubuh dan konsumsi cairan yang dianjurkan adalah ASI/sufor/air mineral.

Disebutkan juga bahwa makan yang sehat itu harus bisa membentuk good habit anak, memenuhi kebutuhan gizinya dengan memperhatikan piramida nutrisi sebagai acuan makan,  juga memenuhi kebutuhan sosialnya. Membatasi penggunaan gula dan garam sangat sekali direkomendasikan saat memulai mengenalkan makanan pertama ke anak.

Setelah anak mulai mendapatkan mpasi, muncul beberapa masalah yang biasanya dihadapi, yaitu:

  • Malnutrisi, bisa berupa obesitas, underweight, bisa juga kekurangan vitamin
  • Alergi makanan
  • GTM, disebabkan oleh organik dan non organik. Organik biasanya karena adanya sariawan atau kekurangan hormon tertentu. Non organik bisa karena psikis. Dan yang di bahas di seminar dengan detil adalah soal GTM ini.

Mbak Alzena membahas masalah GTM ini lebih ke sisi psikologis atau yang disebabkan non organik. Beliau menyampaikan dengan santai, ringan tapi mengena tepat langsung ke sasaran. Sebelum beliau membahas dengan mendalam, satu hal yg diminta ke kita para peserta seminar, apa itu? Ternyata cuma hal sepele…SENYUM :). Mbak Alzena bilang, dengan senyum suasana hati kita jadi senang, kita jadi tenang dan auranya juga enak. Itulah yang seharusnya terjadi saat kita menyuapi / menemani anak kita makan. Deegg..tohokan pertama kena di jantungku, baru sadar kalau aku jarang sekali senyum saat nyuapin Laras :(. Seringnya nih muka dah kenceng aja, senyum di awal tapi lama-lama urat muka mulai tegang, nada suara tinggi apalagi kalau Laras dah mulai lama dan ngemut, puncaknya kalau Laras mulai eneg, huwek trus melepeh makanannya, pasti langsung bentakan yang keluar dari mulutku :(.

Dijelaskan oleh mbak Alzena, anak saat makan itu sangat dipengaruhi oleh emosinya. Untuk itulah, kita harus menciptakan suasana semenyenangkan mungkin, agar anak mau makan dengan hati yang riang gembira. Jangan dibuat saat makan itu seperti paksaan atau hukuman, si anak harus mengerti bahwa makan itu adalah suatu kebutuhan untuk dirinya sendiri. Dan itu harus dipelajari oleh anak kita, karena makan itu sendiri adalah suatu proses belajar terstruktur yang pertama bagi anak.

Kapan anak biasanya mulai GTM? Anak mulai GTM biasanya di umur 9 bulan – 3 tahun, atau saat anak belum dapat berkomunikasi lisan dengan baik. GTM adalah sarana si anak untuk menyampaikan pesan/berkomunikasi ke kita orang tua atau pengasuh yang menyuapi mereka makan. Kalau sudah di atas 3 tahun, biasanya si anak sudah bisa bilang, “Ma, aku gak mau makan”, “Ma, aku maunya makan ini, ga mau itu”, “Ma, makannya nanti aja, aku kenyang” atau berbagai bentuk protes yang lain.

Pada usia 9 bulan – 3 tahun, setiap anak melalui proses eksplorasi dan pengendalian, hal itu juga berlaku pada saat makan. Kita bisa lihat pada anak yang sehat, normalnya di usia 9 bulan itu lagi asik-asiknya mencoba, aktif dan menjelajah. Kalau disuruh makan sendiri biasanya dia kan coba memainkan makanannya, coba memasukkan sendiri makanannya ke mulut dan sebagainya. Anak umur segitu cenderung cepat bosan, tidak tahan untuk tenang atau berdiam lama. Tapi kita harus mulai mengajarkan ketertiban, diajarkan kalau makan itu duduk dan tidak jalan-jalan apalagi nonton tivi. Ini dia yang menohok jantung lagi, selama ini Laras kalau makan selalu di depan tivi sambil nonton acara anak kesukaannya, kadang sambil main atau kadang sambil jalan-jalan. Awal mulai belajar makan, memang masih tertib duduk di bouncer atau highchairnya, tapi karena bosan lama kelamaan aku bolehkan untuk sambil melakukan aktivitas lain, yang penting Laras mau makan. Pengertianku untuk menciptakan suasana kondusif biar Laras mau makan itu ternyata tidak tepat..wakwaaaww.

Saat anak makan sambil melakukan aktivitas lain apalagi menonton tivi, akan membuat dia lupa kalau dia sedang makan. Anak belum bisa melakukan multitasking, dan itulah yang bikin anak mengemut makanannya. Mbak Alzena juga menyebutkan kalau tivi itu adalah perusak masa depan yang sangat murah. Beliau menganjurkan kalau anak di bawah umur 2 tahun sebaiknya tidak menonton tivi, karena dengan terbiasa melihat benda bergerak otot matanya jadi terbiasa diam. Hal itu yang akan membuat anak jadi malas membaca, dimana kegiatan itu membutuhkan otot mata yang aktif bergerak. Setelah anak berumur 4 tahun baru dibolehkan menonton tivi itupun 1 jam sehari.

