>“Maaf, mas yang td di angkot kan?”
“Eh..iya”
“Lho..anak kampus sini ternyata? Elektro juga?”
“Hehe..iya nih”
“Ikutan kelasnya pak Din juga ya?”
“Eh..iya”
“Baru ngambil semester ini?”
“Hmm..baru kok”
“Ow…kita seangkatan kali ya? Elu pasti dari kelas B ya?”
“Hmmm..iya…”
“Ow. Eh..sekali lagi sorry ya yang tadi. Gw bener-bener gak sengaja. Tangannya gak papa kan?”
“Eh..gak papa kok. Gak papa lagi”
“Duh, gw bener-bener gak enak en malu sama elu. Eh ga taunya kita malah sekelas ya”
“Hehehe,,iya. Gak papa kok, dah mendingan..hhmm..tangannya”
“Syukur deh kalo gitu”

Itulah kali kedua aku terlibat pembicaraan dengannya setelah peristiwa yang hampir merenggut nyawa jari-jari tanganku. Peristiwa dimana jari tanganku terjepit pintu angkot kira-kira 6 bulan yang lalu.

Setiap hari aku berangkat ke kampus naik angkot, dan seperti biasa angkot yang mengarah ke kampusku penuh dengan penumpang yang akan menuju tempat kerja atau sekolah mereka. Tapi pak supir sepertinya gak peduli kalo para penumpang udah berjejalan, angkot tetap saja berhenti dan mengangkut penumpang yang ingin naik, kejar setoran istilahnya mumpung lagi peak season. Begitu pula dengan aku, karena pagi ini aku terlambat bangun pagi, maka aku pun dikejar waktu untuk masuk kelas jam pertama dimana sang dosen sangat tegas soal waktu. Beliau pun tidak segan untuk mengirim mahasiswanya yang terlambat untuk keluar dari kelas. Berhubung faktor absen sangat berpengaruh pada kelulusan mata kuliah tersebut, maka aku memutuskan untuk naik angkot yang pertama lewat meskipun penuh dan mesti bergelantungan di pintu samping angkot. Aku menggigil karena harus menahan angin dingin pagi hari yang terus menerpa wajahku, tapi aku juga pantang untuk turun lagi. Aku makin kuat mencari pegangan karena pak supir agak – agak menggunakan kecepatan tinggi. Angkot itupun sempat beberapa kali berhenti untuk menurunkan ataupun menaikkan penumpang. Dan ketika beberapa meter lagi untuk sampai di kampusku, angkot pun berhenti (lagi) karena ada penumpang yang duduk di sebelah pak supir turun di tempat tujuannya. Dan kemudian…

“Brak”
“Wadaaaaaaauuuwwww”

Seketika itu juga aku merasa jari – jari tangan kiriku seperti dihantam dahsyat oleh batu besar yang beratnya mungkin lebih dari 10 kg. Aku terus berteriak-teriak sambil loncat-loncat di pinggir jlan, untung saja pak supir belum tancap gas waktu aku terkejut karena tanganku terhantam pintu angkot. Kalo iya, mungkin aku sudah terjatuh mencium aspal jalan karena dengan spontannya aku langsung loncat dari angkot tersebut. Sambil terus memegangi tanganku yang terasa panas dan senut-senut, aku mulai tersadar dan berhenti berteriak karena semua penumpang tampak memandangiku dengan pandangan kasian dan sebagian lagi tersenyum geli.

“Aduh..mm..mmaaf mas. Duh..sorry..sorry ya mas. Tangannya gak papa kan? Ada yang berdarah gak?”

Terdengar suara bernada gemetar yang berasal dari gadis yang berdiri disebelahku. Dalam hati aku ingin sekali marah-marah,

“Ya jelas aja tangan gw kenapa-kenapa. Gara-gara elu nutup pintu pake tenaga kuli, jari tangan gw deh jadi korban. Gak bisa liat apa kalo tangan gw merah semua gini??”
“Maaf banget ya mas, saya bener-bener ga sengaja. Saya gak tau kalo tangan mas ada di pintu.”
“Ya biarpun lu ga tau, tapi bisa pelan-pelan donk nutup pintunya. Eh tapi elu bener seh, secara kalo pintu angkot mesti pake tenaga kalo nutupnya”.

