Sudah hampir 3 minggu sejak tanggal 3 Februari 2011 lalu, Laras bebas nenen dan berhasil di sapih..yaayy *jijingkrakan*. Akhirnya menjelang ulang tahun yang ke 3, berhasil juga aku menguatkan tekad dan niat untuk mulai menyapih Laras. Sebelumnya udah kepikiran untuk menyapihnya sejak lama, bahkan sejak Laras ultah ke 2. Tp entah kenapa rasanya belum tega dan masih menikmati masa-masa indah menyusui. Sebenernya ada rasa egois juga di hati, kepikiran kalau menyapih Laras pasti bakal mengurangi waktu tidurku karena pasti Laras jadi susah bobok :D.

Setelah berkonsultasi dengan teman-teman yang sudah punya pengalaman menyapih, khususnya pengalaman mak Ira yang sudah duluan berhasil menyapih Nadira, aku mulai berani untuk mencoba. Mak Ira juga menyarankan mulai menyapih di waktu aku libur kerja atau ambil cuti sekalian, jadi kalaupun terganggu jam tidurnya, aku gak bakalan ngantuk atau kecapekan. Makasi banget ya mak Iraaaaa :*. Akhirnya, aku mulai melaksanakan misi itu tanggal 3 Februari tepat di hari libur Imlek.

Sebenarnya, Laras sejak umur 2 tahun lebih sudah berkurang frekuensi menyusunya. Laras menyusu hanya waktu mau bobok saja, bobok siang saat aku tidak bekerja dan malam. Selain itu sudah bisa minum susu UHT di gelas atau susu kotak UHT yang kecil. Sebelum ulang tahun ke 2, Laras sudah aku “doktrin”, aku selalu bilang kalau Laras sudah besar, bukan bayi lagi, seharusnya Laras gak nenen lagi. Tapi doktrin itu selalu di “bantah” Laras dan dia selalu bilang kalau Laras masih bayi :)). Dikarenakan anak dan mamahnya belum siap lahir bathin, jadinya gatot deh misi menyapih sejak tahun lalu hehehe.

Dengan berkurangnya frekuensi menyusu Laras, aku jadi berpikir sebenarnya mungkin Laras sudah siap, dia hanya ingin lama bermanja-manja saja ke mamahnya, merasakan didekap dan dibelai rambutnya. Jadi tinggal akunya yang harus menyiapkan mental, karena memang proses menyapih dengan cinta atau weaning with love itu butuh kesiapan dari si ibu dan si anak. Aku ingin masa menyusui itu jadi kenangan indah buat aku dan Laras, bukan masa yang menimbulkan trauma di memori Laras.

Proses menyapih dimulai saat Laras mau bobok siang, waktu itu dia sudah siap-siap posisi dan minta nenen ke aku. Aku sudah bilang sejak pagi kalau siang dan nanti malamnya, Laras bobok gak pakai nenen. Dianya sih menanggapi dengan ketawa-tawa, dikiranya aku bercanda jadi dianya juga iya-iya aja. Laras bisa melewati bobok siang hari itu tanpa nenen walaupun butuh waktu lama, dia gak banyak protes, mungkin karena sudah terbiasa bobok siang sendiri saat aku tinggal kerja. Tapi malam harinya itu yang lumayan bikin aku juga ikutan nahan diri buat mewek. Waktu aku bilang Laras gak nenen, Laras langsung protes, merayu aku sekuat tenaga, narikin bajuku, gelisah, dan nangis sampai ngambek. Aku berusaha tetap tenang, sabar dan memberi pengertian. Aku juga menawarkan membelai rambutnya, memeluk dan menepuk pantatnya, istilahku pok-pok pantat. Laras masih saja gak mau dan terus nangis sampai akhirnya menyerah minta di pok-pok, lama kelamaan dia tertidur juga. Begitu Laras bobok, aku langsung merasa sedih mau nangis, rasanya kasihan sekali gak tega bener ke Laras.

Malam penuh rengekan, rayuan, ambekan berlangsung sampai 5 hari. Untungnya gak terlalu pengaruh ke porsi tidurku dan Laras. Kalau Laras malam-malam ngelilir minta nen juga gak terlalu susah untuk dia bobok lagi. Semakin hari Laras sudah mulai terbiasa, jadi mulai ada kebiasaan baru sebelum bobok selain berdoa, Laras biasanya minta dibacain buku cerita, dinyanyiin lagu anak yang dia sesuai list dari dia,  sampai minta dipeluk, dibelai rambutnya dan di pok-pok pantatnya. Oiya satu lagi kebiasaanya sekarang adalah pegang nen ;)). Dalam seminggu pertama memang masih butuh waktu untuk bisa bobok, biasanya kalo mulutnya nempel nen, gak sampai 15 menit langsung nyenyak boboknya. Tanpa nen butuh waktu setengah jam sampai satu jam baru bisa bobok, mungkin karena masih masa transisi jadi Laras agak gelisah. Masuk minggu ke 2 sampai sekarang sudah mulai agak cepet boboknya, tapi kadang itupun mesti dibilangin untuk cepet bobok, kemajuannya Laras sudah gak minta nenen lagi. Kalau memang sudah ngantuk sekali, hanya dengan dipeluk atau elus-elus, Laras langsung bisa bobok.

Alhamdulillah banget, sekarang sudah lega rasanya. Ternyata tidak seseram atau sesulit yang aku bayangkan. Kerja sama yang baik sudah ditunjukan oleh Laras selama hampir 3 minggu ini. Kadang Laras masih mencoba merayu atau gak sadar pas ngelilir, dia minta nen. Tapi gak pake nangis lagi dan cepet bisa diberi pengertian. Agar Laras tidak merasa sedih, sesuai dengan saran dari teman atau artikel yang pernah aku baca, sekarang aku makin sering memeluk, membelai, menciumnya. Hal itu menunjukan bahwa biarpun Laras sudah tidak menyusu lagi, tapi Laras masih bisa bermanja-manja dan mamahnya tetap sayang ke Laras. Jujur aku jadi berasa kehilangan juga moment indah itu.

Tinggal masalah yang harus aku hadapi sekarang adalah payudara yang agak nyeri dan berasa bengkak setelah proses menyapih ini. Untuk mengatasinya, aku coba rajin kompres dengan menggunakan air hangat dan air dingin sambil di massage, rasanya agak mendingan setelah di kompres.

Selesai sudah tugasku menyusui Laras, sekarang tinggal menyusui papahnya ilmu yang aku punya tentang breasfeeding tinggal aku terapkan untuk adiknya Laras nanti juga ke teman-teman yang membutuhkan. Semoga “modal” yang aku berikan untuk Laras di hampir 3 tahun kehidupannya, bisa jadi investasi jangka panjang untuk Laras. Amin

    2 Responses

  • nYam says...

    selamat selamat…..itu bukan S3 lagi yah Mbak :D

  • R33n3e says...

    makasi makasi..hai hai Niam dah lama nih tak bertegur sapa..
    gak tau deh tuh S apaan hehehe … gmn kabar Ankaa?

Leave a Reply









Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.