Setelah anak berumur lebih dari 9 bulan atau menjelang 3 tahun, anak masuk ke tahap pengendalian. Pada saat ini anak sudah bisa melakukan tawar menawar dengan kita, karena dia sudah mulai menunjukkan kemandiriannya dan dia akan mulai mencoba mengendalikan orang lain. Anak akan mulai memilih-milih makanan yang dia mau sehingga kalau kita biarkan, anak akan jadi anak yang picky eater atau bahkan bisa memanipulasi keadaan. Disinilah peran kita sebagai orang dewasa atau orang tua dituntut untuk menjadi orang yang lebih punya kendali di banding si anak. Kita tunjukkan kalau ada aturan saat makan, tegas tapi tidak kasar.

Lalu gimana ya kalau anak kita sudah terlanjur GTM? Dalam mengatasi GTM kita sebagai orang tua seharusnya logis, tenang dan kenali karakter dan tahap perkembangan anak. Logisnya gimana ya? Kita harus ngerti dulu kalau tiap anak itu unik, kemampuan makannya berbeda. Jadi semua anak tidak punya patokan untuk makan dengan porsi yang sama. Bisa jadi anak kita cuman bisa makan porsi sedikit, contohnya Laras. Laras itu kalau makan tidak bisa sekali banyak, makan sedikit saja langsung bilang kenyang, kalau sudah begitu, makannya langsung melambat dan jadi lama. Jadi kalau anak mulai GTM, kita harus amati dalam sehari itu seberapa banyak konsumsi makan/minum anak kita, hal itu bisa dicatat. Kalau memang ada makanan lain yang masuk sebelum makan besar, seperti cemilan lebih banyak, kita bisa atur jumlah cemilannya. Jangan berikan susu dekat dengan waktu makan, atau kurangi jumlah susu biar anak lapar pada waktunya.

Bersikap tenang, emang seh ini bakal susah banget. Emak mana seh yang gak panik demi melihat anaknya gak mau buka mulut atau makannya lama atau di emut. Kita mesti tetap di jalur yang tepat dan tidak perlu mengubah aturan atau “mengalah” ikut kemauan anak asal anak mau makan. Mungkin kalau anak tidak mau makan sayur, kita bisa ajarkan atau contohkan kalau makan sayur itu enak dan sehat. Atau kalau si anak mengemut makanan, kita bisa ajarkan kalau makan itu harus dikunyah, ajak dia menghitung saat mengunyah dan kemudian di telan. Anak bisa diberitahu kalau makanan di emut akan menyebabkan gigi kita sakit dan sebagainya. Dan yang terpenting keluarga harus mendukung, jangan sampai anggota keluarga malah menjatuhkan kita atau membuat kita patah semangat.

Kenali karakter anak dan tahap perkembangannya, orang tua harus sensitif terhadap hal ini. Pesan yang disampaikan anak lewat GTM harus bisa ditangkap oleh orang tua. Sampai dimanakah perkembangan si anak, apakah anak GTM karena sudah tidak mau makan bubur, atau giginya mau tumbuh atau bosan dengan menu makanan yang itu-itu saja. Kita harus siap untuk selalu membuat makanan yang bervariasi agar si anak tidak bosan.

Last but not least, yang diajarkan oleh Mbak Alzena sebaiknya dalam kegiatan makan tidak ada punishment dan rewards. Ajarkan anak untuk bangga terhadap dirinya kalau dia bisa menghabiskan makanan, ciptakan rasa berhasil untuk si anak. Kita bisa ambil makanan sedikit dulu, selanjutnya bisa menambah porsi jika si anak mau. Dan jangan senewen apalagi pakai mengancam, sabar harus jadi teman kita. Mbak Alzena mengatakan bahwa inti dari semua kegiatan orang tua dan anak, termasuk makan adalah komunikasi. Dengan komunikasi yang baik, insya Allah masalah apapun termasuk GTM dapat diatasi dengan baik.

Sepulang dari seminar, aku langsung mempraktekan pelajaran yang aku dapat. Pas makan malam, aku ajak Laras makan di meja makan, aku mulai dengan berdoa, senyum dan ajak Laras ngobrol. Kalau Laras mulai ngadat, aku coba alihkan perhatiannya, karena memang untuk seumur Laras yang 3 tahun, dia hanya sanggup fokus selama 3 menit. Memang tidak mudah mempraktekannya, tapi Alhamdulillah makan malam jadi lebih cepat. Mbak Alzena menganjurkan waktu maksimal 45 menit saja untuk makan, sebelumnya aku ngambil waktu 1 jam sekali makan, habis tidak habis harus di stop setelah 1 jam. Keesokan harinya, aku juga ajak makan Laras di meja makan, tidak gampang karena dia biasa makan di depan tivi, jadi dia tetap merengek makan di depan tivi. Tapi aku coba memegang kendali, dan Laras menurut. Kegiatan makan jadi lumayan ada kemajuan. Aku juga minta ke si mbak, mulai sekarang kalau makan harus duduk dan makan di meja makan. Mudah-mudahan cara ini bisa terus berlanjut dan jadi kebiasaan buat Laras. Aamiin.

Makasi buat dr Yossi dan Mbak Alzena untuk pencerahannya, makasi juga untuk Mamakokihandal yang dah membuat dan menyelenggarakan seminar bermanfaat ini. Selamat ulang tahun juga utk milis mpasirumahan yang 3, smoga makin kece, makin yahud dan banyak ilmu yg bisa didapat. Gak nyesel deh gabung ke milis ini, walaupun cuman sekedar jadi silent reader tapi banyak sekali ilmu yang dah aku dapat. Mulai dari Laras belajar makan sampai sekarang Laras umur 3 tahun. Sukses terus dah..:D

 

 

 

Leave a Reply









Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.