Akhir bulan Mei lalu, saya dan mas Dicky datang ke klinik pribadinya dr. Achmad Mediana SPOG karena kangen dengan maksud untuk konsultasi. Beliau adalah dokter yang bantuin saya waktu melahirkan Laras 7 tahun lalu, dan terakhir kali ketemu adalah waktu saya melakukan papsmear dan pernah konsultasi tentang perut saya suka kram di luar masa haid.

Kedatangan kami kali ini, adalah untuk memeriksakan kondisi masing-masing, apakah cukup sehat dan baik untuk bisa menjalani program hamil lagi. Dan, ternyata pergi ke dokter kandungan saat kita gak hamil pun, rasanya bikin perut agak geli seperti ada kupu-kupunya, loh. Agak-agak tegang, gimana gitu. Jujur, terintimidasi juga dengan pemandangan ibu-ibu hamil, ikut seneng, tapi juga ada kuatirnya.

Masuk ruangan dr Achmad, rasanya seperti dejavu 7 tahun lalu, cuman beda tempat aja. Beliau masih aja dengan gayanya yang sama, ramah, santai, komunikatif, optimis, dan selalu bisa bikin pasiennya tenang dan nyaman. Plus, kayaknya beliau gak nambah tua deh. Kalau lihat foto-foto yang dipasang di kliniknya, beliau mungkin semacam highlander.

Ok, kembali ke laptop..

Pertama kali yang beliau tanyakan ke kami, “Bapak, Ibu, sekarang sehat?”. Setelah kami jawab sehat, beliau menerangkan kalau kami ingin menjalani program, kami berdua harus dalam kondisi sehat, tidak dalam pengobatan sakit tertentu, apalagi yang berat, dan harus mengurangi stress.

Setelah rahim saya di cek dengan USG, Alhamdulillah banget menurut beliau, rahim saya bersih, bebas miom & kista, hanya bentuknya saja terbalik. Kami disarankan untuk melakukan pemeriksaan lab analisa sperma untuk suami dan rontgen HSG untuk istri. Pada hari ke 13 setelah haid, kami diminta datang lagi dengan membawa hasilnya.

Saat itu, saya sedang haid. Saya ingat, pesan beliau waktu terakhir ketemu, kalau saya ingin program hamil lagi, saya bisa datang konsultasi pas saya sedang haid. Ternyata, pakai perhitungan juga ya, termasuk pemeriksaan yang harus dijalankan.

PR selanjutnya adalah menentukan waktu dan mencari tempat periksa. Setelah cari-cari info dan telpon 2 rumah sakit & 1 lab prodia, kami melakukan semua pemeriksaan di RS Mitra Keluarga Bekasi Barat. Waktunya yang paling pas, bisa dilakukan di saat wiken, dan tempatnya juga gak jauh-jauh amat.

Ternyata, untuk melakukan tes analisa sperma, ada syaratnya juga. Kirain bisa langsung dateng ke lab, kayak mau periksa darah rutin (kebanyakan nonton film en baca novel). Apa aja syarat dan persiapannya, bisa dilihat berikut ini :

  • Suami harus dalam keadaan fit, sehat, dan tidak capek.
  • Tidak mengeluarkan sperma, baik berhubungan badan, mimpi, atau swadaya, 3-5 hari sebelumnya.

Kalau teknisnya, ya seperti kayak cerita di film atau novel itu deh, dikasih gambar – gambar & film :). Hasil pemeriksaan bisa diambil sore harinya.

Untuk pemeriksaan rontgen HSG, nah.. ini saya sempet sotoy. Saya pede banget kalau prosesnya bakal kayak rontgen biasa aja, “aaah.. timbang di foto aja perut gw”. Ternyata, waktu saya lagi survey tempat & biaya, petugas radiologi menyebutkan biaya rontgen yaitu sekitar 1,2 jt *yups, mihil bingits :(*, belum termasuk obat anti nyeri.

Waks, kok pakai obat anti nyeri segala ?!?! Refleks tanya ke si mas radiologi, “pake obat segala mas? Emang sakit ya, mas?”. Gak salah juga sih, kalau si masnya sampai speechless, mungkin dalam hati dia bilang “meneketehe, Bu!!”

Karena penasaran, langsung tanya mbah gugel tentang prosedur rontgen HSG. Dikasih link blog sama temen kantor, yang asli bikin parno dan langsung berasa pengen mundur aja. Dramatis banget itu si ibu yang cerita tentang pengalamannya, sampai pingsan segala. Saya yang emang cemen ama rasa sakit, jiper banget rasanya huhuhu.

Alhamdulillah, akal sehat masih bekerja, saya baca – baca blog lain yang gak sedramatis blog sebelumnya. Saya pun bisa bernafas lega dan bertekad tetep maju jalan pantang mundur, biarpun semua ibu yang pernah melakukan bilang, prosesnya emang sakit. At least, rasanya kayak mules hari pertama haid. Ok, i think i can handle it.

