Baca postingan @irrasistible tentang poligami beserta komen2 dari para FBI (Fans Berat Ira) mayan bikin aku ngikik plus syok. Ternyata emang gak semua pereu’ mau ya di poligami, tapi sebagian lain bersedia dengan sukarela atau terpaksa. Terpaksa disini bukan terpaksa suka ya, tapi lebih karena tuntutan sikon. Yah mungkin ada orang yang bisa mengelak dari keterpaksaan itu, tapi ada juga orang-orang yang gak bisa sama sekali.

Terus, apa aku orang yang pro ama poligami? Ya gak lah!! sapa juga yang mau dipoligami *amit-amit*, boro-boro main mata, si papah dapet telpon atau chat dari cewek aja, kadang aku dah cemburu setengah mati. Yah kita kan termasuk rombongan istri-istri yang cemburuan, insecure person-kah? dunno deh :p.

Gimana kalau denger orang yang di kenal melakukan poligami, atau yang paling ringan dulu deh, sekedar main mata atau punya hubungan “terlarang”. Hmmm..spontan bakal kaget, terus maki-maki, entah itu dalam hati, di belakang orangnya atau sekalian aja di depan orangnya. Sebenernya untuk mencampuri urusannya, aku gak berani, lagian emang bukan hak kita kan ya. Daaan biasanya orang kalau lagi jatuh cinta *preet* suka jadi buta dan budeg, jadi omongan orang lain gak akan dipeduliin. So, aku paling cuman bisa bereaksi dan bilang “awaaas, ati-ati lho ya”. Jadi biar orangnya sendiri yang terima resikonya, dan pasti baru berasa kalau udah ngalamin pahitnya.

Menurutku, hidup berpoligami itu banyak ruginya, gak enak banget deh. Apa coba untungnya, selalu makan ati, bawaannya cemburuan mulu, apalagi kalau nikahnya diem-diem, emang enak hidup mesti dalam kegelisahan dan ketakutan? Takut dan malu kalau ketemu orang, takut dilabrak ama istri tua, takut diomongin orang, takut dikucilkan dari pergaulan dan lain sebagainya. “Eh tapi kan dijanjiin yang bagus-bagus dan yang enak-enak ama si dia”, yakin tuh laki bakal nepatin? yakin dia gak bakal boongin kita juga, kayak dia boongin istri pertama dan keluarganya?

Alkisah ada kisah nyata yang bisa menceritakan pahitnya hidup poligami bagi istri muda. Sebut aja istri pertama itu A dan si suami yang berpoligami B, serta si istri muda itu C. Si C mau dijadikan istri muda karena faktor sikon yang memaksa, dia gak melakukan atas nama cinta gombal tapi karena suatu hal dan kebingungan. Yah mungkin si C bukan tipe wanita modern jaman sekarang yang bisa mandiri, dan memang karena dia tidak punya pekerjaan dan harus menghidupi keluarganya karena dia lah yang jadi kepala keluarga saat itu. Mungkin saat itu si C naif, mau dijanjikan banyak hal oleh B termasuk materi dan kelangsungan masa depannya.

Singkat kata akhirnya B dan C menikah siri tanpa persetujuan A, hiduplah si C di bawah bayang-bayang si A, menjalani hidup dalam kebohongan dan kepura-puraan. Setelah beberapa tahun, C melahirkan anak hasil pernikahannya dengan B. Entah bagaimana caranya, anak mereka punya akte kelahiran dan bisa bersekolah seperti anak-anak lain. Apakah C bahagia dengan pernikahannya? Setelah punya anak, buatnya kebahagiaan anaknya adalah yang nomor 1, apapun dilakukan demi anaknya. Terus, apakah janji-janji si B ditepati selama menikah dengan C. Seperti kata orang-orang, punya istri lebih dari satu itu mah tekor, pemasukan cuma dari satu sumber, tapi pengeluarannya ke 2 dapur. Apalagi penghasilan pas-pasan, ya bakal ketauanlah gimana endingnya. C tetep kerja keras buat menambah pemasukan dari B yang gak rutin tiap bulan juga.

