Tau donk cerita dongeng tentang putri cantik baik hati dan pangeran tampan seperti cerita cinderella, snow white, beauty and the best dsbnya? Sang putri yang awalnya hidup menderita, susah terus, di siksa, di racun, punya musuh, tapi di akhir cerita tiba-tiba ketemu pangeran yang kemudian melamarnya, menikah dan hidup bahagia selamanya. Cerita macam begini ini yang jadi inspirasi untuk semua anak-anak perempuan, termasuk aku dulu. Kita jadi bermimpi dan berangan-angan, kelak kalau udah besar bertemu pangeran tampan, terus dilamar, dan menikah dengan pesta mewah bak di negeri dongeng.

Buat sebagian orang, mimpi itu terwujud, tapi buat sebagian lainnya belum tentu, terutama di bagian pesta mewahnya :D, atau boro-boro ketemu pangeran tampan, dapet yang pas-pasan mukanya aja dah untung banget. Aku contohnya, dapet suami romantis ?? eeerrr kayaknya jauh deh, yang penting tiap bulan dapet setoran aja dah romantis tapi sikap romantis itu gak cuma harus ngirim bunga atau ngajak candle light dinner terus kan? Perhatian aja sudah cukup kok..uhuuuk prikitiiiiiwww, lupakan saja yang barusan :D

Saat masuk ke masa dimana kita dan pasangan mulai punya rencana untuk menikah, pasti harapannya kelak kita akan bahagi selamanya kayak di cerita dongeng. Sama, akupun dulu begitu.Tapi ternyata kita juga harus siap mental dengan segala keadaan, karena gak mungkin kehidupan pernikahan itu bakal lurus terus seperti kisah Cinderella. Tonton aja film Shrek, cerita dongeng yang lebih realistis tentang kehidupan berumah tangga sang putri dan pangeran. Intinya setelah kita mantap dengan keputusan, Bismillah aja, minta agar keputusan kita di ridhoi oleh ortu & Allah SWT, dan juga kelak jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Aamiin.

Setelah masuk di dunia rumah tangga, ternyata bener, gak segampang yang dikira, gak seindah saat pacaran, terutama pacarannya ala Rano Karno & Yessi Gusman di film Galih dan Ratna *book jauh amat yak ngambil contohnya*. Tapi bukan berarti rumah tanggaku gak indah atau aku gak bahagia, terus nyesel dengan keputusan menikah.

Ternyata bener juga kata sesepuh, intinya hidup berumah tangga dan berdampingan itu adalah keikhlasan dan terus mau belajar menerima pasangan kita. Memang dari awal pasti kita udah tau dan mau terima apa adanya dari semua kebaikan ato keburukan si pasangan, tapi ternyata masih aja setiap hari selalu ada “kejutan”, disinilah tantangan dan ujiannya.

Sewaktu masih pacaran, aku dan si papah emang gak pake acara jaim atau berpura-pura, semua terjadi apa adanya, bahkan “borok”nya dikeluarin dari pertama. Hal itu terjadi karena awalnya kita temen, dah kenal lama dan sudah terbiasa ketemu tiap hari, tapi dari sekian tahun itu, tetep aja kadang ada rasa gak sabar ngadepin kebiasaan masing-masing. Jadi kebayang aja yang baru ketauan aslinya setelah nikah, apalagi yang kemaren rame kasus si suami baru tau kalo istrinya ternyata cowok tulen..dueeeeng!!.

Jujur, aku sendiri ngerasa masih jauh dari kriteria istri idaman, penyabar, ikhlas apalagi solehah endebre-endebre. Masuk usia pernikahan yang ke 5, makin banyak ujiannya. Dulu aku pernah denger kalau 5 tahun pertama pernikahan itu adalah masa kritis, kalau kita bertahan akan ujian di periode itu, dijamin kedepannya bakal lebih mudah menghadapinya. Trus apa kabar pasangan yang dah berpuluh-puluh tahun nikah, keliatannya adem ayem, akhirnya menyerah juga dan divorce ya?.

Setiap rumah tangga pasti punya masalah masing-masing. Apa iya ada keluarga sempurna, suami istri keren, karir sukses, anak lucu dan pinter trus bebas dari masalah. Kayaknya gak ada ya, buktinya di socmed rame bener tuh orang pada bikin status galau :D. Tapi kan semua tergantung si individu dan si pasangan menghadapinya. Teorinya sih harus selalu ada komunikasi, sabar dan ikhlas

gambar dari sini

Kemarin sempet baca novel karangan Clara Ng yang judulnya “Tea For Two”, ceritanya tentang KDRT, bagus banget dan bikin aku merinding. Ternyata kisah seperti itu gak cuman ada di novel, film, tivi, ato dialami sama artis aja lho, hal itu bisa terjadi sama sapa aja. Sedih banget pasti rasanya menjadi orang yang mengalami KDRT ya. Cita-cita dan harapan akan bahagia saat nikah, langsung hancur berantakan gak cuma batin tapi juga fisik :(. Dan biasanya, saat pacaran si lelaki bersikap manis dan romantis banget, tapi kenyataannya ternyata dia gak lebih dari lelaki sadis yang beraninya sama perempuan. Ada juga yang sejak pacaran udah nunjukin gejala kesadisannya, tapi si perempuan tetap memberi kesempatan. Kadang aku gak abis pikir dengan para lelaki sadis itu, kok beraninya sama perempuan sih? apa dia gak punya hati apa ya?

