>Dari dulu gw sering denger byk yang bilang kalo rejeki bakal makin lancar datengnya kalo kita nikah. Karena dengan nikah akan ngelebarin pintu rejeki, niatnya baik buat ibadah, maka rejeki & rahmat Allah juga makin melimpah. Sempet seh gw ga percaya slogan2 tersebut, apalagi waktu gw masih kuliah. Padahal banyak lho temen2 kul gw yang nikah sewaktu masih di bangku kuliah. Ya gw dulu gw pikir, gw realistis aja..klo blm punya penghasilan tetap, gimana mo menghidupi keluarga. Ato mgkn bisa jadi karena ketakutan2 gw yang berasal dari bisikan setan jg seh. Tapi setelah gw tanya atopun ngeliat sendiri orang2 terdekat gw such as temen2 gw itu, gw baru percaya apa yang dibilang itu. Walopun mgkn ada kesusahan selama berumah tangga, tapi toh selalu ada jalan. Lagian itu kan emang janji Allah buat kita umatnya, setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan asal kita bersabar. Dan temen2 gw jg sering cerita, emang bener lho rejeki buat mereka yang dah nikah itu apalagi yang terus punya anak..Subhanallah…terus dateng, bahkan sering dateng dari sumber yang ga kita duga. Ya Allah, Engkau memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. So, insya Allah gw berusaha untuk ga takut lagi, toh gw memang harus percaya ama Allah, kalo gw takut/ragu, berarti gw ga percaya donk ama Allah. Trs kemana aja nih gw, yang katanya gw ngaku beriman ama Allah :). Makanya bener juga doanya khususnya doa sholat Dhuha…sebagian isi doanya itu “Ya Allah berikanlah kami rejekimu, jika rejeki kami masih diatas langit, turunkanlah. Jika masih di dalam bumi, keluarkanlah. Jika masih jauh, dekatkanlah. Jika masih haram, sucikanlah”. Mesti sering2 baca doa ini neh (bukan maksud ngajarin, cmn menyampaikan walo hanya 1 ayat :D), kalo kita emang kepengen selalu dapet rejeki yang barokah & rahmat Allah SWT. Amiiinnn

Ridzki Setelah Nikah

Oleh : Ilyasa Bustomi

“Ridzki adalah salah satu faktor yang paling banyak menjadi polemik, sebelum maupun setelah pernikahan. Faktor ridzki ini tak henti-hentinya menjadi pokok bahasan dalam, menjelang dan disaat kita mengarungi pernikahan.”

Ridzki adalah salah satu faktor yang paling banyak menjadi polemik, sebelum maupun setelah pernikahan. Faktor ridzki ini tak henti-hentinya menjadi pokok bahasan dalam, menjelang dan disaat kita mengarungi pernikahan. Waktu lamaran atau khitbah misalnya, kerap kali seorang pria ditanyai calon mertua dengan pertanyaan : sudah kerja atau belum ? kerja di mana ?, semata-mata karena kerja ada kaitannya dengan ridzki, dalam pengertian : ridzki material untuk menghidupi keluarga (suami, istri dan anak).

Mengenai jumlah material yang bakal didapat seseorang ketika dia telah menikahpun masih banyak perbedaan pendapat. Ada yang berkata : ridzki material seseorang yang menikah akan berkurang, mengingat jatah dirinya harus dibagi tiga- untuk diri, pasangan dan untuk anak-anaknya. Ada yang berkata : ridzki material seseorang yang menikah akan bertambah, mengingat ridzki dari diri, pasangan dan anak semuanya berkumpul dalam wadah yang bernama keluarga. Pendapat kedua yang lebih optimistik ini berpangkal dari asumsi, masing-masing orang sudah dikaruniai ridzki dari Allah, sehingga ridzki itu berkumpul dalam suatu wadah, yaitu keluarga. Tambah optimis mereka yang memegang prinsip kedua ini, ketika pasangan suami-istri dikaruniai kelahiran seorang anak. Sudah ada ridzki suami, ridzki istri, ditambah lagi ridzkinya seorang anak. “Banyak anak banyak ridzki,” bisa berlaku pula teratas mereka yang percaya dengan prinsip yang disebut ke-2 ini.

Bila diminta memihak, maka penulis tentu akan berpihak pada pendapat ke-2, kendati secara logika pendapat pertama tidak sama sekali salah. Pendapat pertama bisa menjadi suatu kebenaran, dengan syarat : pencari nafkah tidak optimal dalam ikhtiar, sedang penerima nafkah tidak mampu mengalokasikan pendapatan secara hemat dan benar. Atau jangan-jangan, pihak yang bertanggungjawab mencari nafkah belum atau tidak mampu mencari nafkah, bagi pemenuhan kebutuhan dan stabilitas ekonomi keluarganya.

Optimisme yang mengemuka dalam pendapat pertama bisa juga menjadi buyar, ketika optimisme tidak didukung oleh maksimalisasi potensi ikhtiar, serta azas penghematan dalam pengelolaan anggaran keluarga. Pameo “banyak anak banyak ridzki” bisa tidak berlaku lagi, berganti dengan pameo : “banyak anak banyak beban.” Hemat penulis, fenomena inilah yang banyak terjadi di negara ini. Dengan faktor penyebab yang ditengarai : pernikahan dini, entah karena “married by accident” atau dalih ingin lekas menunaikan perintah agama, tanpa mengukur kemampuan dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi pasca pernikahan. Itulah sebabnya, untuk mencegah hal tersebut, Ibrahim Amini, seorang cendekiawan Islam meletakkan pekerjaan tetap atau stabil sebagai syarat bagi laki-laki, yang berniat menyunting seorang wanita.

KH Miftah Faridl, salah seorang ulama terkemuka Jawa Barat juga mendukung pendapat kedua, yang menganggap bahwa pernikahan adalah pembuka pintu ridzki. Membaca uraian beliau dalam buku 150 Masalah Nikah & Keluarga bisa diinsyafi bahwa, kalau seseorang menikah maka dia akan memperoleh ridzki untuk dirinya dan untuk teman hidupnya. Dengan menikah diharapkan, ridzki bertambah dengan salah satu sebab, penyaluran pembiayaan hidup yang lebih baik, dan pengelolaan pembiayaan hidup diatas azas penghematan. Pendapat beliau menjawab pertanyaan penulis tentang : mengapa seorang kawan yang masih membujang dan bekerja di perusahaan mentereng, sering mengeluh kekurangan uang. Partner yang handal dalam mengelola ridzki tak pelak menjadi pertimbangan penting, yang harus dipikirkan seseorang ketika ia memilih pasangan hidup. Kurang-cukupnya ridzki dalam sebuah keluarga akhirnya tidak ditentukan oleh jumlah material, melainkan ditentukan oleh kehandalan dan kemampuan manajerial pasangan pernikahan dalam mengatur cash flow rumahtangga.

Leave a Reply









Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.