Persiapan yang harus saya lakukan sebelum rontgen HSG, menurut petugas radiologi, adalah :

  • Rontgen HSG dilakukan pada hari ke 9 – 11 setelah hari pertama haid
  • Tidak dalam keadaan hamil (nanti akan diminta untuk tanda tangan surat pernyataan)
  • Puasa berhubungan badan
  • Sudah dalam kondisi perut kenyang / sudah makan. (prosesnya lama bok, ini pengalaman saya waktu nunggu prosesnya). Mana ruangannya dingin pulak, jadi kalau perut lapar, pasti bakal gak enak banget.

Sedangkan prosedur yang saya lakukan di RS MKB, waktu melakukan rontgen HSG adalah :

  • Bikin perjanjian dulu dengan dokter radiologinya. Hari ke 9 saya, kebetulan waktu itu jatuh di hari Minggu. Alhamdulillah, di RS MKB bisa melayani pasien radiologi untuk hari libur.
  • Memberikan surat pengantar dari dokter asal yang merekomendasikan rontgen HSG ke petugas radiologi.
  • Bayar biaya pemeriksaan di kasir, dan bukti pembayaran diserahkan lagi ke petugas radiologi. Tunggu dipanggil.
  • Saat dipanggil, saya dikasih obat anti nyeri yang harus dimasukkan via anus. Cukup stres saat prosesnya, karena seumur-umur baru kali itu dilakukan. Atas saran petugasnya, saya minta bantuan mas Dicky. Kenapa juga perawatnya gak bantuin, sik :|. Nunggu lagi kira-kira ½ jam, entah karena nunggu biar obatnya bekerja atau emang ada antrian pasien.
  • Panggilan kedua, saya diminta masuk ruangan eksekusi radiologi, disuruh ganti baju pakai baju khusus yang sudah disiapkan. Semua baju, perhiasan, peniti, jepit, bros harus dicopot semua. Lalu saya disuruh menunggu dulu sambil duduk di kursi.
  • Saya diminta untuk tanda tangan surat pernyataan persetujuan tindakan atas kemauan sendiri dan keterangan kalau saya tidak hamil. Terus saya disuruh nunggu dokternya, yang datangnya lama beneeeeer. Berasa creepy juga ditinggal di ruangan itu, ditambah tegang bayangin sakit yang gak ketebak rasanya. Banyak doa aja deh, biar dikasih kemudahan dan kelancaran.
  • Dokter spesialis radiologi datang dan meminta saya tidur di meja radiologi dengan posisi ngengkes seperti mau melahirkan. Alhamdulillah, dokternya cewek, jadi agak tenang dan gak begitu malu amat. Dokternya bilang saya harus relaks biar prosesnya gampang dan dia bilang juga kalau nanti rasanya kayak orang lagi haid.
  • Dokter mulai pasang alat yang dipasang di vagina, mungkin sama alatnya kayak alat yang dipakai kalau ibu – ibu mau pasang spiral KB *cerita temen yg pasang spiral*. Langsung inget cerita Indah. Area itu lalu dibersihkan.
  • Kateter mulai dimasukan ke mulut rahim, dan rasanya aduhai sekali, sulit diungkapkan *mulai dramatis*. Setelah itu, mulai disuntik cairan kontras, cairan itu yang nantinya akan memenuhi rahim dan saluran indung telur / tuba fallopi.
  • Proses foto dilakukan. Setiap mulai akan foto, saya disuruh tarik nafas dan tahan sebentar, lalu hembuskan lagi. Kira-kira 3 – 4x foto, lalu kateter dilepas. Legaaaaaa…
  • Saya disuruh istirahat dulu tiduran kira-kira 5 menit, lalu diminta pipis dan bersih-bersih kemudian tiduran lagi. Ternyata masih ada 1x foto lagi. Dan, selesai juga akhirnya, pemeriksaan yang lumayan horor buat saya itu.
  • Hasilnya langsung bisa diambil 1 jam kemudian.

Sesuai dengan tanggal yang diminta dr. Achmad, kami datang membawa hasil semua pemeriksaan yang dilakukan. Kesimpulan, kami berdua dalam kondisi baik dan sehat, Alhamdulillah. Saya diresepin obat penyubur dan mas Dicky diminta banyak olahraga renang untuk mendinginkan badan yang panas, salah satu efek dari seharian kerja di depan komputer, banyak monitor, peralatan server yang radiasinya cukup tinggi. Saran dari dr Achmad, pokoknya kami harus hidup sehat, makan makanan yang sehat, olahraga teratur, paling tidak 3x seminggu, no alkohol, no rokok aktif/pasif, tidak stres, dan yang paling sulit adalah harus bebas kopi/kafein.

Mudah-mudahan segala doa dan ikhtiar ini, membuahkan hasil, ya. Rejeki, umur dan jodoh semua Alloh SWT yang mengatur. Yang penting kita harus terus berusaha dan banyak berdoa. Kalau memang,  kami masih dikasih kepercayaan mengemban amanah-Nya, pasti Alloh akan kasih. Percaya saja, semua akan indah pada waktunya. Aamiiiin

Leave a Reply









Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.