Ada lagi kasus tentang perselingkuhan, baik cuman sekedar flirting, one night stand, hubungan gelap bahkan kawin siri. Dan hebatnya, ternyata pelakunya gak cuman kaum suami aja, tapi juga si istri bisa berbuat demikian. Terima kasih pada kemajuan teknologi, perselingkuhan ternyata banyak yang berawal dari situ, dengan banyaknya socmed sepertinya semakin memperlancar niat orang yang emang pengen begitu. Mungkin ada juga yang gak berniat seperti itu, tapi seiring berjalannya komunikasi yang intens, kelamaan seperti menemukan hal lain yang gak ada atau yang gak di dapet dari pasangannya.

Banyak cerita teman atau kenalan yang aku dapat entah dari gosip, fakta atau curhatan tentang mereka yang sedang mengalami masalah rumah tangga baik ringan, sedang sampe berat. Dari situ aku jadi ikut belajar, baik dari cara pandang mereka menghadapi masalah atau bagaimana akhirnya mereka mendapat solusinya. Menjadi pendengar yang baik adalah yang bisa aku lakukan, karena dengan cara begitu mungkin aku bisa membantu, juga dengan doa. Memberi usul atau solusi, aku gak berani, kecuali kalau di minta.

Berdasarkan pengalaman itu, biasanya mereka bisa bertahan atau keadaan jadi baik lagi karena mereka memikirkan anak. Memang ternyata anak itu bisa membuat kita bisa mengalahkan ego masing-masing. Walaupun ada juga yang akhirnya gak bisa bertahan, mungkin salah satunya untuk masalah KDRT. Justru karena kita memikirkan diri sendiri dan anak, kita harus lepas dari kehidupan rumah tangga yang menyiksa itu. Ada juga sih yang bukan kasus KDRT, tapi dengan alasan kalau rumah tangga dilanjutkan, justru kasian sama anak-anaknya kelak. Biasanya yang pake alesan gitu tuh seleb, *yah kebiasaan nonton enpotenmen, jadi apal :p*, udah gitu pake alesan “justru karena kami saling mencintai, maka kami harus berpisah”..WTH !!! *esmosi dah jadinya sayah*

Aku sendiri bukan dari keluarga idaman, yang punya kehidupan indah dari kecil, orangtua yang lengkap dan selalu di manja. Aku inget banget, waktu kecil gak jarang aku iri liat teman-teman yang punya mama dan papa yang bisa diandalkan setiap waktu. Memang benar, sering anak yang jadi korban dari keegoisan orangtua, walopun aku juga gak bisa nyalahin keputusan yang diambil ama ortuku, justru sering aku menyalahkan diri sendiri.

Sekarang setelah dewasa dan punya keluarga sendiri, terutama Laras, aku berusaha berdamai dengan semuanya. Semua jadi terasa ringan setelah aku mulai bisa ikhlas menerima segala cobaan. Justru dengan latar belakang yang aku alami, aku berusaha untuk mengambil hikmahnya, aku ingin Laras bahagia terus dan gak ngerasain apa yang aku alami. Aku ingin Laras mempunyai orangtua yang lengkap dan kalaupun harus tidak, itu hanya karena maut yang memisahkan. Aku juga ingin Laras hidup dengan nyaman di tengah keluarga yang hangat, dimana dia bisa bebas bercerita, bermanja-manja, dalam arti orangtuanya sering memberikan pelukan dan ciuman mesra, punya orangtua yang selalu bisa diandalkan tanpa menghilangkan sikap mandiri. Pokoknya punya keluarga yang normal, dan aku akan terus berjuang demi itu, demikian juga si papah.

Kalau ada orang yang selalu memandang sebelah mata ke anak “broken home”, menilai kalau anak itu gak baik, nakal, egois dan nantinya bakal meniru orangtuanya yang bercerai, atau mereka memalukan dan tidak bisa dibanggakan, aku rasa itu adalah pandangan orang yang picik. Banyak juga orang-orang yang berhasil ternyata punya latar belakang broken home, mereka justru adalah pejuang sejati dan selalu ingin membuktikan mereka mampu. Memang ada sebagian yang akhirnya menjadi terlantar dan terpuruk, tapi apakah kita mesti terus menghukum mereka?

Jadi bukan impian yang muluk kan kalau aku kepengen merasakan hidup bahagia selamanya bersama keluarga kecilku seperti kisah dongeng Cinderella. Biarpun mungkin harus ditempuh dengan berjalan di kerikil tajam sekalipun. Toh sumpah pernikahan itu kan memang meminta kita harus selalu setia dengan pasangan baik suka dan duka, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, susah maupun senang. Harapanku, semoga happily ever after berlaku untukku juga, dan buat kalian semua teman-temanku tersayang ya :)

Leave a Reply









Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.