Aku tersadar juga kenapa gadis ini menutup keras pintu angkot tersebut. Sebagai penumpang angkot yang berpengalaman, tidak mungkin dia menutup pintu seperti ketika menutup pintu Merci atau BMW.

“Mas..mas..maaf..maaf ya”

Akhirnya aku memalingkan pandanganku yang sebelumnya masih serius meratapi nasib keempat jari tanganku yang meskipun tidak lentik dan agak bantet ke wajahnya. Tampak oleh ku sosok gadis yang ku kenal, dia tampak sangat terkejut, gemetar dan merasa bersalah atas kejadian barusan. Dia terus berusaha ingin memegang tanganku juga untuk memeriksa keadaannya dan memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaannya.

Melihat sosok yang ku kenal tersebut, aku langsung tersadar dan segera melepaskan tanganku dari tangannya. Seketika rasa sakit itu berkurang bahkan perlahan menghilang, berganti dengan rasa salah tingkah dan kagum oleh kecantikan yang terpancar dari wajahnya.

“Hmm..hmm..gak papa kok. Ntar juga ilang sendiri sakitnya”. Sambil meringis aku berusaha untuk tersenyum dan menghilangkan kesan kesakitan.
“Bener mas?”
“I..iya..kok mbak”
“Sekali lagi maaf ya mas.”
“Iya mbak..gak papa kok”.

“Woy, mau naek lagi gak mas?”. Pak Supir mengembalikan kesadaranku yang sempat hilang. Ternyata pak supir angkot dan para penumpang sudah tidak sabar menunggu aku.
“Eh..iya bang.”

Angkot pun meluncur kembali menuju kampusku, aku sempat melirik ke arah gadis itu. Dia pun masih memandang ke arah angkot yang aku tumpangi sambil terus menepuk kepalanya dan tanpa sadar aku tersenyum.

Setelah peristiwa tersebut, perasaan yang terpendam selama 3 semester ini makin menjadi. Sosoknya makin terus lekat dikepalaku, senyum manisnya, gaya dia berjalan serta berbicara selalu mengganggu hari-hariku di kampus. Memang sudah lama aku memendam perasaan terhadapnya, sejak awal aku masuk kampus ini aku telah kagum pada dirinya. Tidak ada yang tahu tentang perasaanku ini, tidak juga teman-teman dekatku di kampus.

Ternyata kami memang satu angkatan dan satu jurusan, hanya saja kami berbeda kelas. Di awal tahun pertama, kami mahasiswa jurusan Elektro dibagi menjadi 2 kelas. Kebanyakan untuk mata kuliah yang sama, kelas kami berbeda jadwal hari maupun jam, ada juga yang berbeda dosen. Dan baru mulai semester 3, kami bisa bebas memilih jadwal maupun dosen yang sesuai dengan keinginan kami. Aku selalu melihatnya ketika usai jam kuliah, sama-sama menunggu dosen masuk, waktu ujian atau di saat kantin. Tanpa disangka kami sekelas untuk mata kuliah Statistik semester ini.

Kami pun berkenalan, kami menjadi dekat karena mungkin awalnya dia masih merasa bersalah atas peristiwa angkot berdarah itu. Fani, kini nama itu selalu terngiang ditelingaku sekarang, tapi entah kenapa aku tidak dapat menyatakan isi hati ku padanya hingga saat ini. Setiap dekat dengannya, lidahku jadi berasa kaku. Jangankan menyatakan isi hati, untuk memulai percakapan saja, sangat membutuhkan keberanian dan kerja keras. Aku pun tidak yakin dia punya perasaan yang sama, yang aku liat sikapnya padaku tidak lebih dari sikap seorang teman biasa.

Bersambung….

Leave a Reply









Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.