Itu baru dari sisi materi, gimana dari sisi batiniahnya? C diharuskan lebih banyak menerima “keadilan” dari hidup berbagi itu. Lebih banyak “jatah” bersama di rumah A, sementara C hanya mendapat waktu sedikit, itupun B harus berbohong atas nama dinas kerja ke A. Apa sehat hidup seperti itu? Belum lagi sisi psikologis anaknya, si C pun harus berbohong tentang B di depan anaknya, dan si anak juga terpaksa belajar berbohong ke lingkungannya. Jadi seperti lingkaran setan kan.

Kalau mengharap ceritanya bakal berpihak ke C, itu cuma terjadi di mimpi aja. Akhirnya C juga gak dapet keuntungan apa-apa dari kehidupan seperti itu. Dan B cukup jadi pengecut yang lebih memilih istri pertamanya dan menelantarkan C dan anaknya. Aku yakin A cukup tau perbuatan suaminya, tapi mungkin memang B dijodohkan untuknya, jadi happy endingnya berpihak ke mereka.

Kayak sinetron ya ceritanya, tapi pasti banyak cerita nyata seperti itu. Sapa yang harus disalahkan? Mungkin banyak orang yang langsung menyalahkan C, salahnya sendiri kenapa mau ngejalanin kayak gitu. Tapi, seperti yang dibilang di atas, gimana kalau emang C gak punya pilihan lain, kalaupun ada ya itu memang resiko atas pilihan yang dia ambil. Hanya Allah SWT yang bisa menilainya. Yang jelas di atas pilihan itu, aku tau dia bukan orang yang mengambil kesempatan di atas penderitaan orang lain, bukan seperti perempuan yang cuman mengatasnamakan cinta buta aja, apalagi yang terbayang-bayang senyuman belaka hehehe.

Begitulah sedikit cerita nyata yang pernah aku dengar tentang negatifnya berpoligami. Eh tapi ada juga cerita yang bagi beberapa orang jadi sisi positifnya, mungkin bisa lihat salah satu artis cantik yang bisa jadi istri muda salah satu anak mantan orang nomor satu di indonesia. Punya hidup enak dan terjamin, jadi orang yang kaya raya, bahkan bisa “depak” istri pertama dan anak-anaknya. Terus, bakal bahagia kalau udah gitu? Puas? ya mungkin untuk orang yang ambisius, itu dah jadi prestasi yang bagus. Tapi, gimana kalau nantinya, dia yang digituin juga. Iiiihh, serem ah..aku sih gak percaya karma ya karena di Islam gak kenal yang namanya karma. Tapi, Allah SWT itu Maha Adil dan Maha Tahu, cuma Dia yang bisa membolak-balikkan nasib manusia hanya dengan bilang “Kun fayakun”. Jadi hati-hati ya bermain api..

    2 Responses

  • irrasistible says...

    FBI FBI, emangnya boyband jadul yang anggotanya Indra Bekti :D

    Tapi gue setuju Rin. Meski gue gak se-jealous-an lo (hihihi..), gue tetep sebel lah kalo ada pereu yang sok manis manja ke laki gue. Mana laki gue kan kerjanya di bidang marketing, jadi kudu ramah tamah sama klien. Kalo gue cemburuan, bisa-bisa dapur kagak ngebul. Gue sih liat, sekiranya masih dalam taraf wajar sebagai klien atau anak buah, ya gue cuek aja. Tapi kalo sampe curhat, rajin sms/bbm etc, baru deh gue tanya. Soal poligami, iihh malesiinnn.. Pengen nyunat rasanya! *asah golok*

  • R33n3e says...

    ya mudah2an laki kita bukan tipe cowo2 iseng apalagi sampe niat poligami ya *ketok2 jidat*. Nyunatnya sekalian pake piso karatan aja gimana Ra? kejem kejem dah ah hahaha

Leave a Reply









Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.