Inilah dia 3 generasi cewek-cewek lucu dan imut ;)). Foto yang diambil *kalau gak salah* Lebaran 2 tahun yang lalu waktu kita lagi sholat Ied. Ada Mama, Laras dan saya, cantik-cantik kan? kan? kan? :D. 3 generasi yang berbeda jarak usianya, berbeda kepribadiaannya, tapi satu yang sama di antara kami, sama-sama galak :))

Melihat foto itu selalu bikin saya terharu, bahagia dan bersyukur banget, saya masih diberi umur panjang untuk bisa berkumpul dengan orang-orang yang sangat saya sayangi melebihi apapun di dunia ini. Mama dan Laras adalah orang-orang yang paling dekat di hati saya. Gimana enggak coba,  9 bulan saya di dalam rahim Mama, mendengarkan detak jantungnya yang merdu, dan menerima kasih sayangnya sejak di dalam kandungan sampai sekarang. Begitu juga Laras, 9 bulan di dalam rahim saya, berbagi makanan untuk tumbuh dan berbagi udara untuk bernafas. Laras bisa mendengar detak jantung saya, saya pun bisa merasakan detak jantung dan tiap gerakan Laras. Saya adalah darah daging dan nyawa Mama, Laras juga begitu buat saya. Hebat dan ajaib ya peristiwa itu?

Mama dan Laras adalah inspirasi saya, dari merekalah saya banyak belajar. Mereka yang selalu menganggap saya yang sangat tidak sempurna ini, bisa menjadi terlihat tanpa cela . Mereka juga sumber kekuatan dan semangat saya. Saya bisa bahagia hanya dengan melihat Mama dan Laras tersenyum atau tertawa, tapi saya juga sangat sedih saat mereka menangis atau sedang sakit. Saya bisa hidup dan bisa jadi sampai sekarang ini ya karena doa dan ridho Mama, kalau Mama gak pernah ridho, bagaimana mungkin Allah SWT akan memberikan banyak nikmat yang tak terhingga untuk saya.

Mama mengajarkan banyak hal kepada saya lewat jalan hidup berliku yang dilaluinya. Memang setiap manusia tidak ada yang perjalanan hidupnya mulus dan lurus, tapi saya tahu, Mama menjalani hidupnya penuh dengan darah dan airmata. Sering kali kaki jadi kepala, kepala jadi kakinya. Jatuh bangun bukan hanya sekali untuk Mama, tapi bisa berkali-kali, dan sampai saat ini pun Mama masih diberi cobaan yang saya bilang sangat besar. Saya pun gak yakin, saya bisa melewatinya seandainya cobaan itu menimpa saya. Tapi Mama tetap tegar, walaupun berlinang airmata tiap curhat ke saya, tapi saya yakin justru tiap tetes airmata itulah yang jadi kekuatan Mama.

Mama termasuk keras dan disiplin dalam mendidik anak-anaknya, mungkin karena terinspirasi dari kebiasaan Eyang dalam mendidik Mama, ditambah Mama juga harus memerankan sosok Ayah buat kami. Mama bukanlah tipe ibu yang suka memanjakan anak-anaknya, gayanya juga to the point gak pakai basa-basi apalagi bersikap mesra ke saya dan adik. Mungkin kebiasaan saya dan suami yang suka memeluk-meluk dan menciumi Laras sekarang, jarang sekali saya rasakan dulu dari Mama. Tapi bukan berarti Mama gak pernah memeluk, membelai dan mencium ya.

Saat Mama sedang marah karena saya nakal atau mengecewakan beliau, Mama gak segan untuk menggunakan tangannya. Cubitan, pukulan, dan hukuman fisik lainnya jadi makanan saya dan adik waktu kecil dulu. Sedih sih kalau inget, tapi setelah saya punya Laras, saya jadi yakin kalau apa yang Mama lakukan dulu semata-mata karena sayang ke anak-anaknya. Dari situ juga saya jadi belajar bahwa saya sebisa mungkin gak akan begitu ke Laras, insya Allah..

Kalau dari Mama saya belajar dan mendapat teori bagaimana menjadi seorang Ibu, dengan Laras lah saya bisa mempraktekannya. Lalu, apakah saya ikut plek-plekan pakai cara Mama dulu? Jelas enggak. Tiap anak itu unik, apalagi dengan makin berubahnya jaman, saya mesti fleksibel juga. Bisa dibilang saya learning by doing selama menjadi Ibu. Begitu banyak seminar dan buku tentang ilmu Parenting, gak menjamin juga kita bisa langsung pinter dan gampang dipraktekin.

Mama yang selalu kasih contoh tentang kesabaran, tapi Laras lah yang bikin saya mau belajar beneran untuk lebih sabar. Saya yang selalu lihat Mama pantang menyerah dan gak takut menghadapi kesulitan apapun, baru berani mau dan bisa kayak Mama ya setelah saya punya Laras. Ego saya yang bisa jadi gede kalau “berantem” sama Mama yang keras, bisa saya hilangkan demi Laras. Disiplin yang saya tahu dari Mama harus dengan hukuman keras, baru dari Laras lah saya tahu bahwa disiplin itu bisa dengan kasih sayang.

Saya dan Mama jadi makin dekat juga karena Laras. Segala perbedaan dalam cara membesarkan Laras bikin kami jadi sering ngobrol dan diskusi, plus berantem kecil juga sih, tapi itu juga karena kami berdua sayang Laras.Yang positif dari Mama, saya ambil dan yang gak sesuai tetap saya jadikan pelajaran.

Mama, doain Rini terus ya, biar saya bisa sabar dan kuat kayak Mama. Doain Laras juga…

Laras, doain Eyang ya, biar sehat terus, doain Mamah juga biar bisa kayak Eyang…

Selamat Hari Ibu Mama…

 

 

 

Leave a Reply









Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.